Minggu, 19 Februari 2017

Pusaka Keris Kyai Brojol

Keris Pusaka Kyai Brojol
Keris pusaka Kyai Brojol, Merupakan salah satu keris paling ampuh, unik cantik dan menawan. Bentuknya sangat elegan, siapa saja yang melihatnya pasti tergoda untuk memegang bahkan seraya ingin memilikinya. Kekuatan energi besarnya sangat terasa, dimana keris ini mempunyai energi khodam yang sangat kuat auranya. Dalam ceritanya, Pusaka Keris Kyai Brojol ini memiiliki kempuan yang luar biasa. Sekarang Pusaka Keris Kyai Brojol tersebut di miliki oleh tokoh spiritual Gus Cokro ST. Menurutnya, ia mendapatkan pusaka tersebut saat melakukan tirakat khusus di Sitihinggil, Kraton Surakarta Hadiningrat.
Konon, menurut Gus Cokro ST, saat mendapatkan keris pusaka ini bukan serta merta secara cuma-cuma. Gus Cokro ST harus mengeluarkan segala daya kekuatan yang ada dalam dirinya, dan meyiapkan uborampe yang harus dipersiapkan. Hal ini dilakukannya agar supaya benda pusaka yang ia inginkan bisa muncul dan didapatkannya. Menurutnya, prosesi penarikan benda pusaka keris Kyai Brojol ini memakan waktu tak kurang dari 45 menit.
Dalam kisah Penarikan benda Ghaib ini Gus Cokro ST awalnya cukup banyak mengalami kesulitan, dimana Keris Kyai Brojol sangat sulit ditarik. Karena, pusaka yang dimaksud tersebut berada di dalam kekuasaan penguasa alam gaib, dan penguasa gaib tersebut berusaha sekuat tenaga mempertahankan pusaka keris Kyai Brojol. Tentunya Gus Cokro ST  harus mengeluarkan tenaga dalamnya tiga kali lipat. Namun berkat usaha keras, kejelian dan kecerdasan beliau akhirnya Keris Kyai Brojol bisa ditarik dan diwujudkan ke alam nyata.
Keris pusaka Kyai Brojol ini kekuatannya sangat besar. Waktu pertama kali dipegang oleh Gus Cokro ST saja energinya ingin menyedot tenaga dalam diri Gus Cokro ST, namun beliau tidak khawatir, karena dengan sigap beliau mampu mengendalikan energi khodam pusaka tersebut. Pusaka ini sudah berumur ratusan tahun. Energi khodamnya mampu menghancurkan serta meleburkan segala kebatilan dan memunculkan aura pengasih bagi pemiliknya. 
Dan tidak semua orang mampu memiliki pusaka ini. Pusaka ampuh ini memiliki sifat berjodohan dengan pemiliknya, jika Anda berjodoh maka Anda bisa mengendalikan dan berakibat baik pada Anda. Sebaliknya jika tidak berjodoh maka Anda akan kalah en

ergi, energi diri Anda akan tersedot, bahkan dengan sendirinya pusaka ini akan pergi meninggalkan Anda. Namun yang perlu digaris bawahi adalah orang yang berjodoh dengan pusaka ampuh ini menurut Gus Cokro ST adalah orang yang baik atau lebih jelasnya dekat dengan Tuhan. Hanya untuk kebaikan bukan untuk kejahatan.

Bagi siapa saja yang memiliki Pusaka Keris Kyai Brojol ini, maka dalam dirinya akan memiliki batin yang kuat, memancarkan pesona positif, memperlancar urusan bisnis dan menguatkan daya pikat (pengasihan), Dapat terhindar dari pengaruh niat jahat, terhalang usaha penipuan, kejahatan, gendam, pagar diri, rumah dan tempat usaha. Bahkan cocok dimiliki oleh seseorang yang hendak  terjun dalam kancah politik, pilkada, pilgub, pilkades, pilbub dan cocok untuk peganngan TNI/Polri dll.
Untuk itu, jika Anda mempunyai keris ini usahakan selalu berbuat baik, rawatlah secara rutin dengan baik, maka keistimewaan lain seperti kerezekian dan lainnya akan Anda rasakan melalui pusaka ini.
Tetapi yang perlu diingat adalah tuahnya Keris Kyai Brojol ini tergantung keyakinan dan kepercayan pemiliknya. Gus Cokro ST mengatakan, bahwa semua sarana bisa dimanfaatkan tergantung yang memilikinya, namun dia juga kembali mengingatkan bahwa semua bisa terwujud hanya atas ijin Tuhan YME.
Keris pusaka Kyai Brojol, kini, Koleksi Pribadi Gus Cokro ST, siap dimaharkan kepada pribadi yang terpilih.

MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend

(Ki Cokro ST)

https://www.youtube.com/watch?v=KhHB9mTGQ3E&feature=youtu.be 

Jumat, 17 Februari 2017

Mitos Kembang Wijayakusuma dan Misteri Pulau Majeti

Kembang Wijayakuauma
Kembang Wijayakusuma  berasal dari 
dua kata Jawa. Wijaya berarti “menang”, dan Kusuma berarti “bunga”. Secara sederhana bisa diartikan sebagai bunga kemenangan. Baik, mari kita kaji dari segi ilmiah dan mitos yang menyungkupi bunga yang di yakini kembangnya raja-raja ini.


Epiphyllum anguliger begitulah nama latin dari bunga yang masuk dalam marga kaktus atau yang lebih familiar kita mengenalnya Kembang Wijayakusuma. Seprti galibnya kaktus yang bisa tumbuh subur di daerah sedang samapi tropis, pun halnya demikian juga dengan Kembang Wijayakusuma. Bunga satu ini tergolong bunga yang aneh dan sarat misteri. Ketika mekar bungannya semerbak mewangi. Selain itu, bunga ini hanya mau mekar pada malam hari saja, itupun hanya sesaat kemudian melayu. Dan satu hal lagi tidak semua Kemabang Wijayakusuma dapat berbunga dengan mudah.

Kembang ini dapat dilihat dengan jelas mana bagian daun dan mana bagian batangnya, setelah berumur tua. Batang pohon Wijayakusuma sebenarnya terbentuk dari helaian daun yang mengeras dan mengecil. Saat masih muda warna daunnya kuning lembut. Helaian daunnya pipih, berwarna hijau dengan permukaan daun halus tidak berduri. Pada setiap tepian daun Wijayakusuma terdapat lekukan-lekukan yang ditumbuhi tunas daun atau bunga.

Bunga yang tumbuh di karang ini, selain ada di Nusakambangan yang dikeramatkan itu, banyak pula terdapat di pulau Karimunjawa, Kepulauan Seribu, Bali dan Madura. Bunga ini berasal dari daratan Amerika Selatan, kemudian masuk ke Cina dan baru ke Indonesia di jaman Majapahit. Nah yang menarik, mitosnya pada sebagian masyarakat Jawa, ada kepercayaan bahwa barang siapa yang mempu melihat mekarnya bunga Wijayakusuma, maka hidupnya tidak akan susah.

Berkait erat dengan Kembang Wijayakusuma ini, ada kepercayaan yang tak lekang oleh waktu. Iya, bahwa raja Mataram yang baru dinobatkan, tidak akan sah diakui dunia “kasar” dan “halus”, kalau belum berhasil memetik bunga Wijayakusuma sebagai pusaka keraton.

Pulau Majeti
Mengapa harus memetik bunga itu? Tradisi memetik bunga itu didasarkan atas kepercayaan, bahwa pohon yang menghasilkan bunga itu adalah jelmaan pusaka keraton Batara Kresna. Batara titisan Wisnu ini kebetulan menjadi Raja Dwarawati.  Dalam satu legenda menyebutkan, pusaka keraton itu dilabuh (dihanyutkan) ke Laut Kidul oleh Kresna, sebelum beliau mangkat ke Swargaloka, di kawasan Nirwana. Pusaka atribut Raja Kresna itu setelah dilabuh menjadi pohon di atas batu pulau karang. Letaknya di ujung timur Pulau Nusakambangan di selatan Kota Cilacap.

Dalam tradisi Mataram misalnya, meski tidak terserat namun diamini oleh sebagian besar masyarakat Jawa, bahwa raja-raja Mataram (yang sudah dinobatkan) tidak akan sah diakui dunia “kasar” dan “halus” jika belum memetik bunga Wijayakusuma. Dalam konteks kekinian, hal ini terdengar sepele. Namun bila direnungkan lagi, ternyata ada nilai-nilai tersembunyi di balik keyakinan itu.

