Senin, 26 Maret 2018

Menyambangi dan Menyusuri Negeri Siluman Khayangan Dlepih

Bagi masyarakat  yang berasal dari Yogyakarta dan sekitarnya tentu tidak asing dengan tempat ini. minimal pernah mendengan tempat yang satu ini. iya, Khayangan Dlepih, sebuah kawasan alam yang sangat kontras pesonanya. Hutan batu yang menyatu dengan pepohonan menghijau, selalu dilairi air yang tak habis meski kemarau begitu panjang menerpa tempat ini. sehingga tak salah bila wilayah ini juga

dikenal dengan nama Tirtamaya.

Perpaduan yang kontras inilah yang juga menautkan dua hamba Tuhan berlainan alam menjalin kisah kasih asmara. Itu terjadi berabad lampau. Disinilah cikal bakal Mataram, Danang Sutowijoyo Mas Bei Loring Pasar alias Panembahan Senopati. Di tempat inilah sang Raja Agung setalah menjalani khalwat panjang bertemu dengan ratu siluman yang kasmaran padanya. Dialah Ratu Laut Kidul. Mereka akhirnya dimabuk asmara. Sungguh sebuah pertautan yang kini menjadi simbol kekuasaan di Tanah Jawa.

Peninggalan yang terdiri dari petilasan berupa batu-batu raksasa bagaikan kuil-kuil alam. Mereka seakan menjadi saksi bisu yang hingga sekarang masih mekar berdiri. Beberapa tempat dikeramatkan, bahkan masih disakralkan keberadaannya, sehingga orang harus mau menuruti sejumlah aturan gaib bila berada di tempat ini.

Dengan ditemani oleh seorang spiritualis, yakni Ki Cokro ST,  kami sengaja ingin mencoba menelusuri tempat yang konon dianggap angker ini.

Ketika kami akan memasuki wilayah kekuasaan Ratu Laut Kidul ini, sudah sangat terasa semerbak aroma kehidupan gain seakan menjemput pengunjung yang akan bertamu. Batu-batu raksasa, bagaikan kuil-kuil alam yang berserakan di sepanjang Sungai Wiroko.
Berabad silam, disungai ini telah terjadi peristiwa-peristiwa luar biasa yang sulit diterima akan sehat dati tokoh-tokoh besar masa lalu, yang menjadikan tempat ini untuk menggembleng dirinya menjadi manusia pinilih. Dari tempat inilah telah lahir raja-raja besar Tanah Jawa yang namanya sampai sekarang masih menebarkan aroma mewangi.

Saking keramatnya kawasan ini sehingga di depan gapura sudah tertulis jelas seperti aturan baku bagi pengunjung untuk tidak melanggarnya, yang ditulis tebal. Diantaranya, tidak mengenakan pakaian hijau, mengail ikan di sungai khayangan, merusak isi peninggalan tempat ini, dan melakukan corat-coret. Ketika hal ini saya tanyakan pada salah satu kuncennya, ternyata sudah berulang kali pengunjung yang datang memakai pakaian hijau pasti kesurupan.

Lantas, mengapa mengail ikan di sungai juga dilarang?
Menurut kepercayaan yang berkembang, sungai ini adalah jalan raya menju ke Istana laut Kidul. Dan ikan-ikan yang ada di sungai ini adalah maujudnya prajurit-prajurit Ratu Kidul. Dan bagi siapa saja yang mengambil, itu berarti sudah siap menanggung resiko untuk celaka.

Selanjutnya, saat menyusuri jalan-jalan setapak menuju tempat keramat ini, peninggalan pertama yang kami temui berupa batu besar yang membentuk goa. Tempat ini dinamakan Selo Bethek., peziarah yang akan bertamu harus caos sesaji terlebih dahulu di tempat ini. menurut aturan spiritual.

