Selasa, 12 Desember 2017

Menelisik Asal-Usul Pesugihan Gunung Kawi

Gunung Kawi termasuk lokasi pesugihan paling populer di Indonesia dan Asia Tenggara. Meskipun belum ada data valid seputar orang yang berhasil kaya setelah melakukan ritual pesugihan di sana ataupun orang yang gagal menjadi kaya setelah ritual.Persoalan lainnya adalah ada orang-orang yang bertindak seolah-olah membantu melancarkan urusan Anda di Gunung Kawi, tetapi malah berakibat menguras uang Anda. Khususnya terkait biaya selametan, ubo rampe dan sebagainya.
Dalam hal ini, dibutuhkan kehati-hatian untuk mereka yang datang dengan tujuan ritual. Jika Anda berkunjung sebagai seorang wisatawan yang hendak menikmati keindahan panorama Gunung Kawi, tentu tidak menjadi masalah.
Di sisi lain, daun dewandaru yang menjadi harapan diri ingin kaya, juga sering menjadi permainan orang tertentu. Daun itu sengaja dilemparkan orang hingga menjadi rebutan. Jadi bukan daun yang jatuh dari pohon. Informasi ini saya dapatkan dari orang yang pernah berziarah ke Gunung Kawi.
Sesuatu yang mungkin sudah difahami bagi orang yang berziarah ke Gunung Kawi adalah adanya sebuah Padepokan yang menjadi rumah tinggal Eyang Jugo semasa hidupnya. Padepokan itu terletak di desa Jugo, Kesamben, Blitar.
Ada banyak orang yang mengetahui Padepokan Eyang Jugo ini, namun tidak banyak peziarah yang mengunjunginya.
Dengan kata lain, para peziarah Gunung Kawi, khususnya yang bertujuan mencari pesugihan, tidak serta merta mengunjungi padepokan ini di Blitar. Melainkan langsung menuju makam keramat Eyang Jugo di Gunung Kawi, Malang.
Inilah yang kemudian menjadi problematika tersendiri bagi peziarah yang datang langsung ke Gunung Kawi tanpa menyempatkan diri mengunjungi Padepokan Eyang Jugo.
Sementara itu, bagi para peziarah yang pernah datang ke Padepokan Eyang Jugo justru mengaku merasa lebih mantap saat berziarah ke Gunung Kawi. Terutama menyangkut tata cara dan prasyarat ritual yang harus dipenuhi.
Betapa tidak, ada banyak cerita seputar peziarah yang kehabisan bekal hingga tidak dapat pulang ke daerahnya masing-masing. Hal ini tentu sangat menyedihkan. Semua itu terjadi disebabkan orang tersebut tidak mengetahui banyaknya calo yang menjerat dirinya dengan biaya selametan yang besar dan tidak masuk akal.
Bahkan yang lebih menyedihkan adalah upaya orang-orang tertentu yang dengan sengaja mengambil keuntungan dengan cara yang tidak wajar.
Ambil contoh, adanya prasyarat hewan kambing kendit (hitam) yang di tumbalkan secara hidup-hidup. Maksudnya, seorang peziarah Gunung Kawi yang ingin mengikuti ritual pesugihan diharuskan membeli seekor kambing kendit untuk kemudian dilepas dalam keadaan hidup ke arah hutan.
Pada kenyataannya, kambing kendit tersebut disemir cat warna hitam lalu dilepas ke hutan. Jadi bukan asli kambing berwarna hitam. Ketika kambing itu dilepas ke hutan, tentu tidak berapa lama kemudian akan kembali ke kandangnya atau diambil kembali oleh pemilik kambing tersebut.
Harga hewan tersebut ada yang mencapai puluhan juta rupiah per ekornya. Di atas harga pasaran yang umum berlaku.
Daun Dewandaru
Menjadi kaya berarti harus kejatuhan daun dewandaru. Jika tidak kejatuhan daun dewandaru, maka Anda tidak akan pernah menjadi kaya. Inilah salah satu mitos penting di Gunung Kawi.
Daun dewandaru berasal dari pohon dewandaru. Di Gunung Kawi, daun ini menjadi harapan seseorang yang ingin kaya. Dikisahkan, apabila seseorang tirakat di bawah pohon dewandaru dan kejatuhan daun dewandaru, maka dapat dipastikan dirinya akan kaya raya. Inilah mitos yang sudah berurat akar bagi para peziarah dengan tujuan pesugihan.
Akan tetapi, tidak semua orang kejatuhan daun dewandaru tersebut. Padahal mereka sudah berharap penuh kejatuhan daun tersebut. Uniknya, ada orang-orang tertentu yang dengan sengaja melemparkan daun tersebut hingga menjadi rebutan. Seolah-olah daun itu jatuh dengan sendirinya.
Meskipun demikian, saya pun mendapat cerita menarik seputar daun dewandaru ini. Seorang kerabat saya bercerita seputar keunikan kisah daun dewandaru ini.
“Saya mendapat cerita ini dari ayah saya. Kisah tentang daun dewandaru yang membuat seorang perempuan menjadi kaya raya,” kata Dipo.
Dipo menceritakan bahwa saat Ayahnya berusia remaja (sekitar akhir tahun 1960-an), memiliki seorang teman sekolah yang ekonominya tergolong kaya. Keakraban Sang Ayah dengan temannya itu (sebut saja: Sugih) membuatnya sering bermain ke rumah Sugih.
Orang tua Sugih terbilang kaya pada masanya. Selain memiliki areal persawahan yang luas, penggilingan padi dan kendaraan lebih dari satu. Padahal, pada masa itu masyarakat sedang berada dalam tingkat ekonomi yang memprihatinkan.
Suatu ketika, Sang Ayah berkunjung ke rumah Sugih dan bermain seperti biasanya. Ketika itu, orangtua Sugih berada di rumah dan sedang berbincang dengan kerabat-kerabatnya.
“Saat itu, ayah saya mendengar ibunda Sugih berbicara tentang daun dewandaru. Inilah yang membuat ayah saya tertarik dan ikut mendengarkan semua cerita ibunda Sugih,” kata Dipo.
Dikisahkan, ibunda Sugih hidup dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. Suaminya hanya petani biasa, sama seperti masyarakat lain di desanya. Karena itulah, perempuan ini pun pergi ke Gunung Kawi untuk mengadu peruntungan. Dia ingin mengikuti ritual pesugihan semata-mata demi meningkatkan ekonomi keluarganya.
Tentu saja niat mengubah nasib patut dipuji dan dihargai. Sebagaimana terjadi pada masa sekarang, ada banyak isteri yang mengadu nasib ke negeri orang menjadi Buruh Migran Indonesia (BMI).
Ibunda Sugih pun pergi ke Malang dan melakukan ritual di Gunung Kawi. Bagian penting dari ritual itu adalah tirakat di bawah pohon dewandaru. Ibunda Sugih tidak sendirian berada di bawah pohon itu. Ada banyak peziarah yang juga melakukan hal yang sama. Mereka bersama-sama duduk di bawah pohon sambil menunggu jatuhnya daun dewandaru.
Entah doa apa yang dibaca Ibunda Sugih di bawah pohon keramat itu. Tiba-tiba saja, dia merasa ada selembar daun dewandaru yang jatuh ke pundaknya. Tetapi, pada saat yang bersamaan, sejumlah orang yang berada di dekatnya pun melihat daun dewandaru itu jatuh di pundak  Ibunda Sugih.
Mereka pun berteriak,” Daun dewandaru jatuh, daun dewandaru jatuh!”
Tentu saja mereka mendekati Ibunda Sugih dan berupaya merebut daun dewandaru itu. Beberapa orang, kebanyakan kaum pria, menggeledah pakaian Ibunda Sugih untuk mendapatkannya.
Ibunda Sugih hanya bisa menangis pilu saat pria-pria rakus itu meraba tubuhnya, membuka BH secara kasar, mengangkat gaun pakaiannya. Bahkan membuka celana dalamnya hingga nyaris telanjang bulat, seolah hendak diperkosa. Memeriksa dengan teliti dimana daun dewandaru itu berada.
Tetapi upaya pria-pria rakus itu gagal mendapatkan daun dewandaru di tubuh Ibunda Sugih. Mereka pun mencari-cari di tanah di tempat Ibunda Sugih duduk tirakat.
Selanjutnya, Ibunda Sugih pulang ke rumahnya di Blitar sambil menangis tersedu-sedu sepanjang jalan. Dia tidak menyangka dirinya akan mendapat perlakuan tidak senonoh dari para peziarah lain yang juga sama-sama ingin menjadi kaya. Betapa beratnya dirinya menerima perlakuan semacam ini.
Lantas dimana daun dewandaru itu?
Inilah yang tidak diketahui para pria rakus itu. Setiba di rumah, Ibunda Sugih masuk ke dalam kamar dan membuka celana dalamnya. Lalu dia mengambil daun dewandaru itu dari dalam vaginanya.