Bahwa seorang raja yang sanggup memetik bunga Wijayakusuma, dipastikan ia adalah seorang yang mentalnya tergembleng dengan baik. Sebab untuk dapat memetik bunga Wijayakusuma dalam keadaan mekar, seseorang harus memiliki kesabaran tinggi. Bunga Wijayakusuma hanya akan mekar sesaat dan waktunya pada malam hari saja.

Dan mekarnya kelopak bunga misterius ini tidak dapat diperkirakan waktunya. Belum tentu dalam setahun bunga ini akan mekar. Maka, seorang raja yang berhasil memetik bunga ini, berarti dia telah melewati penantian yang panjang dengan penuh kesabaran dan perjuangan yang berat. Sebab ia tidak tumbuh disembarang tempat.

Ada beberapa tempat di Cilacap yang dari zaman Kerajaan Mataram hingga Orde Baru berkuasa, secara berkala disambangi para petinggi negara, terutama bila mereka tengah menghadapi persoalan berat. Tempat-tempat ini sangat dikeramatkan. Para pejabat itu kadang datang sendiri secara diam-diam, namun terkadang menyuruh utusan.

Di lokasi keramat Jambe Pitu dan Jambe Lima di sebuah bukit di Srandil, Kec. Adipala atau sekitar 15 km arah timur Kota Cilacap, serta Gua Masigit Selo dan Pulau Majeti, Nusakambangan, mereka bersemadi mengharap wahyu yang berisi petunjuk untuk menyelesaikan persoaannya. Di pulau Majeti, Nusakambangan inilah bunga Wijayakusuma tumbuh.

Kisah kesaktian bunga Wijayakusuma sendiri tercatat dalam Babad Tanah Jawa. Tidak hanya raja-raja Mataram yang wajib mendapatkan pusaka itu agar singgasananya langgeng. Namun sebelumnya, keturunan Majapahit pun mencari bunga ini. Keberadaan bunga Wijayakusuma, kecuali di lokasi terpencil dan terjal, juga dijaga pasukan gaib yang bermarkas di Jambe Pitu dan Jambe Lima.

Itulah sebabnya, tidak sembarang orang bisa ke sana, apalagi mendapatkan bunga itu. Hanya orang-orang tertentu dan memiliki kelebihan khusus yang bisa mendapatkannya. Pada jaman raja-raja Mataram dulu, untuk bisa memperoleh bunga Wijayakusuma ini harus memenuhi beberapa persyaratan.

Konon, Jaman dahulu kala di daerah Jawa Timur (Kediri) ada MahaRaja yang menyandang gelar Prabu Aji Pramosa. Raja tersebut memiliki watak keras, beliau pantang tunduk kepada siapapun. Raja tersebut tidak suka setiap ada orang di negaranya yang kelihatan menonjol atau mempunyai pengaruh. Petugas sandi (intel) Kerajaan disebarkan di setiap penjuru kerajaan dan akhirnya ada laporan bahwa di dalam kerajaan tersebut ada “Resi” yang sudah terkenal karena kesaktiannya. Resi tersebut bernama Resi Kano, yang bergelar “Kyai jamur”.

Kesaktian Kyai Jamur akhirnya terdengar di telinga Raja. Raja Prabu Aji Pramosa sangat bingung jika hendak menangkap rakyat yang tidak punya salah itu harus ada buktinya. Akhire raja mengundang Patih Hulubalang, Senapati  dan pejabat utama kerajaan tujuannya mencari cara untuk mengatasi Resi sakti tersebut. Setelah mendapat saran dari pajabat kerajaan, raja langsung memutuskan : Untuk  menjaga keselamatan kerajaan dan raja, Kyai Jamur harus diusir dari kerajaan atau dibunuh sekalian, seperti itulah titah sang raja.

Berita rencana raja tersebut cepat tersebar, akhirnya juga terdengar oleh Kyai Jamur. Beliau memutuskan sebelum utusan kerajaan tiba, beliau harus mendahului meninggalkan negeri itu.
Pusaka Wijayakusuma

Mendengar bahwa Kyai Jamur sudah tidak ada di tempatnya, sang Aji Pramosa tambah jengkel, Raja terus memberikan perintah kepada “punggawa” kerajaan agar mengejar dan menangkap Kyai Jamur, Resi harus dipenjara. Sebagai alasan Raja, Resi dianggap salah karena pergi tanpa izin kepada raja. Sang Resi berjalan terus sepanjang pantai laut selatan yang akhirnya sampai pada tempat yang bernama Cilacap, Resi merasa bahwa  Cilacap sepertinya daerah yang aman sebagai persembunyian dari pengawasannya Raja.

