Rabu, 08 November 2017

Memaknai Sekep dan Nilai Pusaka Madura

Bentuk sekep yang paling dominan dipergunakan oleh kalangan bangsawan ialah keris pusaka. Kalangan pencinta pusaka semacam ini terfokus diwilayah Madura bagian timur, khususnya di Kabupaten Sumenep.

Bila membuka lembar sejarah pada masa kejayaan Madura, saat pertama Prabu Kertanegara dari Singosari mengutus dan melantik Raden Arya Wiraraja sebagai adipati Sumenep (Madura timur), pada tahun 1269 M. Maka charisma Madura semakin terangkat ke permukaan khusunya dimata raja-raja di Jawa. Mulai saat itu, periode kehidupan kalangan keratin mulai berkembang, sebagai sentral terbentuknya kultur yang mengarah pada kehidupan feodalisme artistokrat lahan “ilmu”. Dari situlah muncul ilmu-ilmu kedigdayaan yang antara lain tersebut dalam kekuatan pusaka.

Banyak macam pusaka Madura yang hingga saat masih dimiliki sebagai warisan leluhur keturunan para digdaya di Sumenep. Antara lain yang cukup dikenal yakni pusaka keris “ si Tambi”, “Bulu Ayam”, “Banuaju”, “Pamor Pakung”, “Si Jarum”, “Si Punjung”, “Baramma Batu”, “ Si Banir” dan “ Se Kelap”.

“Se kelap”, menurut Maknoen seorang pecinta pusaka di Sumenep merupakan diantara deretan pusaka yang cukup dikenal masyarakat Sumenep, karena keris pusaka itu dibuat oleh seorang empu terkenal dimasa lampau, tapi mudah ditiru oleh para pengrajin keris jaman sekarang. Sedang “Si Tambi”, menurut riwayat punya daya melumpuhkan serangan, tanpa harus mengorbankan nyawa. Barang siapa memiliki “Si Tambi”, keris kraton yang bergambar kepala kuda, maka akan terjamin keselamatannya. Sebab misalnya sedang pergi jauh dan berada ditempat yang rawan kejahatan, maka para penjahat yang bermaksud berbuat jahat kepada pemegang pusaka itu, tak akan terlihat. Dan dengan “Si Tambi” pula pemiliknya lebih mampu mengontrol diri untuk tidak berbuat gegabah dan emosi.

 

Pada dasarnya tiap benda-benda pusaka memiliki sejarah tersendiri. Dan dari sejarah itulah, sebuah benda pusaka dapat dibedakan antara yang asli (kuno) dan tiruan. Lebih awal benda pusaka itu dibuat, maka lebih tinggi nilai kharismatik dan kesohorannya. Itulah mengapa para pewaris benda pusaka selalu mempertahankan keberadaannya, karena merupakan “sangkol” yang tak mungkin dapat dipindah tangan selain kepada sanak keturunannya kelak.
Sebagai contoh, sejarah keris pusaka “Sangkelap” diciptakan oleh Empu Supo untuk Raja Mataram. Pada suatu ketika keris pusaka hilang dari tempatnya, padahal telah dijaga ketat oleh prajurit.

Dalam buku Adat Budaya Sumenep sebagai aspek Pembangunan Nyata yang disusun Syamsul Imam, menjelaskan bahwa keris pusaka “Sangkelap” diketahui dan diincar oleh seorang pencuri sakti bernama Macan Lurik (caloreng,Madura). Konon keris yang dicuri oleh tangan saksi Macan Caloreng lalu dibawa lari ke Blambangan. Begitu Raja tahu keris pusakanya hilang, maka Empu Supo diperintahkan untuk mencari.

Alkisah, sesuai dengan petunjuk gaib yang diterima Empu Supo, keris pusaka itu dibawa lari kearah timur. Dan pencarian itu segera dilakukan melewati Tuban, Bangkalan, Pamekasan, Sumenep dan akhirnya menyebrang selat Madura wilayah Besuki Kerajaan Blambangan. Dari perjalanan pencarian itulah, setiap daerah persinggahan Empu Supo menularkan ilmunya kepada masyarakat setempat, antara lain disebutkan, di Pamekasan mencipta keris “ Gerre Manjeng”, di Banuaju (Sumenep) dikenal “ Ki Gariming”, di Karangduak (kota Sumenep) “ Ki Murkali”.

Jadi tak heran, hasi binaan Empu Supo selama persinggahannya banyak menurunkan keempuannya, diantaranya selain tempat-tempat diatas, di Aeng Tongtong wilayah Kabupaten Sumenep hingga saat ini turunan murid-murid Empu Supo masih bertahan dalam kehidupannya sebagai pande keris yang merupakan pengrajin terkenal di Madura.

Jadi tak heran, hasil binaan Empu Supo sendiri, sesampai di Blambangan ia membuat pisau-pisau sebagai kebutuhan rumah tangga. Hingga akhirnya didengar oleh raja Blambangan. Singkat kisah akhirnya Raja bertitah agar dibuatkan keris serupa, setelah diketahui bahwa keris “Se Kelap” adalah ciptaannya yang saat itu sedang dicari. Proses pembuatan duplikat “Se Kelap” hanya dalam waktu singkat kemudian dihaturkan kepada Raja Blambangan, yang sebenarnya adalah Macan Caloreng pencuri keris itu yang diangkat oleh rakyat menjadi raja karena kedigdayaannya. Sedang “Se Kelap” asli oleh Empu Supo dimasukkan kedalam paha, sejajar dengan tulang paha, dan tidak meninggalkan bekas luka dan darah dipahanya. Demikian kisah singkat tentang “Se Kelap”. Kebenaran atau tidaknya, Wallahua’lam. Namun demikian sebagian orang Madura berkeyakinan bahwa setiap pusaka memiliki kelebihan yang tidak ditangkap logika.

Selain keris pusaka, masih banyak bentuk sekep-sekep lain yang juga memiliki kelebihan (kajunilan, Mdr) menurut pemiliknya. Yang kerap dikenal dalam bentuk batu-batuan,  ayat-ayat (isim) atau benda-benda lain yang lebih mudah dan praktis bila digunakan setiap saat. Meski demikian, tokoh-tokoh agama mengahawatirkan, bila suatu saat pemilik (pencinta) justru terjerumus dalam kepercayaannya pada benda.

Beberapa pencinta pusaka menyatakan, bahwa keris ataupun sekep lainnya memiliki nilai multifunsional. Yaitu disamping untuk menjaga keselamatan hidup, juga berfungsi sebagai penglaris dalam berdagang, pertanian, perindustrian, kedudukan, kepangkatan atau meningkatkan taraf hidup, social maupun status. Untuk itu dalam kancah modern ini, masih tampak dibeberapa tempat tertentu (keramat) dikunjungi para pejabat (tertentu) untuk mendapatkan wangsit atau kepada para sesepuh, dukun atau orang yang berilmu tinggi untuk minta “bekal”, baik berupa benda maupun amalan-amalan.

Keampuhan pusaka sering ditunjukkan oleh para pelaut Madura ketika terperangkap kedatangan angin puting beliung (ola’ taon, Mdr) yang menghadang ditengah lautan. “Ola’ taon merupakan pusaran angin yang membentuk memanjang dari atas kebawah, seperti ular naga yang siap melumat benda-benda apa saja yang berada dibawahnya.