Dinamakan Selo Bethek, konon dahulu tempat ini digunakan oleh Kyai Puju, penguasa wilayah setempat untuk mengumpulkan bethek sebagai pagar dan kayu bakar. Kyai Apuju adalah orang yang dimurkai oleh Panembahan Senopati, karena telah dianggap lancang, berani mengintip dirinya saat berolah asmara dengan Ratu Kidul.
Setalah Panembahan Senopati menjadi raja Mataram, Kyai Puju dijatuhi hukuman mati dan arwahnya akhirnya menjadi pedhanyangan tempat Selo Bethek ini, sebagai penyesalan atas kelancangannya.

Dalam alam spiritual, tempat ini sebagai tempat melaporkan diri para tamu yang akan berkunjung ke Dlepih, baik itu tamu manusia maupun tamu bangsa siluman. Dalam pandangan batin, visualisasi Kyai Puju, lelaki paruh baya, mengenakan pakaian coklat lurik, seperti kebanyakan wong karang pradesan zaman dahulu. Dia tersenyum dan seakan mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan.
Kurang lebih 15 meter dari Selo Bethek, terdapat dua buah batu yang saling berhimpitan. Tempat ini dikenal dengan nama Selo matangkep. Peziarah harus melewati lorong celah di kedua batu raksasa ini.

Dalam pandangan batin, tempat ini merupakan pintu gerbang menuju Dhayangan Dlepih. Gapura besar sangat megah, seperti lawang gapit terpampang jelas. Dalam penglihatan gaib, nampak satu barisan prajurit jaga siap berdiri, meyeleksi pengunjung yang diperkenankan masuk. Tampang mereka ini sangar-sangar.

Saat kami akan masuk, disambut oleh tamtama prajurit. Dua lelaki muda dan tampan mengenakan pakaian hijau gadung mlati, dengan ikat kepala dableng. Dia begitu santun dan murah senyum, seakan-akan sudah begitu kenal dengan kami. Mereka ini mengaku KI Widaninggar dan Widaningrat. Merekalah yang dipercaya menjaga keamanan pintu masuk tempat ini.

Selesai melewati Selo Metangkep, ada dua gapura mahkota. Disebelah kanan jalan menurun menuju ke sungai Khayangan. Tempat ini dinamakan Kedung Ngaten. Pemandangannya sangta indah dan tanaman disekitarnya menghijau, ditambah dengan air terjun kecil yang airnya sangat jernih. Sebuah pemandangan yang sangat romantis, sehingga tak salah kalau tempat ini dinamakan Kedung Nganten.

Menurut legenda, di sinilah Panembahan Senopati dan Ratu Kidul berbulan madu. Mereka memadu kasih dengan nafsu birahi yang membara. Setelah berolah lelah asmara mereka berdua mandi di Kedung Nganten ini, sambil menggosok tubuhnya.

Kotoran tubuh Panembahan Senopati yang lama bertapa begitu banyak. Ratu Kidul dengan sabar membersihkannya. Kotoran yang jatuh ke sungai itu bukannya larut terbawa air, tapi keajaiban alam terjadi. Konon, kotoran tubuh Panembahan Senopati yang orang Jawa bilang bolot menjadi batu hitam yang banyak berceceran di sungai Khayangan ini.

Memang tak gampang menemukan Watu Bolot. Katanya hanya orang-orang kepareng (berjodoh) saja yang dapat membawanya pulang. Dalam bahasa visualisasi penampakan,  Sendang Nganten ini dijaga seekor ikan mas. Bila maujud ia berupa wanita muda yang cantik. Menurut pengakuannya, ia bernama Mas Nganten Widianingrum. Dan tuah air sendang ini menurut penjelasan Mas Nganten adalh melanggengkan pasangan dan daya tarik seksual antar pasangan. Sehingga sangat baik tuahnya untuk pasangan suami istri yang hubungannya renggang.

Saya justru lebih tertarik untuk mencari Watu Bolot yang ada di sendang Nganten ini. dibantu kolega yang menemani saya, saya mengaduk-aduk Kedung Nganten, namun tak menemukan satupun batu yang dimaksud. Mungkin erasa kasihan dan ada kesungguhan saya ada seorang bapak-bapak yang memanggil saya dan memberi bongkahan batu kecil hitam. Yang dikatakan Watu Bolot.