Rupanya, sesaat setelah daun dewandaru itu jatuh menimpa pundaknya, seketika Ibunda Sugih mengambil daun dewandaru itu dan memasukkannya ke dalam liang vaginanya.
Itulah sebabnya tidak seorang pun para pria rakus itu menyadarinya. Padahal, para pria jahanam itu sudah berhasil menelanjanginya.
Dipo melanjutkan cerita bahwa Ayahnya yang masih remaja itu mendengar langsung cerita Ibunda Sugih seputar daun dewandaru yang membuatnya menjadi orang kaya raya pada masanya.
Ketika itu, Sang Ayah pun mulai tertarik dengan kisah hidup keluarga kaya itu. Sang Ayah tidak tertarik  dengan cerita pesugihannya, melainkan dampak yang terjadi setelah kaya raya.
“Ayah saya mengatakan bahwa keluarga Ibunda Sugih sering mendapat musibah,” kata Dipo.
“Ada diantara anaknya yang meninggal kecelakaan, ada juga yang gila. Bahkan yang menyedihkan, ekonomi keluarga kaya itu pun hancur lebur,” lanjut Dipo.
Dipo mengungkapkan, keluarga Ibunda Sugih memang hidup dalam kekayaan. Tetapi jika dihitung hanya sekitar 10 hingga 15 tahun saja hidup dalam kekayaan. Setelah itu yang terjadi hanya cerita duka yang berujung hidup dalam kemiskinan.
Dua diantara anak Ibunda Sugih meninggal dalam kecelakaan. Bahkan sahabat Ayahnya yang biasa mengajaknya bermain ke rumahnya itu menjadi gila.
“Mungkin ini yang disebut karma buruk kekayaan Gunung Kawi,” kilah Dipo.
Kisah yang diceritakan Dipo Ningrat ini sangat menarik bagi saya. Betapa tidak, nama Gunung Kawi yang sangat populer itu juga diakui oleh salah satu konglomerat di negeri ini.
Sebagaimana tertulis dalam sebuah situs, pengusaha Ong Hok Liong mencatat keberhasilannya dalam arsip di Museum Sejarah Bentoel di Malang, Jawa Timur.
Singkat cerita, usaha rokok Ong Hok Liong sedang terpuruk. Beliau pun melakukan tirakat di Gunung Kawi. Pada suatu malam, dirinya bermimpi melihat bentul (talas).
Dia lalu bertanya kepada juru kunci makam yang lalu menganjurkan agar merek rokoknya diberi nama Bentoel (ejaan lama).Sejak itulah, usaha Ong meningkat drastis hingga menempatkannya menjadi konglomerat negeri ini.
Ini adalah cerita umum yang mungkin masyarakat sudah mengetahuinya. Cerita ini pula yang semakin menjadi daya tarik Pesugihan Gunung Kawi. Apalagi tercatat nama konglomerat lain yang juga ritual di gunung ini, seperti Lim Sioe Liong (Sudono Salim) pemilik Bank BCA.
Namun demikian, jika kita mau jujur. Sesungguhnya kekayaan mereka tidak lama. Kini kita tahu bahwa saham Bentoel tidak lagi dimiliki keluarga Ong. Begitupula saham BCA tidak dimiliki keluarga Lim.
Dengan kata lain, mereka tidak lagi memiliki perusahaan yang dibangunnya dari hasil pesugihan itu. Bisnis Ong Hok Liong dan Lim Sioe Liong sudah hancur. Meskipun generasi berikutnya dari keluarga itu tidak miskin dalam arti yang riil, tetapi tetaplah bahwa nama besar kedua orang itu telah jatuh pada titik terendah.
Sebagaimana Lim Sioe Liong yang jatuh bisnisnya disaat mereka masih hidup. Bahkan Lim Sioe Liong menetap di Singapura sekadar menghindari hutang trilyunan rupiah. (Ingat resesi ekonomi pada akhir 1997 yang membuat banyak konglomerat negeri ini berguguran dan terlibat hutang. Justru Negara yang harus menanggung hutang itu).
Ini adalah bukti nyata, bahwa pesugihan, apapun bentuknya, tetap tidak berkah dan membawa karma buruk.
Kembali ke awal tulisan. Kunjungan saya bersama Dipo Ningrat dan Uda ke Padepokan Eyang Jugo disambut hangat juru kunci bernama Suharto. Beliau adalah pewaris penerus juru kunci makam sebelumnya.
Secara halus, Suharto menolak berbicara tentang pesugihan yang dikaitkan dengan nama Eyang Jugo. Dalam pandangan Suharto, sosok Eyang Jugo adalah seorang ksatria, relijius dan bertakwa kepada Tuhan.
Hal itu bukan sesuatu yang aneh. Sebab Eyang Jugo adalah salah satu diantara para panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro. Tentunya kita sudah mengetahui tingkat spiritualitas Pangeran Diponegoro
Ketika Pangeran Diponegoro terdesak hingga akhirnya ditangkap, beberapa panglimanya ini melarikan diri ke berbagai daerah, termasuk Eyang Jugo.
Eyang Jugo menetap di Kesamben Blitar dengan menyamarkan identitasnya agar tidak terlacak intelijen Belanda.
Masyarakat desa dimana dia tinggal memanggilnya dengan sebutan Kaki Tua. Sosok ini dikenal sebagai seorang yang memiliki kemampuan spiritual tinggi hingga cukup disegani. Beliau dikenal sebagi orang suci, berbudi luhur, sering membantu orang dan welas asih dengan sesamanya.
Hingga suatu ketika, datanglah dua orang pejabat tinggi Kerajaan Mataram ke desa tersebut. Mereka hendak mencari Panembahan Jugo. Tentu saja tidak seorang pun masyarakat yang mengenalnya.
Tetapi anehnya, ketika kedua orang itu hendak pergi meninggalkan desa tersebut, tiba-tiba saja dikejutkan dengan suara beraneka ragam binatang. Hewan peliharaan masyarakat, seperti ayam, kambing, sapi, kerbau, bebek di desa itu mengeluarkan suara membuat bising telinga. Masyarakat desa heran.
Kedua orang pejabat tinggi itu pun menghentikan langkahnya. Keduanya lalu membalikkan tubuhnya menghadap arah desa tadi.
Seketika keduanya bersimpuh di tanah, seolah sedang menghormat seseorang. Saat itulah masyarakat mengetahui bahwa sosok Kaki Tua yang tinggal di desa itu adalah Panembahan Jugo.
“Eyang Jugo itu orang bijak, suka menolong dan membantu sesama,” kata Suharto seraya tersenyum.
“Kebaikannya inilah yang kemudian diasumsikan bahwa dia dapat mendatangkan kekayaan. Padahal itu sesuatu yang tidak mungkin,” lanjutnya.
Suharto mengaku sedih jika nama Eyang Jugo selalu dikaitkan dengan Pesugihan Gunung Kawi. Memang benar, Eyang Jugo dimakamkan di Gunung Kawi. Tetapi itu tidak lantas dirinya memberi kekayaan bagi para peziarah yang datang ke makamnya.
“Jika Anda ingin mengetahui secara lengkap tentang siapa sesungguhnya Eyang Jugo,silahkan datang ke padepokan ini. Saya siap menjelaskannya secara lebih jernih kepada pengunjung,” katanya lagi.
Suharto mengisahkan bahwa pada awalnya makam Eyang Jugo di Gunung Kawi tidak dikenal sebagai tempat pesugihan hingga datangnya sosok pria dari daratan Cina bernama Tamyang.
Suharto mengaku mengenal Tamyang. Tentu saja saat dirinya masih kecil. Tamyang ini biasa datang ke padepokan Eyang Jugo menemui ayahnya yang saat itu menjadi juru kunci.
Dikisahkan, Eyang Jugo pernah melakukan perjalanan ke daratan Cina. Suatu ketika, dia bertemu dengan seorang perempuan hamil yang kehilangan suaminya. Lalu Eyang Jugo membantu ekonomi janda yang hidup dalam kemiskinan ini.
Tentu saja perempuan ini sangat senang dan berterima kasih dengan bantuan Eyang Jugo. Sesuatu yang sudah menjadi tabiat Eyang Jugo dalam membantu sesama.
Ketika Eyang Jugo hendak kembali ke Pulau Jawa, dia berpesan kepada janda itu agar jika anaknya sudah besar kelak disuruh datang ke Gunung Kawi di Pulau Jawa. Anak dari janda miskin inilah yang diberi nama: Tamyang.
Pada era tahun  40-an, datanglah Tamyang ke Gunung Kawi. Tentu saja dia hanya melihat makam Eyang Jugo, sebab Eyang Jugo sudah wafat beberapa tahun sebelumnya.
Tamyang ingin membalas jasa Eyang Jugo yang telah berbuat baik kepada ibunya di daratan Cina. Itulah sebabnya, dia merawat makam itu dengan baik.
Pria Cina yang biasa berpakaian hitam-hitam mirip pendekar silat ini merawat makam Eyang Jugo dan membangun tempat berdoa dengan gaya Cina.
Sejak itulah, peziarah semakin ramai mengunjungi Gunung Kawi. Tetapi anehnya dengan tujuan mencari pesugihan dan bukan belajar bagaimana menjadi orang bijak seperti Eyang Jugo.   