Ola’ taon, biasanya muncul pada akhir atau awal tahun, yaitu ketika menjelang musim pemghujan turun. Ola’ taon ini sangat ditakuti oleh para nelayan. Sebab apabila pusaran angin tu menukik dan menyentuh laut, maka akan terjadi pergolakan gelombang laut yang bakal memporak-porandakan perahu atau kapal yang berlayar. Meski demikian, para awak pada umumnya telah membekali diri untuk menghalau pusaran angin “Ola’ taon” itu. Yaitu apabila tampak benda gas itu menghadang disekitarnya, dengan kemampuan pusaka (biasanya berbentuk keris) lalu diarahkan pada angin raksasa itu (tentu dengan amalannya), maka putuslah tubuh “Ola’ taon” dan berpencar serta menghembus kearah daratan. Suatu keanehan, bila pusaran angin itu pecah, maka tidak akan menimbulkan bahaya, baik dilaut maupun di darat.

Jadi makna sekep, baik dalam bentuk senjata tajam atau bentuk benda lainnya mengandung arti luhur, bukan untuk mencelakakan orang lain, namun semata-mata sebagai isyarat agar lebih waspada dan hati-hati, bukan untuk bersikap sombong, egois atau gagah-gagahan sebagaimana kerap terlihat visualisasi selama ini.

Sebenarnya sekep mempunyai filsafat tersendiri, yaitu pada umumnya sekep diselipkan dipinggang dalam posisi kebawah (merunduk), yaitu bagian yang tajam berada dibawah. Hal ini mengisyaratkan agar pemilik (pemakai) nya selalu memperhatikan kebawah. Namun kenyataan yang sering terlihat, justru posisi tangkai yang berada diatas, dimanfaatkan untuk mempercepat proses pencabutan. Hal ini tentu, pihak pemakai hanya kenal wujud dan fisiknya saja, namun belum mengerti makna dan hakekat senjata disekep.

Kalangan orang Madura tradisional, mengatakan “ Tulang rusuk laki-laki barisan kiri itu kurang jumlahnya, tidak lengkap seperti barisan tulang rusuk bagian kanan, karena sepotong tulang sudah diambil dan dijelmakan menjadi perempuan. Untuk memenuhi kekurangan itu, seorang laki-laki akan utuh setelah dilengkapi sekep (celurit) mirip tulang rusuk”.

Khodam Pendamping Manusia

Kekuatan atau kemampuan  yang dimiliki oleh seorang spiritual yang biasa melakukan olah batin seperti puasa, bertapa, semedi, membaca mantra atau wirid amalan tertentu, sebetulnya adalah dari Khodam. Disadari ataupun tidak, setiap olah batin yang dilakukan manusia selalu menimbulkan energi-energi yang memiliki kesadaran/kecerdasan sendiri. Inilah peran dari khodam. Mereka diciptakan Tuhan sebagai perantara yang membawa kekuatan supranatural bagi orang-orang yang dikehendaki.

Sebagian orang beranggapan bahwa memiliki khodam (atau ilmu spiritual yang ada khodamnya) adalah sebuah kesyirikan atau dosa besar. Bagi kami, pendapat ini adalah pendapat yang “membabi buta” karena pengertian khodam sangat luas. Sedangkan khodam sendiri terdiri dari berbagai jenis yang tidak bisa disamakan. Berikut ini pembahasan panjang mengenai khodam…

Istilah “khodam” berasal dari bahasa arab yang berarti pembantu, penjaga atau pengawal yang selalu mengikuti. Dalam bahasa arab pembantu rumah tangga, sopir, tukang kebun dan satpam juga bisa disebut sebagai khodam. Namun dalam konteks ilmu spiritual, istilah “khodam” digunakan khusus untuk menyebut makhluk gaib yang mengikuti pemilik ilmu spiritual atau yang mendiami suatu benda pusaka. Dalam konsep spiritual jawa, khodam disebut sebagai “prewangan” yang artinya adalah orang yang membantu.

Khodam dalam konsep mistik islam dan jawa diyakini sebagai “jiwa” suatu ilmu. Khodam memberi energi pada pemilik ilmu sehingga bisa melakukan hal-hal diluar kewajaran. Tentu saja ada khodam yang minta imbalan ada pula yang “gratis” karena khodam ini datang karena kehendak Allah, bukan “dipaksakan” oleh manusia. Yang dimaksud “dipaksakan” adalah khodam ini datang karena seseorang melakukan ritual pemanggilan yang ditujukan untuk meminta tolong kepada khodam dari golongan jin.

Mengenai siapakah sebernarnya khodam, para spiritualist berpendapat berbeda-beda. Kelompok pertama mengatakan khodam adalah jenis makhluk tertentu yang khusus diciptakan Tuhan sebagai “pembawa” kekuatan bagi para pemilik ilmu dan benda pusaka. Kelompok ini tidak punya dalil yang kuat untuk mendukung pendapatnya, jadi pendapat ini boleh kita abaikan.

Kelompok kedua berpendapat bahwa khodam hanyalah sebutan atau julukan bagi Jin, Qorin dan Malaikat yang membantu manusia. Seperti istilah “setan” yang sebetulnya bukanlah jenis mahluk, melainkan hanya julukan bagi jin atau manusia yang suka berbuat kejahatan. Dalam kitab Al-Quran pun diterangkan bahwa Tuhan hanya menciptakan hambanya yang berakal dalam tiga bentuk saja, yaitu: Malaikat, Manusia dan Jin. Ustadz Firman sendiri lebih meyakini pendapat kedua ini.

Mengapa Khodam membantu manusia?
Karena khodam terdiri dari tiga jenis makhluk yaitu Jin, Qorin dan Malaikat, maka alasan mereka bersedia membantu manusia juga berbeda-beda. OK. agar Anda lebih paham, kami jelaskan satu per satu dibawah ini:

1. Khodam Jin
 
Pelu Anda ketahui bahwa kehidupan sosial jin sama seperti manusia. Mereka terdiri dari bermacam-macam ras dan kelompok yang sangat kompleks. Setiap jin punya sifat dan kebutuhan yang berbeda-beda seperti pada manusia. Begitu pula dalam dalam membantu manusia, mereka punya alasan yang
berbeda-beda. Namun secara garis besar, ada 5 alasan mengapa jin mau membantu manusia.

a. Ingin menyesatkan manusia. Kelompok jin ini adalah tentara ilbis yang ditugaskan untuk membantu para tukang sihir dan penganut ilmu hitam. Orang yang ingin memiliki khodam jenis ini harus melakukan perbuatan atau ritual yang melanggar aturan Tuhan. Misalnya untuk medapatkan ilmu sihir mereka harus menyediakan sesaji, makan darah, membunuh, melakukan dosa besar dan sebagainya. Jin jenis ini sangat senang jika manusia yang didampinginya jauh dari agama.

Bukan hanya penganut ilmu hitam saja yang dibantu oleh jin tentara iblis ini. Para penganut thariqoh (orang yang menapaki jalan spiritual menuju Tuhan) dan orang soleh yang kurang waspada pun disesatkan oleh jin golongan ini. Awalnya jin mengaku sebagai guru spiritual yang sudah meninggal atau malaikat yang akan membimbingnya dan membantu segala usahanya. Seketika seorang ahli thariqoh pun memiliki banyak “kesaktian”. Namun perlahan-lahan jin cerdas ini memperdaya ahli thariqoh hingga dia melanggar aturan agama.

b. Ingin mendapatkan keuntungan dari manusia.
 Khodam Jin jenis ini selalu meminta imbalan dalam bentuk sesaji, persembahan, korban, bahkan ada yang mengadakan perjanjian, jika sudah sampai waktu yang ditentukan pemilik ilmu bersedia menjadi budak/pengikut di alam jin. Orang yang menjadi budak jin, meniggalkan jasadnya, kemudian jiwanya dibawa ke alam jin. Sehingga dia tampak mati bagi orang awam, padahal dia sebetulnya belum mati. Nanti ketika sudah sampai batas usianya, malaikat maut baru menjemputnya untuk dihadapkan kepada Tuhan. Oleh karena itu jangan pernah berniat untuk mendapatkan pesugihan atau “harta gaib” yang datang tiba-tiba dengan bantuan jin.