Karena lelah, kami beristirahat sejenak. Setelah rasa penat sirna, kami kemudian melanjutkan prjalanan di ruang utama yang disebut Selo Payung. Sebuah batu raksasa seperti peneduh. Batu inilah yang disebut sebagai lokasi utama tempat ini. menurut cerita, di zaman dahulu Panembahan Senopati menggembleng dirinya bertapa di Selo Payung ini, yang menyebabkan istana Laut Kidul menjadi panas. Karena merasa rakyatnya tersiksa, akhirnya Ratu Kidul langsung mencari sumber dari semua itu, yang ternyata ksatria muda tampan yang bertapa. Setelah melihat biang keladi dari kejadian itu, amarahnya luntur, berubah menjadi terpikat. Ratu Kidul jatuh cinta pada Panembahan Senopati.

Dari pertemuan ini akhirnya Panembahan Senopati mendapat dukungan penuh Ratu Kidul, membantu melawan Pajang. Ia akhirnya menjadi raja Mataram I yang bergelar Panembahan Senopati Ing Alogo Sayidin Panotogomo Khalifatullah Ngabdul Rahman.    


Pintu Makam Sunan Kalijaga Konon, Dapat Menghilangkan Kesaktian Semua Senjata

Ada aturan tegas yang diberlakukan saat para peziarah mengunjungi makam
 Sunan Kalijaga, Desa Kadilangu, Kecamatan Kadilangu, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Mereka dilarang untuk membawa senjata pusaka jenis apapapun.

Jika peziarah itu nekat melawan aturan tersebut, banyak orang percaya senjata berupa wesi aji atau besi bertuah akan hilang kesaktiannya.

"Setiap peziarah kita tanyakan dan kita beri pesan, jika membawa besi berharga atau senjata pusaka, tolong ditinggalkan di pos pendaftaran ziarah, ungkap R. Ptayitno, juru kunci Makam Sunan Kalijogo saat ditemui,  di Kompleks Makam Sunan Kalijogo, Demal, Jawa Tengah. 

Berdasarkan pengalamannya, Prayitno mengungkapkan ada beberapa peziarah yang nekat dan mengindahkan aturan tersebut. Tak ayal beberapa senjata atau pusaka mereka langsung hilang kesaktiannya atau qodam-nya.

"Kalau nekat ya sudah. Kalau hilang qodam-nya yang kita tidak bisa mengembalikan qodam-nya ke pusakanya lagi. Yang penting kami sudah menasehati tapi kalau tidak mau menuruti yang tanggung sendiri risikonya, ungkapnya.

Banyak yang percaya yang membuat kesaktian pusaka hilang adalah makam Empu Supo. Adik ipar kanjeng Sunan Kalijaga yang merupakan sesepuh atau resi pembuat senjata atau pusaka raja-raja Jawa dan dikenal mempunyai senjata ampuh dan sakti. 

Diyakini keahlian Empu Supo yang hingga saat tidak ada tandingannya, sehingga senjata jenis apapun luntur keampuhannya.


Ilmu Khodam, Benteng Diri Manusia

Apa dan bagaimanakah yang disebut ilmu khodam? Sebelum mempelajari ilmu khodam sesungguhnya, ada baiknya Anda mengetahui khodam terlebih dulu. Khodam merupakan jenis makhluk gaib ciptaan Allah yang dapat membantu menjaga, melindungi, atau mengawal manusia. Tempat bersemayamnya di berbagai sarana termasuk huruf-huruf arab, ayat suci, asma’, hizib, atau bacaan-bacaan tertentu.

Hal itu dijelaskan dalam QS. Ar-Ra’du 11: “Bagi manusia ada penjaga-penjaga yang selalu mengikutinya, di muka dan di belakangnya, menjaga manusia dari apa yang sudah ditetapkan Allah baginya. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubahnya sendiri”.
I
lmu khodam merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana cara untuk mendapatkan khodam tertentu dengan tujuan membantu memudahkan hajat seseorang. Namun, bukan berarti hal itu adalah musyrik. Ilmu khodam digunakan sebagai sarana atau wasilah dalam membantu manusia untuk mencapai maksud tententu.