Menguak Keangkeran Pasar Setan di Gunung Merapi

Khabar berita mengenai Fenomena keberadaan pasar setan atau pasar Bubrah sebenarnya telah banyak dikenal oleh penduduk sekitar atau oleh para pendaki gunung. Terlepas dari unsur misteri yang beredar tentang keberadaan pasar setan ini maka sebenarnya dapat juga ditelaah secara lebih realistis. Tulisan ini dibuat semata-mata agar kita selalu harus tetap menjaga kewaspadaan dan kehati-hatian kita selama mendaki gunung termasuk apabila berada di daerah yang disebut sebagai pasar setan itu.

Jalur pendakian di suatu gunung biasanya dipilih berupa medan yang mudah dengan jalur yang tidak terlalu curam. Dalam hal seperti ini kadang ada satu jalur yang akan melewati punggung suatu bukit dengan kondisi yang agak datar. Daerah seperti ini biasanya akan dilewati pendaki sekaligus terkadang dipilih untuk tempat peristirahatan sementara sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak. Di Daerah punggung bukit inilah yang secara alami biasanya menjadi lokasi keberadaan pasar setan misterius tersebut. Punggung bukit ini yang sering berupa bentangan menyerupai lapangan yang relatif datar. Dengan demikian lokasi seperti ini cocok untuk dijadikan tempat mendirikan kemah dengan menggunakan perlindungan dari semak-semak atau batu besar supaya terhindar dari angin kencang yang bertiup.
Karakteristik lain yang menjadi ciri keberadaan pasar setan adalah daerah ini sudah tidak memiliki banyak pepohonan tinggi dan berbatang besar. Pada daerah ini hanya tinggal semak-semak perdu dengan ketinggian kurang dari dua meter. Dengan demikian angin sangat terasa sekali mengenai tubuh manusia yang sedang berada di daerah ini.

Pada lokasi punggung bukit seperti ini hampir selalu dipastikan pada waktu malam merupakan tempat angin bertiup kencang. Angin malam biasanya akan bertiup dari bawah melewati lereng-lereng secara cepat. Pada saat melewati punggung bukit ini akan bertiup dan memberikan fenomena suara yang berisik. Hal seperti inilah yang kemudian membuat sensasi keriuhan yang dianggap sebagai suara menyerupai suasana pasar. Dengan demikian daerah inilah oleh banyak orang dianggap sebagai daerah pasar setan, karena pasar yang sebenarnya tidak terlihat dan hanya suaranya saja yang terdengar.

Di lokasi pasar setan sering dikabarkan memakan korban orang atau pendaki gunung meninggal dunia. Hal ini sebenarnya dapat mudah dimengerti karena perjalanan mendaki gunung biasanya akan memerlukan tempat untuk beristirahat sementara. Salah satu pilihan orang untuk beristirahat kemungkinan besar adalah dipilih daerah di sekitar pasar setan ini. Tentu saja dipilih hal ini karena relatif sudah dekat dengan puncak, daerah ini relatif datar sehingga mudah untuk mendirikan tenda atau sekedar berlindung di bebatuan. Pada saat beristirahat seperti inilah sering terjadi kasus orang kedinginan dan menderita hipotermia misal karena cuaca di atas yang relatif ekstrim seperti turun hujan besar dan kabut gelap. Dengan demikian dapat dimengerti jika banyak korban meninggal dunia yang berlokasi di daerah pasar setan.

Demikian juga kalau ada pendakian yang memaksa kondisi darurat ada yang jatuh kecelakaan atau yang lainnya, maka tempat yang dipilih untuk menunggu sementara adalah di pilih di daerah sekitar pasar setan ini. Dengan berada di tempat ini maka penyelamat relatif dapat mudah mencari dan menemukan korban sehingga tindakan evakuasi dapat segera ditangani.
Orang melakukan pendakian gunung sangat sering melakukannya pada malam hari dalam rangka tujuan melihat matahari terbit dari puncak gunung. Selain itu jika pendakian dilakukan malam hari maka udara juga tidak terlalu panas oleh terik matahari. Perjalanan seperti ini dapat diatur oleh pendaki yang berpengalaman untuk dapat mencapai puncak sebelum matahari terbit. Namun kadang ada juga pendaki yang naik sore hari sehingga dapat sampai puncak sebelum pagi untuk beristirahat di tengah perjalanan. Tempat perjalanan seperti ini biasanya juga dipilih daerah sekitar pasar setan.

Untuk pendakian yang dilakukan pada siang hari. Tentu saja akan memerlukan waktu untuk menginap di atas gunung. Biasanya mereka akan membawa peralatan tenda untuk camping cukup lengkap. Hal ini karena mereka perlu meluangkan waktu menginap semalaman sebelum melanjutkan pendakian ke puncak pada pagi harinya. Lokasi daerah penginapan yang dipilih pun di daerah sekitar pasar setan.

Jadi memang wajarlah kalau keberadaan pasar setan ini menjadi terkenal karena hampir banyak orang dan pendaki gunung selalu melewati daerah ini khususnya saat perjalanan pendakian malam hari.

Dalam banyak cerita, biasa dikabarkan cerita tentang penampakan sosok menyerupai orang yang berada di lokasi pasar setan. Bahkan saya menemukan satu blog yang memuat cerita tentang fenomena pasar setan di gunung Sumbing oleh penulis yang mengaku dari tim mapala satu daerah.

Di rute pendakian di gunung Sumbing setelah lokasi Tanjakan Setan ternyata saat beristirahat diketahui menampakkan keramaian seperti pasar. Di sana bahkan kemudian dijumpai sesosok jasad bersemedi yang sudah membeku yang terlihat oleh seluruh anggota. Walaupun setelah akan diabadikan dengan kamera, hal ini tidak berhasil. Di lokasi berdekatan bahkan mereka menjumpai beberapa sosok lima sosok wanita menempel di perbukitan yang terlihat jelas oleh beberapa anggota rombongan.
 
Suasana mistis yang sama kemungkinan besar juga pernah dihadapi oleh banyak pendaki di lokasi jalur pendakian gunung yang lain. Misal di gunung Slamet, lokasi pasar bubrah yang ada bahkan cenderung lebih terkesan angker. Untuk jalur pendakian dari Kutabawa, harus melewati pasar bubrah yang cukup luas sebelum mencapai daerah puncak gunung.

Keangkeran seperti ini dapat saja dipahami karena suasana saat itu mendukung, kelelahan pendaki setelah berjalan jauh, kegelapan malam dan faktor kondisi alam akibat tekstur gunung, seringkali menyebabkan terjadinya halusinasi. Dari sisi alam ghaib, memang tidak dipungkiri bahwa bisa jadi jin akan muncul menampakkan diri untuk menggoda dan mengganggu iman para pendaki. Toh kita memang wajib beriman pada keberadaan hal-hal yang ghaib sepanjang tidak sampai membawa ke kemusyrikan.

Suasana angker di daerah pasar setan seringkali ditambah akibat keberadaan bekas nisan atau monumen prasasti untuk memperingati meninggalnya pendaki di lokasi itu. Untuk diketahui bahwa di lokasi itu, sebenarnya tidak ada kuburan. Jadi kalau ada pendaki yang meninggal dunia maka selalu akan dibawa turun untuk dimakamkan oleh pihak keluarga di daerah asalnya atau tempat lain. Kalau ada bentuk semacam kuburan, maka itu sebenarnya hanya penanda saja atau lebih berupa prassti peringatan. Tetapi memang keberadaan hal ini menjadi lokasi terlihat lebih menyeramkan.