Keadaan ini sesuai dengan Al-Quran surah Al-Jin ayat 6, yang terjemahnya: Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

c.karena mencintai manusia. 
 Kadang kami menemui ada jin yang mengikuti manusia dengan alasan cinta. Cinta yang kami maksud adalah seperti cinta pria kepada wanita. Umumnya jin yang seperti ini selalu berusaha membantu manusia yang dicintainya, sekaligus mengganggu. Bentuk bantuannya bisa berupa kemampuan mengobati, perlindungan dari kejahatan, kemampuan mengetahui rahasia orang dan sebagainya. Sedangkan gangguannya biasanya berupa: merasa diikuti seseorang, sulit mencintai, hubungan cinta selalu gagal, kesurupan/kerasukan dan sering mimpi bersetubuh. Bahkan kadang ada jin yang datang dalam wujud manusia untuk menyetubuhi manusia dalam keadaan sadar.

d.Persahabatabn. 
 Bagi sebagian orang yang memiliki ilmu spiritual tertentu, bersahabat dengan jin bukanlah hal mustahil. Idealnya hubungan persahabatan adalah saling membantu dan berbagi. Namun kenyataannya hubungan persahabatan dengan jin bisa menguntungkan atau merugikan Anda, bahkan kadang juga menyesatkan Anda. hal ini sama jika kita bersahabat dengan sesama manusia. Jika sahabat kita adalah orang baik, maka kita pun terbawa menjadi baik. Tapi jika kita berteman dengan penjahat, maka kita pun bisa dirugikan atau malah bergabung menjadi penjahat. Semua itu tergantung sifat dan kepribadian Anda

e. Karena mengagumi kepribadian manusia.
 Orang-orang saleh yang selalu berbuat kebajikan menjadikan kelompok Jin Muslim kagum. Kaum jin ini mengikuti orang saleh untuk meniru kebaikannya, mendengarkan ceramah yang disampaikannya, dan menjadi makmum ketika orang saleh tersebut melakukan ibadah. Disadari ataupun tidak, kelompok jin ini menjadikan orang saleh sebagai guru spiritualnya. Mereka juga berusaha untuk membantu, melindungi dan berdoa untuk guru spiritualnya itu. tidak ada keburukan yang disebabkan oleh jin-jin ini.

2. Khodam Sejenis Qorin 

Sejak seorang manusia lahir, maka tercipatalah pula satu Qorin yang mengikutinya sampai kahir hayat. Namun yang kami bahas disini bukanlah Qorin yang mengikuti manusia lahir itu, melainkan Khodam Qorin yang didapat karena olah spiritual tertentu. Jumlahnya pun tak hanya satu, seorang manusia yang memiliki ilmu spiritual bisa saja diikuti puluhan, ratusan atau ribuan Qorin.

Qorin sebetulnya adalah golongan jin. Qorin lahir dari ayah dan ibu jin biasa, namun dengan kekuasaan Allah dia melahirkan Qorin yang memiliki sifat khusus. Sifat khusus yang dimaksud adalah tidak memiliki jenis kelamin (tapi bukan banci), sifat pasif dan tidak memiliki nafsu seksual. Qorin tidak bisa mempengaruhi pikiran manusia dan tidak bisa menampakan diri karena meterinya lebih halus dibanding jin biasa. Qorin hanya bisa dilihat dengan mata batin. Penampilannya pun dalam bentuk yang indah dan sopan. Umumnya Qorin tampil dalam bentuk laki-laki berpakaian serba putih dengan wajah yang tampan.

Khodam dari jenis Qorin mengikuti pemilik ilmu spiritual aliran putih dan tentunya Qorin datang atas kehendak Tuhan. Yang kami maksud Ilmu Spiritual Aliran Putih adalah aliran yang meyakini bahwa semua kekuatan spiritual sejatinya bersumber dari Tuhan. Penganut aliran putih tidak meminta kecuali hanya kepada Tuhan. Khodam jenis ini tidak meminta imbalan dalam bentuk apapun. Kalangan spiritualist yakin, ikutnya Qorin sebagai khodam manusia bisa diusahakan dengan olah spiritual seperti puasa, meditasi, membaca doa atau mantra. Sedangkan di MSC, ikutnya Qorin bisa dipersingkat dengan metaresonansi. Murid MSC yang belajar Ilmu Khodam juga bisa mendapat “pembantu” dari jenis Qorin.

Sebagian spiritualist yang waskita ada yang menyebut Jin Qorin sebagai “Jin Batin” karena memang sifatnya yang lebih halus dari Jin pada umumnya. Jin biasa lebih mudah untuk dilihat, meskipun tinggkat kepekaan indra ke-enam orang yang melihat masih dasar. Namun untuk bisa melihat Jin Qorin dibutuhkan kepekaan indra keenam yang lebih tinggi, dikarenakan dia berada di dimensi yang lebih halus.

Dalam keyakinan mistik jawa-islam, ada juga konsep untuk menghadirkan kekuatan khodam wali, khodam nabi dan sebagainya. Nah sebetulnya yang dimaksud khodam wali atau nabi, bukanlah roh dari wali dan nabi itu hadir dan membantu Anda. Ketika kita menghadirkan khodam wali atau nabi, yang hadir adalah salah satu atau beberapa Qorin yang pernah menjadi khodam (baca: mengikuti) wali atau nabi tersebut.

3. Khodam Malaikat

Adanya khodam dari kalangan Malaikat tertuang dalam ayat berikut: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, dimuka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Quran surat Ar-Ra’d ayat 11).

Mengenai Khodam dari golongan Malaikat, kami tidak bisa menerangkannya lebih jauh, karena mata manusia (sekalipun memiliki mata batin) akan sangat sulit mengamati malaikat. Hanya orang-orang khusus yang dikehendaki Tuhan-lah yang memahami seperti apa sebetulnya wujud perlindungan malaikat itu. Meskipun mata tidak bisa melihat, tapi kami yakin bahwa perlindungan malaikat selalu ada menyertai orang yang selalu berusaha untuk kebaikan. khodam malaikat inilah yang menjadi pelindung pemilik Ilmu Maha Spiritual.
Benarkah ada Malaikat yang bisa dijadikan Khodam?

Menurut para spiritualist, memang ada orang yang benar-benar dikawal oleh malaikat pelindung kemanapun dia pergi. Namun orang seperti ini sangat langka dan itu pun terjadi bukan karena dia belajar ilmu spiritual tertentu, melainkan itulah karomah dari Allah yang diberikan sebagai hadiah kesolehan dan keihlasannya. Orang yang dikawal malaikat bisa jadi tidak menyadari karena dia tidak pernah memohon kehadiran malaikat itu. Tentu konsep karromah ini berbeda dengan konsep olah spiritual yang mana kita melakukan olah spiritual memang dengan tujuan mendatangkan kekuatan spiritual.

Sebetulnya -dengan pengamatan mata batin yang teliti- kami hanya bisa mengamati bahwa hanya wujud Energi dari Malaikat saja yang mengikuti pemilik Ilmu Spiritual Tingkat Tinggi. Malaikat secara pribadi tidak bersanding dengan manusia biasa. Mengingat malaikat adalah mahluk suci, sedangkan manusia biasa seperti kita umumnya masih sering berbuat dosa kecil, bahkan kadang karena kelalaian, dosa besar pun kita lakukan.