Sebuah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Abi Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, memanggil malaikat Jibril dan berfirman : “Sungguh Aku mencintai seseorang ini maka cintailah ia”. Nabi SAW bersabda: “Maka Jibril mencintainya”. Kemudian malaikat Jibril memanggil-manggil di langit dan mengatakan: “Sungguh Allah telah mencintai seseorang ini, maka cintailah ia, maka penduduk langit mencintai kepadanya. Kemudian baginda Nabi bersabda: “Maka kemudian seseorang tadi ditempatkan di bumi di dalam kedudukan dapat diterima oleh orang banyak.” (HR Bukhori dan Muslim )

Selanjutnya dari Abi Hurairah r.a, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Mengikuti bersama kalian, malaikat penjaga malam dan malaikat penjaga siang dan mereka berkumpul di waktu shalat fajar dan shalat ashar kemudian mereka yang bermalam dengan kalian naik (ke langit), Tuhannya bertanya kepada mereka padahal sesungguhnya Dia lebih mengetahui keadaan mereka: di dalam keadaan apa hambaku engkau tinggalkan? mereka menjawab: mereka kami tinggalkan sedang dalam keadaan shalat dan mereka kami datangi sedang dalam keadaan shalat”.(HR Buhori dan Muslim)

Berdasarkan penjelasan dari hadits tersebut bahwa khodam merupakan sebuah penjaga. Karena khodam adalah termasuk makhluk Allah, dia dapat digunakan sebagai perantara untuk membantu manusia atas izin Alah SWT. Khodam ini hanya tunduk kepada orang-orang yang berhati baik. Dengan demikian, tidak dapat digunakan untuk tindak kejahatan.

Karena sifatnya yang dapat membantu manusia, ilmu khodam ini dikhususkan untuk Anda yang ingin memperoleh khodam penjaga sesuai dengan harapan Anda. Beberapa ilmu khodam yang bisa Anda pelajari dan perileh, yang semuanya adalah ilmu khodam pilihan dan sangat istimewa. Anda dapat memiliknya sebagai sarana spiritual agar hajat yang Anda harapkan dapat terwujud sesuai dengan ajaran syariah Islam atas dasar bimbingan kami.


Kamis, 22 Maret 2018

Misteri Pesugihan Jaran Panoleh

Dalam kehidupan manusia ditakdirkan untuk hidup nerima ing pandum,  kendati demikian manusia harus bahagia. Kebahagian tersebut tidak lagi memikirkan keuangan yang rumit atau malah hal-hal lain. Yang jelas mereka harus bahagia. Bahagia secara lahir maupun batin.
Terkadang saking penting nya kebahagiaan yang harus di dapat, manusia menjadi lupa dan bahkan lena akan takdir yang sudah ditetapkan. Melakukan semua hal yang dianggap nya pantas untuk dilakukan. Haram dianggap nya menjadi halal. Tidak memandang apakah hal tersebut melenceng dari kaidah Agama atau tidak.
Apalagi jika sampai melakukan cara cara yang dianggap musryk,  mencari kebahagian dengan cara jalan pintas, melakukan persekutuan dengan makhluk halus yang jelas dilarang oleh agama apapun. Toh justru dikemudian hari dipastikan hasilnya justru akan menambah keterpurukan dalam kehidupannya.
Tetapi kendati demikian toh, ada juga manusia yang menceburkan dirinya dengan melanggar perintah Allah, yakni dengan cara mencari kekayaan secara instand, Cara tersebut sering kita denga, yakni,  mencari pesugihan. Ada beberapa jenis pesugihan yang sering kita dengar, salah satunya adalah “Pesugihan Jaran Panoleh”.
Pesugihan ini sendiri berasal dari perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Disana ada petilasan (tempat bersejarah) atau punden (tempat yang dipuja-puja) berupa makam kuda. Bahkan di sana pun ada seorang juru kunci atau penghubung.i  
Konon, menurut cerita, melakoni jenis pesugihan ini sangat gampang. ‘Katanya’   tidak harus repot-repot menyediakan tumbal atau mahar. Setelah seseorang melakukan perjanjian ghaib dengan setan kuda tersebut, si pencari kekayaan pun akan pulang dan menyediakan satu kamar khusus untuk setan kuda. Dan pada malam tertentu (jum’at kliwon, misalnya), si peminta kekayaan akan masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan. setelah melakukan berbagai ritual khusus, Ia akan bertingkah seperti kuda. Lengkap dengan suara nya yang melengking.
Hal ini pertanda bahwa ia sudah kerasukan setan kuda. Kaki nya akan dihentak-hentakkan di lantai sampai tegel nya pecah. Pun ia akan bersikap layaknya kuda pada umum nya selama semalaman. Setelah semua proses itu selesai, pelaku pesugihan akan keluar dari kamar dengan keadaan letih. Setelah itu, harta akan datang dengan sendirinya.
Masalahnya, lelakon seperti ini akan ia lakukan sepanjang hidup nya. Sampai suatu saat ia merasa lelah dan tidak sanggup melakukan nya lagi, maka nyawa nya sendiri yang akan hilang.
Namun, adapula yang mengatakan bahwa pengikut pesugihan Jaran Penoleh diharuskan memiliki usaha transportasi. Misalnya, bis. Di depan bis tersebut harus ada lambang JaranPenoleh. Dan dengan gampang nya, transportasi ini akan mengambil tumbal nya sendiri setiap tahun. Jadi, pelaku pesugihan tidak perlu lagi mencari tumbal atau pun memilih mana saja yang harus ditumbalkan.