Pada siang hari, keberadaan pasar setan akan tidak terasa oleh pendaki. Hal ini karena keberadaan sinar matahari yang mampu menerangi seluruh daerah. Pendaki umumnya lebih terpukau pandangannya oleh pemandangan alam yang tersaji luas. Keindahan alam seperti ini betul-betul akan menarik perhatian dan dapat melupakan keberadaan pasar setan yang ada sebelumnya.

Bayangan keangkeran di siang hari biasanya akan musnah, karena di siang hari kondisi angin relatif lebih kecil sehingga suara ribut pun menjadi tidak terdengar. Saya yakin kalau mengalami gejala angin ribut di lokasi itu pada siang hari, maka fenomena suara-suara pasar setan pun akan terdengar kembali dalam nuansa yang berbeda.

Walau bagaimanapun di siang hari di lokasi pasar setan ini, kewaspadaan dan pantangan untuk selalu menjaga tingkah laku kita tetap harus dilakukan. Sering tingkah laku yang kelewatan atau sikap yang sombong membuat kita lalai, padahal lokasi jalur pendakian sering kali menyesatkan atau rawan dengan kejadian kecelakaan. Oleh karena itu kita tetap selalu menjaga konsentrasi dan perhatian kita selama pendakian.

Pasar adalah tempat untuk aktivitas jual beli. Kalau ativitas jual beli dilakukan di ata gunung maka bisa jadi dapat disebut sebagai pasar. Di puncak gunung Lawu, khususnya saat hari minggu atau malam satu syura, ternyata ada juga orang yang melakukan aktivitas berjualan di puncak gunung Lawu. Beberapa penjual makanan ringan dan bakso menjajakan dagangannya bagi para pendaki yang naik ke puncak dalam jumlah yang relatif banyak. Sosok para penjual dan pembelinya jelas manusia karena mereka bukan setan yang bergentayangan.

Omong-omong soal pasar setan di gunung ini, ada satu gurauan kecil juga yang menyindir kondisi sosial masyarakat sekarang. Mitos keberadaan pasar setan di suatu gunung dijamin tidak akan hilang. Hal ini baru akan hilang kalau sudah ada minimarket franchise 24 jam atau supermarket yang berani buka di sana. Kalau sudah ada ini maka dijamin keberadaan pasar setan akan hilang.

Pasar setan diduga bukan satu fenomena yang benar-benar ada. Fenomena ini muncul karena kondisi daerah gunung yang mungkin menyebabkan terjadinya suasana yang terasa menyerupai suasana pasar sehari-hari. Wallahu alam. Meskipun tidak ada bukti fisik kuat yang mendukung keberadaan pasar setan ini, hal ini dapat kita gunakan untuk selalu mengingatkan para pendaki gunung agar senantiasa menjaga perilaku dan kehati-hatian selama perjalanan pendakian, baik saat sedang mendaki ataupun dalam perjalanan pulang.


Minggu, 26 November 2017

.Perang Bubat Versi Kidung Sundayana

Mahapatih Gajah Mada
Dalam Kidung Sundayana disebutkan bahwa raja Sunda, permaisuri, dan putrinya (Dyah Pitaloka) bertolak ke Majapahit yang diiringi 200 kapal besar dan kapal kecil yang jumlahnya mencapai 2.000. dalam Kidung Sundayana ini, raja Sunda dikisahkan menaiki jung buatan Cina. Informasi dari Kidung Sundayana atau Kidung Sunda yang diterbitkan C.C. Berg dengan judul Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch pada 1928 ini, meski harus dikonfirmasi dengan sumber lain kesahihannya, menunjukkan bahwa jumlah rombongan dari kerajaan Sunda beribu-ribu orang.

Pun halnya Majapahit, dalam Kidung Sundayana juga digambarkan saat itu mengadakan persiapan penyambutan tamunya dari kerajaan Sunda yang tak kalah besarnya pula. Digambarkan juga raja Hayam Wuruk beserta dua pamannya, Bhre Kahuripan dan Bhre Daha sudah berkumpul di Bale Agung beserta para menteri dengan penuh suka cita. Tapi sayangnya, semua yang awalnya suka cita tersebut mendadak masygul ketika melihat raut wajah Gajah Mada yang menyiratkan rasa kecewa. Bahkan, Gajah Mada tidak sungkan dengan mencela Hayam Wuruk dengan mengatakan bahwa kurang tepat raja merendahkan diri menyongsong seorang raja bawahan.

Siapa yang tahu apakah orang-orang Sunda itu tidak datang sebagai musuh yang menyamar sebagai sahabat? Gajah Mada mempersilakan Hayam Wuruk agar tinggal di keraton dan menunggu. Hayam Wuruk yang saat itu terbilang masih belia, usianya belum genap tujuh belas tahun, menurut saja kepada keinginan Gajah Mada dengan memerintahkan semua agar kembali ke keraton dan membatalkan semua upacara penyambutan. Para menteri terkejut ketika mendengar perintah tak terduga itu, tetapi mereka takut kepada raja dan patih sehingga semua diam saja tidak menentangnya.

Setelah memaparkan secara panjang lebar perselisihan yang terjadi antara Patih Sunda bernama Anepaken dan pejabat tinggi Sunda dengan Gajah Mada yang berujung pada pecahnya perang, yang diikuti bela pati permaisuri, putri raja, dan istri para mantri Sunda yang melakukan bunuh diri di atas jenazah suami-suami mereka. Setelah itu, secara panjang lebar digambarkan bagaimana penyesalan Hayam Wuruk atas peristiwa itu, yang membuatnya ingin mengikuti jejak mempelainya ke alam baka, yang dilanjutkan upacara mendoakan arwah para korban.

Langkanya catatan historis dari peristiwa Bubat yang memalukan yang seperti sengaja ditutup-tutupi itu, pada gilirannya menimbulkan banyak tanda tanya yang berujung pada munculnya berbagai spekulasi yang melahirkan berbagai varian cerita bersifat historiografi ataupun lisan seperti cerita bahwa Gajah Mada berasal dari Galuh, cinta terpendam Gajah Mada terhadap Dyah Pitaloka, dan bahkan kisah saling cinta antara Gajah Mada dan Dyah Pitaloka.

Lepas dari pembenaran cerita-cerita semacam itu, dalam aspek kesejarahan langkanya catatan-catatan historis tentang peristiwa tragis di Bubat, telah menimbulkan sejumlah pertanyaan yang tidak mudah dijawab seperti berapakah sesungguhnya jumlah rombongan dari kerajaan Sunda yang gugur dalam peristiwa tersebut? Adakah pejabat atau prajurit Sunda yang mengiringi raja Sunda masih hidup setelah peristiwa tersebut? Di-dharma-kan di manakah jenazah raja Sunda beserta permaisuri dan putri serta pengiringnya?

Sekalipun Kidung Sunda menggambarkan kehadiran rombongan Raja Sunda dengan hitungan kapal-kapal besar sejumlah 200 ditambah kapal-kapal kecil sampai 2.000 buah, tidak ada penjelasan terperinci tentang berapa jumlah pasti rombongan raja Sunda yang terbunuh dalam peristiwa Bubat. Kidung Sunda hanya mencatat adanya 300 prajurit pengawal yang mengiringi patih Anepaken ditambah sejumlah pejabat penting kerajaan Sunda saat berselisih dengan Gajah Mada.

Selain itu, Kidung Sunda mencatat bahwa dari sejumlah prajurit pengawal raja yang sudah bertekad untuk gugur bersama sang raja, ternyata masih ada yang hidup, yang digambarkan sebagai mantri Sunda bernama Pitar yang pura-pura mati di antara jenazah para korban dan membiarkan dirinya ditangkap pasukan Majapahit. Setelah dibebaskan pasukan Majapahit, Pitar dikisahkan melapor kepada permaisuri raja Sunda dan putrinya tentang peristiwa tragis yang dialami sang raja beserta semua pengikutnya, yang membuat permaisuri, selir, putri, dan istri para mantri Sunda sepakat untuk melakukan bela pati, dengan bunuh diri di atas jenazah suami-suami mereka.

Dari cerita mantri Sunda bernama Pitar, dapat disimpulkan bahwa setelah peristiwa tragis dialami raja Sunda di Bubat, pasukan Majapahit di bawah Hayam Wuruk datang ke medan tempur Bubat. Pasukan inilah yang menemukan Pitar dan kemudian menangkap, tetapi kemudian membebaskannya. Itu menunjukkan bahwa tidak semua pasukan Majapahit di bawah komando Gajah Mada. Bahkan, pada akhir cerita Kidung Sunda digambarkan bagaimana semua orang Majapahit di bawah Bhre Kahuripan dan Bhre Daha, paman Hayam Wuruk, menyalahkan Gajah Mada, kemudian memerintahkan untuk membunuh patih tersebut.