Jadi jika dikatakan Anda telah memiliki khodam malaikat, belum tentu berarti secara harfiah Anda diikuti oleh malaikat langsung, yang mengikuti Anda hanyalah energi dari malaikat. Namun tidak tertutup kemungkinan jika ada orang yang diikuti Malaikat secara pribadi, karena kedatangan Malaikat sebagai pembantu manusia adalah kehendak Tuhan.
Dosakah jika saya punya khodam ?

Seperti Anda ketahui, khodam terdiri dari 3 jenis yang memiliki sifat berbeda. Proses datangnya khodam pun berbeda-beda. Jadi dosa atau tidak jika Anda memilki khodam sangat tergantung proses datangnya khodam itu sendiri. Jika khodam tersebut dari golongan malaikat dan qorin, maka tidak ada alasan untuk memvonis Anda dosa. Karena sesungguhnya kehadiran malaikat dan qorin atas kehendak Tuhan.
Jika jin mengikuti Anda karena jin tersebut cinta atau mengagumi, maka Anda pun tidak bisa dianggap berdosa, karena kedatangan jin tersebut bukan atas keinginan Anda.

Namun jika khodam jin membantu karena Anda mengerjakan sihir, belajar ilmu hitam atau mengadakan perjanjian dengan jin, maka itu sudah pasti dosa.
Memiliki khodam, selama ditempuh dengan cara yang benar, bukanlah suatu kemusyrikan, dan bukan berarti kita meyakini bahwa Tuhan tidak mampu menolong manusia secara langsung. Sudah menjadi aturan Tuhan, bahwa Tuhan memenuhi kebutuhan makhluknya – termasuk dalam memberi pertolongan – selalu melibatkan makhluk ciptaanya.

Sebagai contoh kita semua yakin malaikat Raqib dan Atib yang bertugas mencatat setiap amal baik-buruk manusia. Mereka diyakini berada di bahu kanan dan kiri setiap manusia*. Dengan adanya malaikat ini, bukan berarti kita meyakini Allah kurang kekuasaannya atau Tuhan repot mengurus manusia, sehingga menciptakan malaikat sebagai pembantu untuk meringankan tugas Tuhan. Adanya malaikat dengan tugas-tugas tertentu adalah hukum Allah dan manusia hanya bisa menerima kenyataan itu.

 


Jumat, 03 November 2017

Makna Simbolik Dibalik Kembang Sesajen

Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang.Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang. Tradisi atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan  sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama.

Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah. Selain itu, tradisi juga dapat diartikan sebagai kebiasaan bersama dalam masyarakat manusia, yang secara otomatis akan mempengaruhi aksi dan reaksi dalam kehidupan sehari-hari para anggota masyarakat itu.

Dalam falsafah hidup masyarakat Jawa, berbakti kepada kedua orang tua dan para leluhur yang menurunkan adalah suatu ajaran yang diagungkan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, ungkapan rasa berbakti, tidak hanya diucapkan dalam ikrar doa-doa puji-pujian yang ditujukan kepada leluhurnya. Salah satu wujud nyata rasa berbakti tersebut adalah berupa sesaji, yang dimaksud sebagai persembahan atas segala rasa hormat dan rasa terimakasih tak terhingga kepada para leluhur yang telah wafat. Yang mana semasa hidupnya telah banyak berjasa memberikan warisan ilmu, harta benda, dan lingkungan alam yang terpelihara dengan baik sehingga masih dapat kita nikmati sampai saat ini dan memberikan manfaat untuk kebaikan hidup kita.

Berikut ini adalah beberapa contoh menu persembahan sebagai ungkapan rasa menghormati kepada leluhur (sesaji). Masing-masing uborampe mempunyai ciri khas dan makna yang dalam. Tanpa memahami makna, rasanya persembahan sesaji akan terasa hambar dan mudah menimbulkan prasangka buruk, dianggap sesat, tak ada tuntunannya, dan syirik. Tetapi semua prasangka itu tentu datang dari hasil pemikiran yang tak cukup informasi untuk mengenal dan memahami apa makna hakekat di balik semua itu.

Kembang
Atau bunga. Bermakna filosofis agar kita dan keluarga senantiasa mendapatkan “keharuman” dari para leluhur. Keharuman merupakan kiasan dari berkah-safa’at yang berlimpah dari para leluhur, dapat mengalir (sumrambah) kepada anak turunnya.

Kembang  Setaman
Uborampe ini sangat fleksibel, cakupannya luas dan dimanfaatkan dalam berbagai acara ritus dan kegiatan spiritual. Kembang setaman versi Jawa terdiri dari beberapa jenis bunga. Yakni, mawar, melati, kanthil, dan kenanga.

Adapun makna-makna bunga tersebut yang sarat akan makna filosofis adalah sbb :

Kembang Kanthil (kanthi laku, tansah kumanthil)
Atau simbol pepeling bahwa untuk meraih ngelmu iku kalakone kanthi laku. Lekase kalawan kas, tegese kas iku nyantosani. Maksudnya, untuk meraih ilmu spiritual serta meraih kesuksesan lahir dan batin, setiap orang tidak cukup hanya dengan memohon-mohon doa. Kesadaran spiritual tak akan bisa dialami secara lahir dan batin tanpa adanya penghayatan akan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari (lakutama atau perilaku yang utama).

Bunga kanthil berarti pula, adanya tali rasa, atau tansah kumanthil-kanthil, yang bermakna pula kasih sayang yang mendalam tiada terputus. Yakni curahan kasih sayang kepada seluruh makhluk, kepada kedua orang tuanya dan para leluhurnya. Bukankah hidup ini pada dasarnya untuk saling memberi dan menerima kasih sayang kepada dan dari seluruh makhluk?

Kembang Mlathi (rasa melad saka njero ati)
Dalam berucap dan berbicara hendaknya kita selalu mengandung ketulusan dari hati nurani yang paling dalam. Lahir dan batin haruslah selalu sama, kompak, tidak munafik. Menjalani segala sesuatu tidak asal bunyi, tidak asal-asalan. Kembang melati, atau mlathi, bermakna filosofis bahwa setiap orang melakukan segala kebaikan hendaklah melibatkan hati (sembah kalbu), jangan hanya dilakukan secara gerak ragawi saja.

Kembang Kenanga (keneng-a)
Atau gapailah..! Segala keluhuran yang telah dicapai oleh para pendahulu. Berarti generasi penerus seyogyanya mencontoh perilaku yang baik dan prestasi tinggi yang berhasil dicapai para leluhur semasa hidupnya. Kenanga, kenang-en ing angga. Bermakna filosofis agar supaya anak turun selalu mengenang, semua “pusaka” warisan leluhur berupa benda-benda seni, tradisi, kesenian, kebudayaan, filsafat, dan ilmu spiritual yang banyak mengandung nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom).

Kembang Mawar (mawi – arsa)
Dengan kehendak atau niat. Menghayati nilai-nilai luhur hendaknya dengan niat. Mawar, atau awar-awar ben tawar. Buatlah hati menjadi “tawar” alias tulus. Jadi niat tersebut harus berdasarkan ketulusan, menjalani segala sesuatu tanpa pamrih (tapa ngrame) sekalipun pamrih mengharap-harap pahala. Pahala tetap saja “upah” yang diharapkan datang dari Tuhan apabila seseorang melakukan suatu perbuatan baik. Pamrih pahala ini tetap saja pamrih, berarti belum mencapai ketulusan yang tiada batas atau keadaan rasa tulus pada titik nihil, yakni duwe rasa, ora duwe rasa duwe (punya rasa tidak punya rasa punya) sebagaimana ketulusan Tuhan/kekuatan alam semesta dalam melimpahkan anugrah kepada seluruh makhluk.