Senin, 18 Desember 2017

Misteri Legenda Buto Ijo

Misteri keberdaan legenda buto ijo memang selalu menjadi perbincangan. Soalnya, tokoh Buto Ijo selama ini susah untuk dibuktikan dengan kasat mata. Legenda Buto Ijo tetap hidup karena kerap dipakai untuk menakuti anak-anak yang belum tidur walau sudah larut malam.

Menurut banyak orang, Buto Ijo sebetulnya hanya tokoh rekaan manusia. Ia tidak akan pernah ada dalam kehidupan kita. Ia hanya mitos, hanya khayalan. Meski hanya khayalan, gambaran menyeramkan Buto Ijo bisa jadi adalah interpretasi kebudayaan akan kehidupan yang hitam dan kotor.
Buto Ijo digambarkan sebagai sosok yang tinggi besar ibarat raksasa dengan tubuh yang berwarna hijau. Kehadirannya selalu disertai dengan aroma busuk yang sangat menyengat, persis seperti busuk lumpur pembuangan limbah rumah.
Dalam sejumlah cerita rakyat, Buto Ijo selalu diceritakan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab ketika terjadi gerhana bulan. Buto Ijo dianggap sedang menelan bulan sedikit demi sedikit hingga akhirnya habis. Itulah legenda, cerita rakyat yang berkembang dari dulu.
Meski sebenarnya kita sama-sama tahun bahwa peristiwa gerhana bulan yang kerapkali terjadi adalah peristiwa alam biasa. Ketika gerhana bulan terjadi, bulan posisinya berada di belakang matahari, sehingga ketika matahari berjalan akan menutupi rembulan. Memang nampak kalau bulan sepertinya berangsur-angsur gelap, padahal sesungguhnya rembulan sedang tertutup oleh matahari.
Jadi, sungguh tidak benar rembulan itu ditelan bulat-bulat oleh Buto Ijo. Pun tidak benar pula, manakala ada anak berbuat nakal atau melawan orang tua mereka maka akan dimakan oleh Buto Ijo.
Sulit memperkirakan kapan dan dimana asak usul cerita rakyat hal Buto Ijo berkembang di masyarakat kita. Hanya saja, hingga kini kita kerap masih mendengarkan nama Buto Ijo hadir dalam aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan ritual pesugihan. Ya, pesugihan Buto Ijo!
Dalam tradisi sebagian masyarakat di negeri ini, pelibatan makhluk halus dianggap sebagai cara cepat dan instan meraup kekayaan melimpah, meski umumnya juga diketahui memiliki konsekuensi.
Pesugihan Buto Ijo
Makhluk halus layaknya Buto ini konon biasa dimintai bantuan oleh para dukun dan paranormal untuk mempercepat mendatangkan uang dan kekayaan materi dengan hebat.
Mereka yang melakukan pesugihan Buto Ijo ini, konon akan selalu diiringi oleh Buto Ijo dalam beraktivitas atau berbisnis. Saat pelaku bernegosiasi, mereka akan menggedor hati lawan bisnis untuk menyerahkan bisnisnya pada pelaku.
Saat pelaku pesugihan berjualan rumah, mobil dan sebagainya, Buto Ijo akan membantu mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Saat berjualan, pembeli akan dirayu si Buto Ijo untuk membeli di tempat kita.