Kidung Sunda tidak sedikit pun memberitakan letak pasti para korban Bubat di-dharma-kan. Kidung Sunda hanya menuturkan bahwa jenazah putri raja Sunda ditemukan di pesanggrahan dan bukan di Bubat. Sementara dalam cerita tutur yang berkembang dikisahkan bahwa putri Sunda di-dharma-kan di lingkungan keraton Majapahit di suatu tempat yang dinamai Citra Wulan (Rembulan yang cantik. Sekarang tersisa pada nama toponimis Trowulan).

Di kompleks situs Trowulan terdapat satu reruntuhan candi yang dikenal penduduk dengan nama Candi Kenconowungu, yaitu nama seorang ratu wanita Majapahit dalam dongeng yang biasanya dipentaskan dalam cerita Damarwulan. Apakah yang dikenal Candi Kenconowungu itu sebenarnya pen-dharma-an putri Sunda? Perlu dilakukan penelitian lebih dalam.

Sementara masih dalam kompleks situs Trowulan tidak jauh dari Candi Kenconowungu, terdapat tempat bernama Sentanarajya (Keluarga Kerajaan. Sekarang tersisa pada nama toponimis Sentanareja) di mana ditemukan situs Sumur Upas (sumur beracun). Apakah di Sentanareja ini raja Sunda beserta permaisuri dan selir di-dharma-kan? Perlu diadakan penelitian lebih lanjut.

Akibat psikologis dari peristiwa Bubat yang seperti sengaja ditutupi itu, sampai sekarang menjadikan masyarakat Sunda secara umum memiliki asumsi bahwa dalam peristiwa Bubat itu raja Sunda beserta seluruh rombongannya gugur tak bersisa. Timbulnya asumsi semacam itu dapat dipahami karena sejak pecahnya peristiwa memilukan tersebut hubungan Majapahit dengan Sunda dapat dikatakan terputus.

Perang Bubat
Apa yang terjadi di Majapahit tidak banyak diketahui pihak Sunda, demikian sebaliknya. Namun di balik semua asumsi tentang habis tanpa sisanya rombongan Sunda dalam peristiwa Bubat, perlu dilakukan penelitian untuk memperjelas apakah asumsi tersebut memiliki dasar yang bisa dibenarkan secara historis.

Lepas dari benar dan tidaknya asumsi-asumsi seputar habisnya rombongan raja Sunda dalam peristiwa Bubat, di tengah masyarakat Jawa berkembang cerita-cerita lisan dan catatan historiografi yang disertai silsilah genealogi keluarga-keluarga bangsawan keturunan Majapahit yang mengaitkan genealogi sejumlah keluarga feodal Jawa dengan orang-orang Sunda yang terlibat dalam peristiwa Bubat.

Cerita-cerita itu berkembang secara turun-temurun di dalam keluarga-keluarga yang memiliki hubungan dengan raja-raja Majapahit akhir, terutama keturunan Sri Prabu Kertawijaya (Maharaja Majapahit 1447-1451) yang masyhur dikenal dengan nama Prabu Brawijaya V.
Dalam naskah ”Tedhak Poesponegaran” (catatan silsilah genealogis keturunan Kyai Tumenggung Poespanegara, Bupati Gresik pertama, 1688-1696) diperoleh penjelasan bahwa Kiai Tumenggung Poespanegara adalah keturunan kesepuluh Maharaja Majapahit Sri Prabu Kertawijaya.

Dijelaskan dalam naskah tersebut bahwa Sri Prabu Kertawijaya adalah putra Prabu Brawijaya IV Sri Prabu Wikramawardhana dari seorang selir putri Sunda bernama Citraresmi. Dari perkawinan itu lahir Ratu Puteri Suhita dan adiknya Dyah Kertawijaya yang kelak menjadi Sri Prabu Kertawijaya. Tidak ada penjelasan tentang siapa putri Sunda bernama Citraresmi itu kecuali cerita lisan keluarga bahwa putri yang menjadi leluhur keturunan Sri Prabu Kertawijaya itu adalah putri seorang Sunda bernama Sutraja. Senapati Sutraja yang dikisahkan gugur dalam peristiwa Bubat, rupanya meninggalkan seorang istri yang mengandung yang dijadikan abdi oleh Bhre Paguhan Singhawardhana, ayahanda dari Prabu Wikramawardhana.

Meski tidak ada catatan resmi tentang selir Prabu Wikramawardhana bernama Citraresmi yang melahirkan Ratu Stri Suhita dan Sri Kertawijaya, yang pasti nama Citraresmi, Suhita, dan Kertawijaya bukanlah nama yang lazim digunakan di Jawa pada masa Majapahit maupun masa sesudahnya.

Sumber lain yang berhubungan dengan orang-orang Sunda yang terkait peristiwa Bubat adalah silsilah genealogi keturunan Aria Damar, Adipati Palembang. Dalam semua historiografi Jawa, disebutkan bahwa Aria Damar adalah putra Sri Prabu Kertawijaya dengan seorang perempuan bernama Endang Sasmitapura. Aria Damar dibesarkan oleh ibu dan uwaknya, Ki Kumbarawa di pertapaan Wanasalam (nama hutan di selatan Majapahit). Selama menjalankan tugas sebagai panglima perang Majapahit, Aria Damar dikisahkan memiliki empat istri. Dari istri bernama Sagung Ayu Tabanan lahir putra bernama Arya Jasan yang menurunkan raja-raja Tabanan di Bali.

Dari istri bernama Wahita lahir putra bernama Arya Menak Sunaya yang menurunkan raja-raja Madura. Dari istri bernama Nyi Sahilan lahir putra bernama Raden Sahun Pangeran Pandanarang yang menurunkan bupati-bupati Semarang dan Sunan Tembayat. Dari istri Cina bernama Retno Subanci lahir putra bernama Raden Kusen yang setelah dewasa menjadi Adipati Terung yang menurunkan bupati-bupati di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Dalam silsilah genealogi keturunan Aria Damar diperoleh penjelasan tentang kakek Aria Damar dari pihak ibu, yang bernama Kaki Palupa. Siapakah Kaki Palupa? Dalam cerita lisan dituturkan bahwa Kaki Palupa adalah seorang kepala prajurit Sunda yang selamat dari peristiwa pembunuhan Bubat karena memiliki ilmu bhairawa.

Kaki Palupa dikisahkan tinggal di hutan Wanasalam dan mendirikan pertapaan di sana. Dari pernikahan Kaki Palupa dengan Nyi Palupuy, lahir Ki Kumbarawa dan Endang Sasmitapura. Lepas dari benar dan tidaknya kisah tersebut dengan fakta sejarah, yang pasti nama Palupa, Palupuy, Kumbarawa, dan Endang Sasmitapura bukanlah nama yang lazim digunakan di Jawa pada masa Majapahit maupun masa sesudahnya.

Berdasarkan uraian singkat di atas, dapat ditarik sejumlah simpulan dari cerita yang berkaitan dengan peristiwa Bubat yang berhubungan dengan pelacakan jejak sejarah atas peristiwa tragis tersebut.
Pertama, dalam peristiwa Bubat tidak semua pengiring raja Sunda yang digelari nama anumerta Sri Maharaja Linggabhuwana Sang Mokteng Bubat tersebut, gugur. Sebagian mereka tinggal bersama keluarga raja Majapahit dan keluarga-keluarga keturunan Sunda yang tinggal di Majapahit semenjak masa Sri Kertarajasa atau Raden Wijaya atau juga Jaka Sesuruh yang berasal dari kerajaan Sunda – merintis berdirinya Kerajaan Majapahit.

Kedua, dengan naik tahtanya Prabu Sri Suhita (Maharani Majapahit 1427 – 1447) yang diteruskan Sri Prabu Kertawijaya (Maharaja Majapahit 1447-1451), tahta Majapahit yang ditegakkan orang Sunda bernama Raden Wijaya atau Jaka Sesuruh, kembali diduduki oleh raja-raja keturunan Sunda.

Fakta historis terkait sisa peninggalan Prabu Stri Suhita yang terabadikan dalam wujud kompleks Candi Sukuh di kaki Gunung Lawu dan peninggalan Sri Prabu Kertawijaya dalam wujud kompleks Candi Cetho, menunjukkan ciri aneh yang sangat berbeda dengan candi-candi peninggalan Majapahit lain, baik dalam hal susunan, struktur, ragam hias, simbol-simbol ikonografis, jenis cerita relief, bahkan pantheon dewa-dewa yang justru menunjukkan kemiripan dengan arca Sanghyang Dengdek di Gunung Pulasari Banten, arca Caringin, arca Gunung Raksa, dan arca Pulau Panaitan.