Mawar Merah dan Mawar Putih
Mawar melambangkan proses terjadinya atau lahirnya diri kita ke dunia fana. Yakni lambangdumadine jalma menungsa melalui langkah Triwikrama. Mawar merah melambangkan ibu. Ibu adalah tempat per-empu-an di dalam mana jiwa-raga kita diukir. Dalam bancakan weton dilambangkan juga berupa bubur merah (bubur manis gula jawa).

Dlingo dan Bengle
Keduanya termasuk rempah-rempah, atau empon-empon. Bengle bentuk luarnya mirip jahe. Tetapi baunya sangat menyengat dan bisa membuat puisng. Sedangkan dalamnya berwarna kuning muda. Karena baunya yang mblengeri sehingga di Indonesia jenis rempah ini tidak digunakan sebagai bumbu masak. Sebaliknya di negeri Thailand rempah ini termasuk sebagai bumbu masak utama.
Entah apa sebabnya, bengle dan dlingo merupakan rempah yang sangat tidak disukai oleh bangsa lelembut. Sehingga masyarakat Jawa sering memanfaatkannya sebagai sarana penolak bala atau gangguan berbagai makhluk halus. Anda dapat membuktikannya secara sederhana. Bila ada orang gila yang dicurigai karena ketempelan mahluk halus, atau jika ada seseorang sedang kesurupan, coba saja anda ambil bengle, atau parutan bengle, lalu oleskan di bagian tubuhnya mana saja, terutama di bagian tengkuk.
 
Anda akan melihat sendiri bagaimana reaksinya. Biasanya ia akan ketakutan atau berteriak histeris lalu sembuh dari kesurupan. Dalam tradisi Jawa, jika ada orang meninggal dunia biasanya disiapkan parutan bengle dicampur dengan sedikit air digunakan sebagai pengoles bagian belakang telinga. Gunanya untuk menangkal sawan.

Dlingo dan Bengle, walaupun keduanya sangat berbeda bentuk dan rupanya, tetapi baunya seolah matching, sangat serasi dan sekilas baunya hampir sama. Dlingo dan bengle bermanfaat pula sebagai sarana memasaang pagar gaib di lingkungan rumah tinggal. Dengan cara ; dlingo dan bengle ditusuk bersama seperti sate, lalu di tanam di setiap sudut pekarangan atau rumah.

Akhir kata, sampai di sini dulu pelajaran berharga yang kini sering dianggap remeh bagi yang merasa diri telah suci dan kaya pengetahuan. Di balik semua itu sejatinya memuat nilai adiluhung sebagai “pusaka” warisan leluhur, nenek moyang kita, nenek moyang bangsa ini sebagai wujud sikapnya yang bijaksana dalam memahami jagad raya dan segala isinya. Doa tak hanya diucap dari mulut. Tetapi juga diwujudkan dalam bergai simbol dan lambang supaya hakekat pepeling/ajaran yang ada di dalamnya mudah diingat-ingat untuk selalu dihayati dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Ajaran adiluhung yang di dalamnya penuh arti, sarat dengan filsafat kehidupan. Kaya akan makna alegoris tentang moralitas dan spiritualitas dalam memahami jati diri alam semesta, jagad nusantara, serta jagad kecil yang ada dalam diri kita pribadi.  


Kamis, 02 November 2017

Makna Filosofi Bangunan Keraton Surakarta

Gapura Gladag
   “Wong Jowo nggone semu.” Orang Jawa ahlinya perlambang. Begitu ungkapan yang konon pas untuk menggambarkan citra manusia Jawa. Yang tidak suka mengungkapkan sesuatu secara gamblang, melainkan membalutnya dengan menggunakan pasemon, atau sebuah perlambang. Terutama tentang ajaran kehidupan.

Dan itu pula yang  kita dapatkan dari bangunan yang ada pada keraton Solo. Ketika menikmati keindahan bangunan Bangsal dan Bale yang ada di kawasan Sitinggil.
Kalau kita berjalan meninggalkan Pagelaran ke arah selatan, maka akan menemukan bangunan yang bernama Sitinggil atau Sitihinggil itu.

Bangunan yang secara harfiah berarti tanah yang ditinggikan. Karena dalam bahasa Jawa, siti berarti tanah dan hinggil adalah tinggi. Maka kita temui sekarang, bangunan Sitinggil benar-benar merupakan tempat yang lebih tinggi dibanding bangunan yang lain di sekitarnya. Bahkan  lingkungan ini pun dikelilingi oleh tembok tebal yang tinggi pula.

Dan konon makna dari bangunan Sitinggil merupakan perlambang berkembangnya kedewasaan manusia. Maka untuk menjabarkan ajaran itu, jalan dari Pagelaran menuju Sitinggil pun dibuat mendaki. Merupakan gambaran naiknya tingkat kejiwaan kita.

Jalan berundak ini bernama Kori Mijil, yang berarti pintu keluar. Dalam bahasa Jawa kori adalah pintu, dan mijil adalah keluar. Sebuah ajaran untuk mengingatkan kita, bahwa cermin kedewasaan jiwa adalah kemampuannya menjaga ucapan. Hingga dalam bertutur kata hendaknya apa yang keluar dari mulut kita hanyalah kebenaran dan kejujuran saja.

Sitihinggil
Kawasan Sitinggil lengkapnya bernama Sitinggil Binata Wrata. Bangunan yang didirikan Paku Buwono III pada tahun 1774 dengan candrasengkala ‘Siti Inggil Palenggahaning Ratu’. Sebuah kode hitungan tahun matahari yang secara kata berarti ‘tanah yang ditinggikan sebagai tempat bertakthanya raja’.

Selepas menapaki jalan berundak Kori Mijil, bangunan paling depan kawasan Sitinggil bernama Bangsal Sewayana. Yang pada jaman dulu merupakan tempat para pejabat menghadap raja. Juga merupakan aula untuk melaksanakan upacara kebesaran kerajaan.

Berada di tengah-tengah Bangsal Sewayana, terdapat bangunan bernama Bale Manguntur Tangkil. Inilah tempat singgasana raja bertakhta. Konon di bawahnya tertanam batu andesit yang merupakan takhta kebesaran Prabu Suryawisesa, sang Raja Jenggala.

Manguntur Tangkil berasal dari kata manguntur dan tangkil. Manguntur bermula dari kata mangun tutur, yang berarti membuat kata-kata indah atau memberikan sebuah ucapan rayuan. Sedangkan tangkil berarti tampil ke depan. Jadi secara harfiah, manguntur tangkil berarti memulai dengan kata-kata rayuan yang penuh keindahan.

Sebagai pribadi yang telah dewasa, merupakan saat yang diwajibkan untuk bisa mengolah asmara dalam sebuah pernikahan yang sakral. Karena dengan itu, kedua pribadi dewasa akan melahirkan keturunan bagi kelangsungan hidup mereka.

Hingga bisa dikatakan, kawasan Sitinggil merupakan bangunan yang maknanya mengajarkan kedewasaan. Dan Bale Manguntur Tangkil merupakan perlambang menuju ke arah itu. Karena setelah dewasa dan menikah, maka kehidupan rumah tangga sebagai suami istri pun dimulai. Merupakan saat bertemunya laki-laki dan perempuan yang tengah dianugerahi nikmat asmara.

Maka manguntur tangkil atau menampilkan rayuan adalah ajaran untuk saling mengungkapkan rasa cinta. Sebuah tuntunan membangkitkan asmara agar jiwa bersatu dalam membentuk generasi baru. Yang proses ‘ibadah terindah’ itu akan terasa lebih indah apabila didahului dengan saling menampilkan kata-kata indah atau cumbu rayu.
Berada di belakang Bangsal Manguntur Tangkil, sebuah bangunan bernama Bangsal Witana. Dahulu merupakan tempat berkumpulnya para abdi dalem yang membawa perangkat upacara kebesaran kerajaan.