Konon, Buto Ijo bisa juga ditemukan di bank-bank, lembaga dan perusahaan yang berhubungan dengan keuangan. Konon, Buto ijo dijadikan sebagai satpam gaib yang setia menunggui lembaga keuangan agar terbebas dari pencurian tuyul dan “dedemit pencuri uang gaib” lainnya.
Sayangnya, semua bentuk pesugihan dan pemufakatan dengan makhluk halus pasti memiliki sejumlah konsekuensi. Sebagaimana yang terjadi saat bermufakat dan meminta sesuatu dengan jenis makhluk halus apapun, maka mereka pun akan minta tumbal atau imbalan baik yang ringan maupun yang berat.
Karena itu, banyak ahli kebatinan menyarankan agar orang-orang tidak menggunakan Buto Ijo sebagai tenaga pesugihan. Soalnya, Buto Ijo konon memiliki watak yang brangasan, ngawur dan tidak terkontrol. Jika “imbalannya” dipandang tidak begitu bagus, bisa saja ia akan mengamuk dan meminta korban nyawa dari keluarga si pelaku pesugihan.
Konon, untuk mendatangkan si Buto Ijo, kita hanya perlu mempersiapkan ritual dan sejumlah sesajen. Untuk pemancing, ritual yang biasanya dilakukan adalah membakar kembang setaman, kemenyan Arab dan dupa Cina sambil membaca mantra berulang-ulang hingga Buto Ijo datang.
Selain itu, kita juga perlu mempersiapkan ayam kampung, air putih di kendi, wewangian lain dan madat yang mahal, diletakkan di atas nampan anyaman bambu tradisional. Dari sini kemudian dirapalkan beberapa mantra dan doa yang menjadi pengantar untuk semakin mempercepat si Buto Ijo datang memakan sesajen yang sudah disiapkan.
Adapun mantra yang biasa digunakan untuk memanggil datangnya Buto Ijo adalah sebagai berikut:
Hong ilaheng prayoga naniro, Aku si komo dadiaku teko ngajak dulurku si komo wurung, mayan-mayanku, bukakno plawangan gaibe…sedulurku den baguse kaki Buto Ijo lan den ayune nini Buto Ijo,Hu..hu..hu..hurip, jud maujudo ono ngarsaku heh dulurku, tak jaluk mreneyo, jabang bayiku…duwe perlu marang sliramu, siro teko-o,wujuto gage memoni aku…
Jika ritual dan sesajen berjalan lancar, si Buto Ijo akan datang dan menikmatinya. Lalu, setelah kenyang, Buto Ijo akan bersedia mengobrol atau melayani apapun permintaan si pelaku.
Nah, masih percayakah Anda dengan cara pesugihan? Siapkah Anda dengan konsekuensi bersekutu dengan makhluk halus? Terlebih si pelaku juga belum tentu tahu yang datang itu buto ijo, jin, setan atau jenis lain yang akan selalu mempermainkan manusia.


Sabtu, 16 Desember 2017

Mengenal Sekilas Ilmu Santet

Dalam membahas ilmu santet seolah tidak ada habisnya. Secara umum, pada dasarnya ilmu santet adalah ilmu yang mempelajari bagaimana memasukkan benda atau sesuatu ke tubuh orang lain dengan tujuan menyakiti.