Bernet Kempers (1959), Soekmono (1973) dan Nigel Bullough (1995) yang tidak cukup mengetahui bahwa Suhita dan Kertawijaya berdarah Sunda, menyikapi keanehan yang terdapat pada Candi Sukuh dan Candi Cetho dengan simpulan bahwa pada era kedua maharaja kakak beradik itu, terdapat tanda-tanda kebangkitan kembali anasir animisme lama berupa pemujaan arwah leluhur.

Ketiga, di antara puluhan silsilah genealogi yang dimiliki keluarga-keluarga bangsawan Jawa yang mengaku keturunan Majapahit, semuanya bertemu pada tokoh historis Sri Prabu Kertawijaya atau Brawijaya V, yang dalam sejumlah versi digambarkan memiliki 24 orang istri dan 117 orang putra dan putri.

Itu dapat disimpulkan, ibarat pepatah ”mati satu tumbuh seribu”, gugurnya Maharaja Sunda beserta rombongan dalam peristiwa Bubat, tidaklah melenyapkan sama sekali pengaruh Sunda di Majapahit, melainkan malah memunculkan maharaja-maharaja Majapahit berdarah Sunda seperti Prabu Stri Suhita, Sri Prabu Kertawijaya beserta putra-putra dan cucu-cucunya seperti Bhre Wengker Hyang Purwawisesa (1456-1466), Bhre Pandan Salas (1466-1468), Sri Prabu Singha Wikramawarddhana (1468-1474), Sri Prabu Natha Girindrawarddhana (1478-1486).

Bahkan, saat tahta Majapahit jatuh ke tangan Bhre Wijaya yang muncul dari garis keturunan Bhre Pamotan Sang Sinagara, kekuasaan Majapahit diakhiri oleh serangan yang dilakukan oleh putra dan cucu Sri Prabu Kertawijaya yang berkuasa di Demak: Raden Patah dan Sultan Trenggana.   


Kisah Batu Meteor Bahan Pamor Keris

Batu Meteor
Sebagai penggemar tosanaji  tentunya kita sudah tidak asing dengan istilah pamor. Pun juga tahu jika pamor sebuah keris dibuat dari bahan meteor, meskipun toh sebenarnya kita tidak pernah tahu wujud asli batu meteor itu kayak apa? Kemudian kita juga sering mendengar bahwa meteor mengandung titanium (Ti). Sayangnya sebagian besar dari kita tidak pernah jelas mulai kapan meteor dipergunakan menjadi bahan pamor. Dan apakah betul meteor mengandung Ti (titanium)?

Dalam literaturnya,   batu meteor ini, mayoritas menyatakan bahwa meteor (irons meteorite) adalah mengandung kristal Fe/Ni (besi dan nikel). Dalam sejarah perkerisan, catatan yang bisa dipertanggung jawabkan adalah ketika meteor jatuh di desa Klurak di daerah Prambanan. Meteor ini sebetulnya tidak tunggal. Ada yang seukuran <1m3 (Kanjeng Kyai Pamor) dan disertai dengan ratusan kerikil dan bebatuan yang tersebar di sekeliling area kubangan bahkan melintas sekian kilometer dari lokasi utama.

Ada diantaranya yang seukuran buah kelapa (dihadiahkan kepada keraton Hamengku Buwana). Sri Susuhunan Paku Buwana X, konon menyimpan banyak sekali meteor sertaan dari pamor Prambanan dan disimpan dalam kantong-kantong kecil untuk dihadiahkan kepada mereka yang berjasa kepada Keraton. Meteor dianggap sebagai jimat yang terbaik dibanding benda-benda yang ada di bumi.

Kepercayaan itulah yang menggugah para raja untuk menjadikan meteor sebagai bahan pamor. Sesuai filosofi ”manungaling kawula Gusti”, dimana meteor berasal dari bapa akasa, disatukan dengan besi (pasir besi dari ibu Bumi). Dalam dekade jaman Paku Buwana inilah jelas sekali bahwa meteor telah digunakan sebagai bahan pamor.

Dalam lintasan sejarah, meteor Prambanan jatuh pada pertengahan abad 18 (1749), dimasa pemerintahan Sunan Paku Buwana III, pada waktu itu hanya beberapa kerikil meteor dibuat untuk keris, terutama diserahkan kepada empu Brojoguna. Pada pemerintahan Sunan Paku Buwana IV, meteor Prambanan yang disebut Kanjeng Kyai Pamor yang sebesar 1m3 itu mulai dipergunakan pula.

Namun ini juga tidaklah dijelaskan secara rinci berapa banyak diambil untuk pembuatan keris, mungkin saja Paku Buwana IV hingga selanjutnya Paku Buwana IX dan X menggunakan batu-batu meteor sertaannya, karena pada waktu itu ratusan kerikil hingga meteor sebesar jeruk yang diperkirakan serpihan meteor dari meteor utama, dikumpulkan dari desa tersebut diboyong ke keraton dalam dekade hampir sepanjang tahun, para abdi dan penduduk melakukan pencarian terus menerus di sungai-sungai bahkan hingga mendekati areal Candi Prambanan. Bahkan perdagangan kerikil meteor terus berlanjut. Kepercayaan terhadap jimat meteor juga masih ada hingga kini.

Penggunaan pamor keris dari batuan kerikil meteor asal Prambanan tampaknya cukup masuk akal. Hal ini bisa kita simpulkan jika kita meneliti pada Kanjeng Kyai Pamor tersebut, tampaknya tidak banyak bekas pahatannya.

Meteorit adalah batu yang jatuh ke bumi dari ruang angkasa. Terdapat tiga jenis dasar: batuan, besi dan batuan besi atau stones, irons dan stony irons, yang masing-masing akan dibahas berikut ini.
Tetapi sebelumnya, dari manakah asalnya meteorit?

Keris Pamor Batu Meteor
Mayoritas terbesar berasal meteor dari sabuk asteroida, daerah dengan jutaan serpihan batu yang mengorbit di antara Mars dan Jupiter. Serpihan-serpihan ini tidak berhasil membentuk sebuah planet, sebagaimana yang terjadi pada serpihan-serpihan lain di lingkungan planet lain yang jauh dari Matahari.

Beragam serpihan dari sabuk asteroida tersebut mempunyai orbit yang berbeda dari bentuk lingkaran sampai bentuk yang sangat membujur, selain itu juga mempunyai orbit yang tidak sama pada bidang datarnya. Seiring dengan berjalannya waktu, karena perbedaan orbit tersebut, terjadilah tabrakan serpihan yang mengakibatkan sebagian terlontar dari orbitnya yang semula pada sabuk asteroida dan memasuki orbit “lintasan bumi” yang membawanya ke bumi sebagai meteorit.

Walaupun kebanyakan meteorit berasal dari sabuk asteroida, beberapa dari serpihan itu sekarang diketahui berasal dari Mars dan beberapa dari Bulan kita. Meskipun demikian, asal muasal meteorit yang langka ini juga berhubungan dengan tabrakan antar serpihan yang terjadi di sabuk asteroida. Sama seperti serpihan asteroida masuk ke bumi, beberapa serpihan juga mempengaruhi Mars atau Bulan, bahkan dengan energinya bisa mencabut kepingan batu karang yang ada di Mars ataupun Bulan.

Saat kepingan-kepingan yang tercerabut itu bisa lepas dari areanya, mereka melayang dalam jalur orbit sampai mereka secara tak terduga tiba di bumi. Bagaimana kita tahu bahwa tipe langka ini dari Mars atau dari Bulan? Inti jawabannya adalah bahwa susunan kimia mereka berbeda dari susunan kimia meteorit yang berasal dari asteroida.

Keris yang telah dibuat dari sejak jaman purwacaritra, Mataram Hindu hingga detik ini, sangatlah sulit dilacak apakah benar bahan pamor yang menyertainya dibuat dari bahan meteor. Dibeberapa pihak, mereka yang sangat memahami tangguh Paku Buwana, bisa membedakan jenis pamor dari meteor dan yang bukan. Karena pada tangguh Paku Buwana (PB) pun tidak semua keris berpamor meteor. Tetapi justru kondisi itulah yang menghasilkan pedoman, yaitu dengan memperbandingkan setiap keris tangguh PB. Pengamat dan kolektor yang sangat memahami tangguh PB antara lain adalah Ir. Haryono Haryoguritno, KRA. Sani Gondoadiningrat dan beberapa senior perkerisan seperti Ir. Brotohadi Sumadyo, Supranto dlsb, telah terbiasa menduga (bukan memastikan) mana keris yang berpamor meteor dan yang bukan. Ada beberapa kesimpulan yang perlu diperhatikan dan yang mungkin bisa dijadikan acuan adalah bahwa jika mengamati tangguh PB yang menggunakan meteor pastilah pamornya bernuansa. Ada keabu-abuan dan ada yang jernih (deling). Pamor nikel biasanya mati (tidak bernuansa) atau orang Jawa menyebutnya dengan menteleng (melotot) alias jreng.