Witana berasal dari kata ‘wiwitane ana’ yang berarti awal mula kehadiran manusia. Sebuah perlambang tentang permulaan kehidupan, yang dimulai dari tersedianya ‘benih’ dan ‘rahim’. Sebuah makna dari bertemunya benih dari perempuan untuk dibuahi oleh laki-laki. Yang proses itu menjadi wiwitane ana, atau awal hadirnya keturunan kita.

Melangkah lagi ke depan, terdapat sebuah bangunan bernama Bangsal Manguneng. Letaknya tepat berada di tengah-tengan Bangsal Witana dan Bangsal Sewayana.
Secara harfiah manguneng berarti mengheningkan cipta. Karena manguneng berasal dari kata mangun yang artinya membangun dan meneng yang berarti diam. Maka Bangsal Manguneng merupakan perlambang agar pribadi yang dewasa dalam membentuk keturunan baru, harus melalui proses mengheningkan cipta. Yakni untuk selalu meniatkan dan mendekatkan diri pada Tuhan, dengan makin memperbanyak doa.

Songgobuwono
Dari Bangsal Manguneng, kalau kita menoleh ke timur, akan bertemu dengan Bangsal Angun-angun. Kata angun-angun mempunyai arti sesuatu yang masih samar atau masih dibayangkan. Bangunan yang menjadi perlambang, bahwa membentuk keturunan baru adalah sebuah rencana yang  masih berada dalam harapan. Karena itulah, harus semakin giat mendekatkan diri pada Tuhan, bahkan memerlukan penguat iman.

Maka di barat Bangsal Sewayana, kita akan dapati sebuah bangunan bernama Bangsal Bale Bang. Bale Bang berasal dari kata nggebang yang artinya menegakkan. Sebuah ajaran untuk selalu menegakkan atau memperkuat keimanan. Harus mempertebal iman dalam membentuk pribadi yang masih diangankan sebagai keturunan kita.

Kemudian, berada di sebelah selatan Bangsal Witana kita dapati sebuah tembok tinggi memanjang bernama Kori Renteng. Sebuah tembok penghalang yang jika dilihat dari arah selatan, seluruh bangunan yang berada di Sitinggil tidak bisa kelihatan.
Karena Kori Renteng artinya pintu penutup. Sebuah bangunan yang merupakan kiasan dari usaha untuk selalu menutup atau menjaga rahasia keluarga. Bahwa sesuatu yang ada dalam rumah tangga kita, orang lain tidak selayaknya ikut mengetahuinya.

Cukup suami istri saja yang tahu apa cela dan kekurangan masing-masing. Karena bukan pribadi yang dewasa, ketika seorang suami masih suka mengeluhkan kekurangan istrinya. Dan bukan istri yang dewasa, ketika sangat gemar membeberkan kekurangan suaminya.

Maka Kori Renteng yang merupakan pintu penghalang dari arah utara kawasan Sitinggil, sangat tepat untuk menjadi pembelajaran. Bahwa kebersamaan menjaga rahasia, menghormati dan menghargai perbedaan adalah sebuah cermin sikap jiwa yang dewasa. Yang juga merupakan sebuah jalan untuk menjadi sebuah keluarga bahagia.

Karena hanya dari keluarga bahagia itulah yang akan melahirkan generasi yang berguna bagi sesama. Yang dari pertama membangun keluarga, sudah dimulai dengan sebuah kejujuran dan keterbukaan. Bahkan ketika membentuk dan merencanakan keturunan pun selalu diikuti dengan doa dan sepenuh mengheningkan cipta. Dengan selalu mendekatkan diri pada Tuhan untuk semakin mempertebal iman.

Maka selepas dari Sitinggil, sebagai jalan ke luar ke arah selatan, kita akan melewati sebuah pintu besar bernama Kori Mangu. Sebuah pintu yang bermakna untuk membuang segala sikap keragu-raguan atau kebimbangan. Sebab kori dalam bahasa Jawa adalah pintu, dan mangu artinya ragu-ragu.

Suatu ajaran untuk mengingatkan kita, bahwa ciri kedewasaan jiwa juga hendaknya tidak mudah digelisahkan oleh keraguan. Juga tidak gampang bimbang untuk meneruskan langkah peningkatan jiwa selanjutnya, menuju kesempurnaan kehidupan.  


Cetik, Racun Mistis Paling Mematikan Dari Bali

 Pengertian cetik pada dasarnya adalah racun, menariknya racun jenis ini tergolong canggih dan mematikan. Bagimana tidak, bagi yang mengusai ilmu ini, tanpa menyentuh obyek benda yang menjadi media racun, si korban akan tersakiti seperti keinginan si pelaku. Cetik dalam khasanah budaya Bali termasuk ilmu pengiwan.

Ilmu Pangiwa dapat dibagi menjadi 5 bagian yang merupakan cabangnya, yaitu:

§  Pengasren
§  Pangeger
§  Pangasih - asih
§  Penangkep
§  Pangleakan (aji wegig)

Pengasren
Pengasren adalah cabang ilmu pangiwa yang mampu membuat pemakainya menjadi lebih cantik / tampan. Dengan ilmu ini, si pemakai bisa membuat si korban tergila-gila bahkan lupa dengan segala-galannya termasuk keluarga.

Pangeger
Sungguh sangat ambigu bagi orang yang mengetahui nama ilmu pangeger. Sebab dalam Lontar Usada Manak, nama ilmu pangeger adalah ilmu untuk memperlancar / mempercepat proses kelahiran. Di samping pangeger tersebut, ada juga ilmu yang disebut dengan panyeseh, dimana fungsi kedua ilmu ini adalah sama.

Pangasih-asih
Pengasih-asih adalah cabang ilmu pangiwa yang bertujuan membuat orang jatuh cinta kepada orang yang mengamalkan ilmu pangiwa. Hal ini biasanya menggunakan sarana berupa guna-guna. masyarakat Bali mengenal beberapa jenis guna, yaitu Guna Lilit, Guna Jaran Nguyang, Guna Tuntung Tangis, I Cekcek Putih, dan lain sebagainya.

Pangleakan (aji wegig)
Pangleakan adalah cabang ilmu pangiwa yang sudah memerlukan pengorbanan. Dalam mencari korban biasanya dengan cara mencari-cari kesalahan orang lain, untuk dijadikan calon korbannya.
Ilmu pangleakan di Bali yang paling banyak dibicarakan adalah bisa berubah wujud menjadi binatang, kendaraan, rangda, celuluk, bahkan sampai menjadi sampian mas (sampian adalah sejenis karya tangan yg biasanya terbuat dari janur yang dipakai untuk keperluan upacara / hari raya). Konon katanya kalo bisa berubah menjadi sampian mas, itu artinya ilmunya sudah paling tinggi.

Sedangkan ilmu pangleakan untuk membunuh atau menyakiti mangsanya, biasanya menggunakan  :

Bebai
Orang yang terkena bebai biasanya tingkah lakunya seperti orang gila. Tetapi tergantung juga jenis bebai yang masuk ke dalam tubuhnya. Lain jenis bebai, maka lain pula sakitnya. Ada yang seperti orang gila, makan tidak bisa berhenti, tidak bisa makan, kondisi tubuh menurun, si korban lari kesana kemari, dan lain sebagainya. Pendek kata, orang yang terkena bebai seperti orang gila.