Benda yang dimaksud tersebut adalah,  misalnya sebuah paku atau seekor binatang berbisa yang dikirim secara gaib untuk dimasukkan ke tubuh seseorang dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

Seperti 
ilmu-ilmu lain yang ada di dunia, santet bisa merupakan ilmu putih atau ilmu hitam tergantung dari penggunaan ilmu ini apakah untuk kebaikan atau untuk kejahatan. Tetapi dalam aplikasinya ilmu putih ini dipadukan dengan ilmu-ilmu lain sehingga bisa dikatakan diselewengkan (dihitamkan) oleh pelakunya, misalnya yang aslinya digunakan untuk menidurkan bayi yang rewel agar bisa terlelap, oleh maling ilmu ini diselewengkan untuk menidurkan calon korbannya.

Ilmu untuk meluluhkan hati orang yang keras atau kalap tetapi diselewengkan fungsinya untuk membuat orang lain terlena bujuk rayunya. Kasus yang terakhir ini marak yang umum kita kenal dengan istilah gendam.

Walaupun proses santet yang gaib ini sulit dimengerti secara ilmu pengetahuan, tapi secara logis santet dapat dimengerti sebagai proses dematerialisasi. Pada saat santet akan dikirim, benda-benda seperti paku, jarum, beling, ataupun inatang berbisa ini diubah dari materi menjadi energi.

Kemudian dalam bentuk energi, benda ini dikirim menuju sasaran. Setelah tepat mengenai sasaran, energi ini diubah kembali menjadi materi. Sehingga apa-apa yang tadi dikirim, misalnya beling dan binatang berbisa akan masuk ke tubuh seseorang yang merupakan sasaran santet. Selanjutnya secara otomatis benda-benda yang tadi dimasukkan melalui santet ini akan menimbulkan kesakitan pada tubuh orang yang disantet.

Sementara  ilmu santet yang lebih mengarah ke hal negative, biasa disebut sebagai  ilmu hitam. Berdasarkan pengetahuan secara umum, ada dua jenis santet menilik dari jenis kekuatan yang dijadikan sumber kekuatannya.

Pertama adalah santet yang dalam prosesnya memanfaatkan kekuatan makhluk gaib seperti jin, setan, dan makhluk gaib lainnya. Dalam pelaksanaannya, pelaku santet akan bekerja sama dengan makhluk gaib sebagai media pengiriman santet.

Untuk mengajak si makhluk gaib untuk dijadikan "kurir" ini tentu saja pelaku santet harus memberikan imbalan sesuai yang diminta oleh sang kurir. Imbalan bisa berupa sesaji khusus yang diperuntukkan makhluk gaib sebagai makanan untuknya.

Imbalan juga dapat berbentuk lain sesuai permufakatan makhluk
 gaib dengan pelaku santet. Setelah imbalan yang dijanjikan disepakati, maka "sang kurir" pun akan melakukan tugasnya membawa santet menuju sasaran.

Ada kasus misalnya sesaji atau imbalan yang disepakati lalai atau tidak dilaksanakan oleh pelaku santet, maka dalam kasus ini bisa saja si makhluk gaib akan meminta tumbal dari pelaku santet. Sehingga bisa disimpulkan hal ini lah yang merupakan resiko bagi para pelaku santet.

Kedua, adalah santet yang bersumber dari kekuatan batin. Santet dengan metode ini membutuhkan kekuatan batin yang biasanya diperoleh dari laku spiritual.

Pada saat penggunaannya santet dengan kekuatan batin biasanya dibantu dengan kekuatan visualisasi (pembayangan) yang kuat dari pelaku. Misalnya santet dengan menggunakan media bambu apus yang ketika hendak digunakan terlebih dahulu dibacakan mantera-mantera tertentu, setelah itu pelaku santet memusatkan konsentrasi, visualisasi dan berniat menyumbat kubul dan dubur si jabang bayi (sasaran).

Konon, dengan cara demikian, seseorang yang dituju tidak bisa buang air besar maupun air kecil. Sehingga pada 
hakikatnya kekuatan santet ini bersumber dari memusatan kehendak batin saja. Sedangkan peran dari ritual, seperti membaca mantera atau laku tirakat lain merupakan sarana penunjang yang mampu membantu visualisasi batin sehingga bertambah kuat. 