Seperti dijelaskan diatas bahwa bahan irons meteorite atau stony irons meteorite bisa digunakan menjadi bahan pamor keris, terutama karena adanya kristal Fe/Ni yang banyak, disertai unsur lain seperti adanya phospor, senyawa Ti, As, Pb sebagai isotop pengikatnya. Ketika dalam prakteknya menjadi pamor keris, unsur-unsur heterogen itu tidak hilang sama sekali sehingga alur pamor meteor akan bernuansa. Pamor ini secara visual ada warna abu-abu dan ada kehitaman serta ada pula bagian yang putih cemerlang, yang jika diamati tampak aura sinar warna-warni. Hal ini menjadi sangat jelas jika keris diminyaki dan dipandang dibawah sinar matahari. Empu Djeno Harumbrojo (alm), menyebutnya dengan kata ”sulak” atau bias pelangi warna.

Namun demikian pada prakteknya, pegiat keris dan seniman keris Kamardikan yang mulai mengolah pamor dari bahan meteor, tetap harus melakukan eksperimentasi terutama pada treatment akhir setelah finishing touch bentuk keris. Karena tampaknya empu jaman dahulu pun melakukan treatment termasuk melalui cara ”quenching” atau sepuh, kamalan (merendam pada air welirang) dan bahkan mutih keris dan mewarangi dengan banyak cara seperti cara di’nyek’, untuk menimbulkan estetika dari bahan meteor yang diharapkan memberi keterpukauan pada detail pamornya, dan bukan hanya pada jenis motifnya.


Dasyatnya lmu Cetik dan Leak Bali

Ilmu Cetik, Bali
Bali, yang mendapat julukan pulau dewata yang eksotik, anggun, harmonis, dan damai. Dari hal   kebudayaan Bali memiliki aneka keistimewaan yang tiada tara. Kebudayaan Bali dari warisan masa lalunya tersebut  sering di sebut ilmu pengiwaan.

Seperti halnya di Jawa atau di daerah yang lain. Bali yang hingga saat ini kita ketahui bersama masih kuat menjaga tradisinya, ternyata tradisi Bali juga menyimpan serupa ilmu santet atau tenung yang sangat ampuh. Bahkan konon, semua yang menyangkut ilmu hitam ini masih bisa kita temukan keberadaannya dalam berbagai lontar Bali yang berbahsa Jawa Kuno.

 Ilmu hitam dalam budaya Bali disebut ilmu pengiwaan (kiri). Nah, pertanyaannya, kenapa disebut ilmu pengiwaan?  Untuk mengenalnya lebih dekat , berikut  ulasannya.

Galibnya dalam hukum keseimbangan semesta ini, yang semua serba berpasangan. Ilmu pengiwaan dalam praktiknya, energi yang dikeluarjan melalui tubuh sebelah kiri. Lawan ilmu kiri ini adalah ilmu penengen (kanan) yang bertujuan sebagai keseimbangan yang tujuan utamanya untuk menangkal dan memusnahkan segala hal yang ditimbulkan dari serangan ilmu kiri tersebut.

Dalam riwayatnya, sejatinya ilmu pengiwaan ini dipelajari tujuan utamanya adalah untuk menyakiti musuh / prajurit yang menyerang kerajaan Bali. Namun seiring berjalannya waktu, seperti ilmu hitam dalam khasanah budaya daerah lain. Ilmu pengiwaan ini sering digunakan untuk menyakiti tentangga, keluarga, atau orang lain. Motifnya saya rasa klise, seperti halnya dalam prtaktik santet yang semua dipicu sakit hati yang kemudian melahirkan dendam.

Sebenarnya, penekun ilmu pengiwaan ini tidak semua bertujuan untuk menyakiti orang lain, tentu ada yang sengaja mempelajari ilmu ini untuk mengetahui kelemahannya. Seperti dalam logika berpikir rasional kita, seorang dokter harus tahu anatomi tubuh untuk bisa menetukan dan tindakan penyembuhan bagi pasiennya.

Berikut dibawah ini adalah dua ilmu pengiwaan yang diyakini hingga saat ini masih ada ditengan masyarakat Bali.

Cetik

Pengertian cetik pada dasarnya adalah racun, tetapi racun ini bisa dikendalikan oleh orang-orang tertentu yang menguasai ilmu ini dengan mantra-mantra tertentu. Hal ini disebabkan  bahan-bahan yang digunakan untuk membuat cetik adalah sangat berbahaya. Seperti serpihan kuningan yang memang dalam ilmu kimia merupakan bahan yang sangat berbahaya, binatang yang memiliki racun tertentu, medang (bulu halus pada bambu) dan masih banyak lagi bahan-bahan yang lainnya. Lebih jauh tentang cetik ini pada lain kesempatan kita akan membahasnya lebih jauh.

Cara kerja cetik ialah dilakukan dengan ditaruh di makanan ataupun minuman orang yang hendak kita celakai. Jika orang tersebut memakan atau meminum hidangan yang telah berisi cetik maka orang tersebut akan merasakan sakit yang luar biasa. Tetapi sakit tersebut bisa dirasakan beberapa jam kemudian, beberapa hari kemudian, ataupun beberapa bulan kemudian, Tergantung bahan dan keinginan si pembuat cetik tersebut kapan cetik itu akan bereaksi pada sasarannya.
Leak Bali

Cetik juga bisa kita umpamakan sebagai gelombang elektomagnetik yang memiliki sinyal-sinyal tertentu dan dapat dikendalikan.  Misalkan kita menginginkan meledakan bom di suatu tempat, kita sudah menaruh bom tersebut di tempat yang kita ingin ledakan. Kita akan menggunakan pemicunya berupa sebuah HP yang telah kita atur sebelumnya. Tetapi suatu ketika terjadi kesalahan teknis, yang menyebabkan sinyal-sinyal tersebut terganggu, dan bom yang ingin diledakan tidak akan dapat meledak.

Orang yang menjadi target, bisa terhindar dari cetik jika ia memiliki iman yang kuat atau pikirannya sedang tidak dalam keadaan kacau. Berdasarkan efek yang ditimbulkan, sekurangnya ada dua jenis, yaitu cetik yang berefek seketika dan efek yang timbul agak lama (bisa sampai 6 bulan).

Ada cetik yang berakibat rendah, misalnya sakit perut atau panas dingin dan ada juga cetik yang berefek ganas, misalnya muntah darah atau pingsan. Cetik yang berefek ganas dikenal oleh masyarakat Bali bernama Cetik Ceroncong Polo (menyerang otak) dan Cetik Reratusan (menyerang perut). Untuk menghindari cetik saat ada pesta makan, orang Bali biasanya melakukan beberapa hal, misalnya :

Menaburkan butiran garam di atas nasi yang akan dimakan (garam dipercaya dapat menetralkan cetik)
Ada juga yang menaburkan sedikit makanan / minuman ke tanah (maksudnya jika makanan/minuman yang terkena cetik akan hilang kekuatannya jika sudah menyentuh tanah)
Berdoa kepada Yang Maha Kuasa
Ngejot (menghaturkan sesaji) ke sanggah / pura atau ke ibu pertiwi

Waspada terhadap situasi.

Leak

Leak adalah suatu ilmu kerohanian kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali yang tercatat pada lontar-lontar kuno.  Leak berasal dari kata “liya dan ak” yang berarti lima aksara. Kekuatan lima aksara tersebut diolah didalam tubuh, sehingga akan mampu mendekatkan diri kepada Tuhan. Kelima aksara tersebut yaitu : Si, Wa, Ya, Na, Ma (Nama siwa ya) yang memiliki arti :

Si mencerminkan Tuhan
Wa adalah anugrah
Ya adalah jiwa
Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa

Dengan mampu mengolah kelima aksara tersebut dalam pintu panca indra di dalam tubuh, maka orang tersebut akan mudah mencapai moksa (alam nirwana atau alam di atas surga). Prinsip mempelajari ilmu leak adalah kerahasiaan, jadi tidak boleh diceritakan atau diketahui oleh siapapun. Karena kerahasiaannya, belajar ilmu leak harus berada di tempat sepi, seperti di kuburan (tempat para roh berkumpul) dan di tempat-tempat angker.