Bebai dalam mitologinya berbentuk binatang yang sangat kecil dan masukan ke tubuh manusia melalui pori-pori kulit. Setelah berada dalam tubuh manusia, bebai akan memasuki pembuluh darah samapi tersebar  kemudian menyumbat pembuluh darah.

Cetik
Yang kita tahu merupakan sejenis racun yang akan kita bahas lebih lanjut pada tulisan ini.

Rerajahan
Rerajahan adalah suatu simbol yang digambarkan dan dikombinasikan dengan aksara modre yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu, tergantung dari sang pembuatnya. Jadi tidak semua rerajahan tersebut bermaksud jelek atau untuk tujuan jahat. Dalam ilmu pangleakan pun bisa menggunakan rerajahan, bahkan diperjual belikan .

Sesawangan
Sesawangan ini mirip dengan voodoo. Dengan sesawangan ini bahkan hanya dengan membayangkan calon korban saja bisa membuatnya sakit. Apalagi si penganut ilmu pangleakan tersebut memiliki foto, nama, dan hari kelahiran si korban. Sesawangan ini sering juga disebut dengan acep-acepan atau umik-umikan. Hal inilah yang menyebabkan ilmu pangleakan bisa menyakiti melalui jarak jauh.

Baik kita lanjutkan pada pokok utama bahasan kita kali ini tentang cetik, secara paling sederhana penjelasan cetik adalah sebagai berikut :

§  Segala sesuatu yang kalau dimakan dapat meracuni tubuh manusia.
§  Racun yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut dengan perantara makanan dan minuman, disertai mantra-mantra.
§  Suatu ramuan yang dihidupkan dengan kekuatan gaib, cara masuk dapat melalui makanan , minuman, jarak jauh dan menghidupkannya dengan bantuan sesajen.
§  Racun yang dapat masuk ke tubuh dengan cara dimakan, diminum, dihirup atau dipasang.


Adapun cetik sendiri terbagi dua jenis, yaitu :

§  Cetik Sekala
§  Cetik Niskala


Cetik Sekala adalah cara meracun dengan sarana tertentu yang dilakukan secara nyata, atau manual. Biasanya cetik yang dipakai dengan cara seperti ini adalah diantaranya Cetik Gringsing, Cetik, Cetik Gadang Galeng, dan Cetik Kerikan Gangsa.

Cetik Niskala adalah tata cara atau metode peracunan dengan cara gaib atau tidak tampak nyata. Cetik jenis ini hanya orang yang menguasai ilmu pengiwan yang pinunjul saja mampu melakukannya. Konon, dari cerita yang saya dapatkan dari kolega yang kebetulan pelaku kebatinan Bali. Maka pelaku yang sudah menguasai ilmu pengiwan tersebut hanya dengan memandangi makanan dan minuman sajamaka korbannya akan menjadi sakit seperti yang dikehendaki. Jadi boleh dibilang cetik ini tanpa memerlukan sarana, karena tidak kelihatan.

Dari cerita yang saya dapat dari kolega tentang bahan-bahannya, ada beberapa bahan cetik yang berasal dari serpihan tembaga, tumbuh-tumbuhan, bahkan hewan yang kemudian diramu secara khusus. Khusus disini dalam artian hanya orang yang menguasi ilmu pengiwan yang bisa meramunya. Dalam proses peramuan pun tidak hanya dilakukan pada hari-hari khusus yang diyakini akan mempengaruhi keampuahan cetik tersebut.

Dalam lontar kepengiwan misalnya, cetik ini disebutkan tidak bekerja sendiri. Tanpa kekuatan magis, ia hanya berfungsi sebagai racun biasa saja. Artinya, cetik hanya akan bekerja jika tercampur pada obyek yang ditentukan. Lebih lanjut dijelaskan, ada beberapa aksara (rajah) yang digunakan menambah kekuatan dari kemagisan cetik. Biasanya bagi yang membuat ditambah jnananya, mereka sering melakukan puasa untuk mengasah sejauh mana cetik ini akan berfungsi.

Cara-cara yang sering dipakai untuk menghidupkan cetik, beberapa diantaranya adalah dengan ngerajah atau menuliskan secara langsung aksara-aksara tertentu, atau pun juga dengan cara langsung dengan merapal mantera-mantera khusus. Dan seperti halnya ilmu-ilmu gaib manapun, untuk menambah keampuhan selalu dibarengi dengan laku prihatin tertentu.

Adapun cetik yang paling berbahaya dan paling ditakuti adalah Cetik Gringsing, Croncong Colo, karena sifatnya mematikan dalam hitungan jam tanpa memperhatikan siapa orangnya. Misalnya cetik Croncong Polo yang menyasar  ke otak, Cetik Gringsing menyasar organ hati dan jantung dan cetik Cadang Galeng akan langsung membuat pingsan. Dalam lontar usada pun dijelaskan, meski tiga jenis cetik tersebut terbilang sangat berbahaya akan tetapi ada obatnya sepanjang cepat diketahui. Jika terlambat, maka proses penyembuhannya akan relatif lebih lama.
 

Beruntungnya, tidak semua orang bisa kena cetik. Dalam kepercayaan masyarakat Bali orang yang bisa terkena cetik semua tergantung dari karma orang yang bersangkutan. Karena setiap manusia mempunyai pelindung masing-masing. Kalau karmanya bagus sehebat apapun orang tersebut mencelakai tidak akan bisa.

Cara seorang pelaku yang hendak menyerang korban secara tak langsung umumnya tidak memperlihatkan pelakunya, sebab pelakunya dapat mengendalikan kekuatan cetiknya dari jauh. Namun demikian, ada dua hal yang dapat diperhatikan dari cara tidak langsung ini.

Pertama, umumnya cara tak langsung dilaksanakan pada hari tertentu, yakni Budha Kliwon.

Kedua, Kondisi calon korban dalam keadaan yang tidak terproteksi, antara lain disebabkan pikiran sedang kacau.  Salah satu hal penting untuk menghidar dari serangan cetik jenis ini adalah selalu waspada dan hati-hati dengan tidak mengabaikan intuisi dan bila ada bebeundelan hendaknya di bawa sebagai pendamping. Bebeundelan yang dimaksud disini serupa barang atau benda yang sudah di manterai atau sudah di pasupati. Bebundelan dimaksud di sini bisa dari taring harimau, gigi badak, batu permata tertentu yang tentu saja sudah di rituali seperti yang saya maksud di atas.

Disamping itu sangat dianjurkan untuk selalu meningkatkan keyakinan pada Sang Pencipta agar selalu dilindungi. Disamping memahami bagaimana cara orang memasukkan cetik ke dalam tubuh calon korbannya, juga perlu diketahui apakah cetik itu memiliki efek seketika atau agak lama.


Cetik berefek seketika, maksudnya kalau seseorang memakan sesuatu yang mengandung cetik, maka segera akan terlihat gejala-gejalanya tergantung dari bahan-bahan cetik itu sendiri.  Ada pula cetik berefek agak lama, dengan inkubasi 3-6 bulan. Dalam hal ini, seandainya cetik itu termakan sekarang, maka orang akan merasakan sakitnya secara bertahap dengan puncak sekitar 3-6 bulan yang akan datang.  

Gunung Lawu Pusat Spiritual Tanah Jawa

Gunung Lawu
Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak menyimpan cerita misteri dan konon menjadi pusat spiritual tanah Jawa. Gunung dengan nama asli Wukir Mahendra ini memilik tiga puncak yang masing-masing puncaknya menjadi tempat sakral di Tanah Jawa. 

Puncak pertama, Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Brawijaya V. Puncak kedua, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon penasihat spritual sang Prabu Brawijaya Sementara puncak ketiga, Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi. 