Cerita Legenda Seputar Gunung Wilis



Pada 1207 Dandang Gendis atau Sri Krtajaya Putra Mahkota kerajaan Kediri terakhir naik gunung Wilis untuk mengejar cintanya pada dewi Amisani anak Resi Brahmaraja.


Tokoh Dandang Gendis kelak setelah menduduki tampuk singgasana kekuasaan di kerajaan Kediri pada akhirnya ditaklukkan oleh pasukan Arok di desa Ganter pada 1222 yang membikin pamor kerajaan Kediri menjadi pudar, mati suri, menjadi kerajaan kecil, dan kerajaan bawahan.
Serangan Arok itu kelak dibalas oleh Jayakatwang seorang raja Kediri berikutnya, yang berhasil menyerang kerajaan Singosari dan hingga bahkan berhasil membunuh Baginda Sri Krtanegara sendiri pada 1290-an.

Resi Brahmaraja seorang pertapa di masa itu yang hidup bersama putrinya dewi Amisani. Konon kecantikan dewi Amisani tersebar ke seantero penjuru kerajaan Kediri. Dalam mengejar cinta dari sang pujaan hati inilah yang membulatkan tekad Dandang Gendis, yang masih sebagai seorang putra mahkota Kediri nekad kabur sendirian dari istana memasuki hutan belantara Wilis untuk menemukan di mana tempat tinggal sang pujaan hatinya.

Gunung Wilis yang termasuk gunung berapi memiliki satu puncak tertinggi yang bentuknya tidak lancip akan tetapi agak datar dan panjang. Sampai hari ini dari puncak Wilis mengalir berbagai sumber mata air yang turun ke bawah sebagian membentuk beberapa air terjun.

Salah satu air terjun dari puncak Wilis sebelah selatan di wilayah Besuki adalah Irenggolo. Kemudian di sebelah utara Wilis di wilayah Sawahan terbentuk pula air terjun Sedudo, konon Sedudo menjadi pasangan gaib daripada air terjun Coban Rondo yang terletak di wilayah Waduk Selorejo, Malang.

Di samping kedua air terjun itu, kira-kira pada bagian tengah hampir mendekati puncak Wilis paling tinggi terdapatlah Air terjun Ngleyangan yang masih perawan di wilayah Bolawen.
Jika Irenggolo dan Sedudo sudah dibuka menjadi obyek wisata, air terjun Ngleyangan masih bertahan di tengah hutan belantara dan belum dibuatkan jalan ke sana. Lokasinya dari jalan aspal kira-kira satu jam jalan kaki orang dewasa.

Puncak air terjun Ngleyangan ternyata lebih dahsyat indahnya dibanding semua air terjun dari puncak Wilis lainnya, di puncak air terjun terdapat sisa situs berupa sumur dan patung-patung Hindu.
Konon di situlah tempat Mpu Brahmaraja hidup bersama putrinya dewi Amisani menjalani laku tapa, walaupun sangat tersembunyi di tengah hutan belantara tempat itu pun akhirnya berhasil ditemukan oleh Dandang Gendis setelah berbulan-bulan mencarinya.
 
Untuk sampai ke atas sana tidak banyak rute yang bisa ditempuh, dan yang paling mudah memang hanya berpatokan pada beberapa rute memutar menuju lokasi puncak Air terjun Ngleyangan.
Pada puncak air terjun itulah dahulu tempat Mpu Brahmaraja bertapa, dan ke tempat itulah Dandang Gendis pernah hidup bersama pertapa itu untuk beberapa waktu lamanya sampai ia dijemput pulang ke keraton Kediri untuk dinobatkan menjadi raja Kediri yang baru bergelar Sri Krtajaya untuk menggantikan Jayasheba yang mangkat beberapa bulan sebelumnya.

Dandang Gendis yang tengah marak sebagai raja Kediri sekaligus berhasil juga merebut hati putri Resi Brahmaraja tak lama berselang kemudian memboyong Dewi Amisani ke keraton Kediri yang kemudian dinobatkan untuk mendampinginya sebagai Paramesywari Kediri.