Beberapa pantangan yang harus dilaksanakan misalnya tidak boleh berzina dan memakan daging berkaki empat. Dalam praktiknya, ilmu leak dapat membuat orang yang mempelajarinya bisa melepas rohnya ke alam gaib, merubah diri menjadi bola api, binatang, rangda/celuluk (mahluk berwajah seram) atau lainnya sesuai dengan tingkat ilmu yang dikuasainya. Pada zaman kerajaan, ilmu leak banyak dipelajari oleh keluarga raja sebagai alat melindungi diri dari serangan musuh.

Ilmu Leak yang bersumber dari Dewi Durga (istri Dewa Siwa) merupakan salah satu ilmu kerohanian untuk mencapai nirwana. Namun, rasa dengki dan iri hati yang membelenggu jiwa, membuat banyak orang yang menyalahgunakan kesaktian ilmu leak. Banyak orang yang sudah menguasai ilmu pengeleakan menggunakannya untuk hal-hal negatif karena tidak mampu mengendalikan pikiran dan amarah.

Jika ini terjadi, maka berdasarkan isi lontar, mereka akan menemukan banyak penderitaan dalam seribu kelahirannya (reinkarnasi) di bumi. Penyalahgunaan ilmu leak tersebutlah yang membuat ilmu leak dicap sebagai ilmu hitam / jahat oleh masyarakat Bali. Untuk menangkal pengaruh ilmu leak adalah memperkokoh keimanan dan menghilangkan rasa takut yang berlebihan. Demikianlah yang bisa saya bagikan kali ini dan semoga menambah wawasan buat kita semua.  


Mengenal Sosok Begu Gajang, Makhluk Halus dari Tanah Sumatra

Sosol makhluk Halus Begu Ganjang, cukup ditakuti di tanah Sumatera. Konon, ketika seseorang Bertemu dengan hantu ini, nyawa mereka sebenarnya sedang berada dalam bahaya.
.
Begu Ganjang merupakan hantu yang sangat ditakuti bagi masyarakat Batak, di Sumatera Utara. Padahal menurut legendanya, tujuan orang-orang memelihara Begu Ganjang adalah menjadi penjaga sawah dan kekayaan pemiliknya. Namun, karena niat jahat orang-orang yang sesat, semua itu melenceng dari tujuan awalnya. Akhirnya, orang yang memelihara Begu Ganjang malah menggunakannya untuk tindakan balas dendam dan mengumpulkan kekayaan dengan jalan tidak logis.
.
Begu Ganjang sosoknya digambarkan sangat tinggi — setinggi pohon. Kaki-kakinya menjulang, kulit yang hitam legam, dan rambut yang panjang menjuntai. Namun, tidak sembarang orang bisa melihat Begu Ganjang, hanya orang-orang yang memiliki kemampuan supranatural yang bisa melihatnya. Bagi mereka yang awam, sosok Begu Ganjang tidak akan terlihat sama sekali.
.
Ketika orang yang memelihara makhluk halus ini ingin membunuh seseorang dengan ilmu santetnya, biasanya Begu Ganjang akan dikirim untuk menghabisi orang itu. Begu Ganjang akan mencekik orang yang ingin dibunuhnya hingga tewas seketika.
.
Mitos yang merebak di masyarakat Batak mengenai Begu Ganjang yang bisa mendatangkan kekayaan, sesungguhnya mitos belaka. Melihat dari kenyataan yang ada, tampaknya mitos itu tercipta akibat dari kecemburuan sosial yang ada di dalam masyarakat.
.
Dahulu kala, ketika orang-orang diketahui memelihara Begu Ganjang, maka orang itu akan dibunuh atau rumahnya dibakar warga yang kesal dengan praktik ilmu hitam. Walaupun tidak jar ing isu Begu Ganjang sengaja disebarkan untuk merusak nama baik eseorang — yang biasanya memang memiliki kekayaan yang berlebihan. Mitos itu masih biasa terdengar hingga sekarang. Korbannya pun masih ada yang berjatuhan akibat dituduh memelihara makhluk jahat tersebut.
.
Menurut cerita, Begu Ganjang sebenarnya adalah arwah dari seorang bayi yang meninggal. Kemudian, bayi yang belum genap tujuh hari meninggal itu diambil organ dalamnya oleh orang yang menguasai ilmu hitam. Entah bagaimana, arwah bayi itu bisa dibentuknya menjadi hantu pembunuh, Begu Ganjang. Walaupun tidak ada yang mengetahui dengan pasti mengapa sosok arwah penasaran dari bayi itu bisa menjelma menjadi sosok menakutkan dengan tubuh yang tinggi menjulang.


Keris Populer Sejak Abad ke 17

Cornelis de Houtman, seorang pelaut asal Belanda yang berlayar ke Kepulauan Nusantara pada 2 April 1595 untuk memastikan rute baru menuju kepulauan penghasil rempah-rempah, tiba di Banten pada Juni 1596, sebelum tiba kembali di Belanda pada 14 Agustus 1597.

Jacob Cornelius Van Neck, yang juga pelaut, mengikuti jejak Cornelis de Houtman, berlayar menuju Kepulauan Nusantara pada 1 Mei 1958. Dalam pelayaran ini, ada 8 (delapan) kapal terpisah menjadi dua kelompok setelah diterjang badai antara Tanjung Harapan dan Pulau Madagaskar. Van Neck dengan 3 kapal tiba lebih dulu di Banten pada 25 November 1598.


Sekitar sebulan kemudian, kapal-kapal lain di bawah pimpinan Wybrand Van Warwyck tiba di Banten pada 30 Desember 1598. Van Neck memulangkan 3 kapalnya lebih dahulu dan pada Juli 1599, rombongan ini tiba di Belanda. Kapal-kapal lain diperintahkan berlayar ke Kepulauan Maluku dan baru tiba di Belanda pada September 1600.

Rembrandt Hamerszoon van Rijn, pelukis asal Belanda yang lahir pada 15 Juli 1606 hingga wafat pada 6 Oktober 1669. Beberapa dari karya lukisannya adalah "Samson betrayed by Delilah" yang dilukis antara tahun 1628-1630, "Blinding of Samson" yang dilukis pada 1636. Lantas, apa hubungannya antara pelaut dengan pelukis?

Jawabannya adakah Keris. Satu kata saja Keris. Jika sampeyan jeli, sebilah keris dalam lukisan tersebut. Ya, pada 2 lukisan tersebut di atas, Rembrandt Sang Pelukis menggambarkan kejadian yang diceritakan di Alkitab dengan imajinasinya sendiri yang memasukkan keris dalam lukisan tersebut.

Nah. jika masuk dalam lukisan, maka kemungkinan besar dia (Rembrandt) pernah melihat bendanya secara langsung. Jika memang melihat bendanya langsung, maka tidak berlebihan untuk berkesimpulan bahwa pada dua ekspedisi pelayaran ke Nusantara, yang dibawa pulang tidak hanya rempah yang mendatangkan keuntungan luar biasa tapi juga benda-benda unik yang tidak ditemui di Belanda atau Eropa, dan salah satunya adalah keris.
 
Ah, rasah gegeden rumongso. Bisa saja dia berimajinasi dan menggambar sesuatu yang mirip dengan benda yang kita kenal sebagai keris?” Mungkin pertanyaan yang lebih dengan pernyataan ini hinggap dalam benak kita semua.

Jadi begini kisanak, dari literasi yang saya baca, ternyata Rembrandt punya hobi lain yaitu ethnografi, mengoleksi benda-benda etnik yang unik. Untuk Rembrandt, salah satunya adalah mengoleksi benda etnik dari Nusantara. Sayang, koleksi Rembrandt harus dilepas karena dia terlilit hutang. Untungnya belakangan ditemukan daftar barang yang dijual dari koleksinya sehingga, Rembrandt House, museum yang khusus didedikasikan untuk Rembrandt, bisa menemukan kembali beda-benda yang mirip dengan koleksi awal dan menata salah satu ruangan di museum untuk menampilkan suasana ruang yang dijadikan pajangan koleksi Rembrandt.


Referensi Tulisan :

Rick Mattew kompasiana
First Dutch expedition to Indonesia https://en.wikipedia.org/wiki/First_Dutch_Expedition_to_Indonesia
Second Dutch Expedition to Indonesia https://en.wikipedia.org/wiki/Second_Dutch_Expedition_to_Indonesia
Rembrandt https://en.wikipedia.org/wiki/Rembrandt
Rembrandt House http://www.rembrandthuis.nl/en/rembrandt-2/rembrandt-the-collector/