Setiap orang yang hendak pergi ke puncak Lawu harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib nahas.

Sejak jaman Prabu Brawijaya V inilah hingga Kesultanan Mataram banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Sehingga Gunung Lawu akhirnya dijadikan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa. Di kaki gunung ini juga terletak Kompleks pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni, Air Terjun Gerojogan Sewu, di areal taman gerojogan disini terdapat banyak kera.

Konon tempat ini dikaitkan dengan cerita wayang Prabu Baladewa pada saat menjelang perang Baratayudha, disuruh Kresna bertapa di Gerojogan Sewu. Hal ini untuk menghindari Baladewa ikut bertempur di medan perang, sebab kesaktiannya tanpa ada musuh yang sanggup menandinginya.

Ada juga air terjun Pringgodani, sesuai namanya tempat tersebut konon merupakan tempat bertapanya Prabu Anom Gatotkaca anaknya Bima.

Untuk menuju kesana melawati jalanan yang sempit dan terjal. Disini terdapat bertapaan yang juga ada sebuah kuburan yang konon merupakan kuburan Gatotkaca. Kuburan ini dikeramatkan dan banyak peziarah yang datang. Di atasnya terdapat hutan Pringgosepi.

Di Gunung Lawu juga terdapat sebuah mata air yang disebut Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus.

Selain itu ada juga sumur kuno, namun meski namanya sumur namun bentuknya adalah sebuah gua kecil yang disebut Sumur Jolotundo. Tempat ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam lima meter lebih dan berbentuk seperti spiral.

Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa. Menurut cerita dari sini bisa terdengar suara debur ombak pantai laut selatan yang jauhnya mencapai ratusan kilometer dari Puncak Lawu.

Tak hanya Gunung Lawu yang penuh dengan misteri, bangunan yang ada di lereng Gunung Lawu inipun juga diselimuti misteri.

Seperti keberadaan dua candi purba Cetho dan Sukuh yang masih menjadi satu rangkaian dari misteri Gunung Lawu.

Konon kedua candi tersebut sudah ada jauh sebelum era Brawijaya V . Hasil pahatan yang terdapat pada relief Candi Cetho dan Sukuh sangat simple dan sederhana. Berbeda dengan pahatan jaman Majapahit yang lebih detil juga dan rapi.

Bukti lain yang menunjukkan usia candi di bawah lereng Gunung Lawu ini tertua dibandingkan candi-candi lain di dunia, saat utusan peneliti dari Suku Maya dari Amerika Latin datang ke Candi Sukuh pada tahun 1982 silam.

Ketika itu peneliti dari Suku Maya datang ke Candi Sukuh dengan di dampingi oleh pecinta alam asal Australia. Yang sangat tertarik dan ingin meneliti lebih lanjut adanya candi di Indonesia yang memiliki bentuk sama dengan candi pada peradaban Inca.

Mereka sengaja melakukan penelitian untuk mengetahui jarak pembuatan candi di Indonesia dengan candi yang ada di Suku Maya.

Mereka mengambil sempel lumut dan batu untuk diteliti pada tahun 1982. Hasilnya sangat mengagetkan peneliti Suku Maya ini. Setelah diteliti, ternyata Candi Sukuh usianya jauh lebih tua dibandingkan dengan candi milik Suku Maya.

Candi di bawah lereng Gunung Lawu ini dibangun menghadap ke arah kiblat atau ke arah barat tidak seperti kebanyakan candi lain di Indonesia selalu menghadap ke timur.

Lokasi candi yang terletak di ketinggian kaki Gunung Lawu ini juga seringkali diselimuti kabut tebal yang turun dengan tiba-tiba, memiliki kesan mistis yang membuat penasaran bagi yang melihatnya.

Selain itu ada fenomena lain yang terjadi di sekitar Lawu. Masyarakat sekitar lereng Gunung Lawu sering melihat sekelebat sinar (cahaya) yang membentuk portal (gerbang) yang berasal dari tiap sudut candi yang berbentuk segi delapan membentuk seperti gerbang ke atas.

Diyakini itu sebagai pintu masuk dimensi lain. Namun, tidak ada yang berani mendekat.Menurut cerita, dahulu di Gunung Lawu ada suatu desa yang hilang. Bahkan sampai sekarang tidak pernah diketahui keberadaannya.

Yang tersisa dan diketahui hanya dari barang peninggalannya saja seperti lumpang, peralatan dapur yang terbuat dari gerabah yang di gunakan pada abad pertengahan masih banyak yang berceceran. Tepatnya di pertengahan puncak Lawu. 


Keangkeran Pulau Gunung Wayang, yang Mendatangi Konon Bisa Mati

Pulau Gunung Wayang yang dikeramatkan warga setempat
Lombok ternyata punya tempat yang memiliki aura mistis. Ada satu pulau keramat yang hanya boleh dilihat dari jauh, namun tak boleh dikunjungi. Ada mitos, yang nekat datang bisa meninggal.

Ya, Anda tidak sedang salah baca, siapapun yang berkunjung ke pulau yang dikeramatkan ini akan meninggal dunia. Pulau keramat tersebut bernama Pulau Gunung Wayang. Letaknya persis di depan Pantai Selong Belanak yang cukup populer di kalangan wisatawan.

Pulau Gunung Wayang berbentuk segitiga, seperti gunung yang muncul di tengah laut. Dengan bentuk seperti itu, pulau ini bisa dilihat dengan jelas oleh wisatawan yang sedang berkunjung ke pantai Selong Belanak. Namun jangan pernah sekali-sekali berniat untuk mengunjunginya karena karena ada mitos yang melarangnya.
Kisah tentang misteriusnya Pulau Gunung Wayang ini,  dituturkan oleh Bobby Anafi, seorang pemandu wisata di Lombok. 

"Pulau ini dianggap keramat sama penduduk setempat, Suku Sasak. Sudah banyak kejadian, yang jadi korban. Siapa saja yang sengaja datang ke sana tanpa izin pemangku adat, pasti akan mati. Pernah ada peselancar bule, ke sana, mati juga. Tidak boleh sembarangan pokoknya," ujar Anaf, begitu sapaan akrabnya.

Anaf sendiri tidak tahu menahu apa yang menyebabkan turis yang datang berkunjung ke pulau Gunung Wayang akan bernasib naas. Dia juga tidak tahu mengapa pulau itu begitu dikeramatkan oleh suku Sasak. Yang jelas sudah banyak korban jiwa yang jatuh karena mengunjungi pulau yang bentuknya mirip 'Gunungan' dalam pementasan wayang.

"Sudah dari dulu dikeramatkan. Kalau mau ke sana, harus ditemani pemangku adat Suku Sasak yang menjaga pulau, namanya Amaq Salmah. Harus ada ritual khusus dulu kalau mau ke sana, tidak bisa langsung," kata Anaf yang merupakan warga asli Suku Sasak.

Menurut cerita Anaf, penduduk lokal tidak ada yang berani mendekati pulau tersebut. Penduduk lokal juga senantiasa memperingatkan bule-bule yang kebetulan hendak berselancar untuk tidak mendekat ke arah pulau tersebut karena berbahaya.

Bagi masyarakat lain, boleh percaya atau tidak dengan mitos Pulau Gunung Wayang yang ada di Lombok. Anggap saja kisah ini sebagai dongeng yang menjadi bumbu agar kunjungan Anda ke Lombok menjadi semakin menarik.

Seringnya, mitos semacam ini adalah bentuk kearifan lokal mengenai konservasi alam. Sikapi dengan bijaksana kearifan lokal yang berlaku di daerah yang Anda datangi. Jika patuh dan sopan, niscaya tidak akan ada hal buruk yang akan menimpa Anda.