Raja tidak pernah berhenti mencari dan mengejar Sang Resi pokoknya harus tertangkap. Sesudah dicari kemana-mana akhirnya Raja menemukan persembunyian Resi. Aji Pramosa dan pasukannya sampai ketika waktu  Resi bertapa, mengetahui Resi sedang bertapa tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Sang Resi langsung di tangkap terus dibunuh. Tapi karena Sang Resi adalah orang sakti mandraguna jasadnya menghilang (moksa, .Jawa). Raja menjadi heran bercampur ketakutan. Belum hilang ketakutannya, Raja dibuat kaget lagi dengan adanya suara gemuruh angin rebut di tengah laut.

Aji Pramosa berusaha tetap tenang menghadapi berbagai peristiwa yang mengerikan itu. Suara gemuruh dan anginpun reda, namun pada saat yang sama datanglah seekor naga besar mendesis-desis seolah-olah hendak melahap Aji Pramosa. Gelombang laut menjadi besar bergulung-gulung, hingga banyak penyu (kura-kura) menepi ke tepi pantai. Pantai itu dikemudian hari disebut Pantai Telur Penyu. Dengan sigapnya sang Aji Pramosa segera melepaskan anak panahnya, ternyata tepat mengenai sasaran, perut nagapun robek terkena panah dan naga hilang tergulung ombak.

Rupanya naga tadi jelmaan dari seorang putri cantik yang muncul dengan tiba-tiba sambil berlarian di atas gulungan ombak dari arah timur pulau Nusakambangan. Sang putri ayu menghampiri Aji Pramosa sembari mengucapkan terima kasih karena berkat panahnya ia bisa menjelma kembali menjadi manusia. Sebagai rasa terima kasih, putri cantik tadi menghaturkan bunga Wijayakusuma kepada sang Aji Pramosa. Sang putri mengatakan “Kembang Wijayakusuma tidak mungkin bisa diperoleh dari alam biasa, barang siapa memiliki kembang itu bakal menurunkan raja-raja yang berkuasa di tanah Jawa”.

Selanjutnya putri cantik memperkenalkan diri, namanya Dewi Wasowati. la berpesan, kelak pulau ini akan bernama Nusa Kembangan. Nusa artinya pulau dan Kembangan artinya bunga. Seiring pergantian jaman, nama Nusa Kembangan akhirnya berubah menjadi Nusakambangan. Prabu Aji Pramosa sangat girang hatinya menerima hadiah kembang itu, kemudian dengan tergesa-gesa ia mengayuh dayungnya untuk kembali menuju daratan Cilacap, tetapi karena terlalu gugup dan kurang hati-hati, kembang itu jatuh ke laut dan hilang tergulung ombak, dengan sangat menyesal sang Aji Pramosa pulang tanpa membawa kembang.

Pulau Majeti
Beberapa lama setelah sang Prabu berada di kerajaan, terbetik berita bahwa di pulau karang dekat Nusakambangan tumbuh sebuah pohon aneh dan ajaib, beliau pun ingin menyaksikan pohon aneh yang tidak berbuah itu dan ternyata benar bahwa pohon itu tidak lain adalah Cangkok Wijaya Kusuma yang ia terima dari Dewi Wasowati. Melihat pohon itu, sang Aji Pramosa teringat akan kata-kata Dewi Wasowati bahwa siapa yang memperoleh kembang Wijayakusuma akan menurunkan raja-raja di tanah Jawa.
Peristiwa terjadinya kembang Wijaykusuma pada jaman Prabu Aji Pramosa dari Kediri itu setelah bertahun-tahun menimbulkan kepercayaan bagi raja-raja di Surakarta dan Yogyakarta. Menurut cerita, setiap ada penobatan raja baik Susuhunan Surakarta maupun Kesultanan di Yogyakarta mengirim utusan 40 orang ke Nusakambangan untuk memetik kembang Wijayakusuma.

Sebelum melakukan tugas pemetikan, para utusan itu melakukan ziarah ke makam-makam tokoh leluhur di sekitar Nusakambangan seperti pasarehan Adipati Banjaransari di Karangsuci, Adipati Wiling di Donan, Adipati Purbasari di Dhaunlumbung, Kyai Singalodra di Kebon Baru dan Panembahan Tlecer di Nusakambangan. Tempat lain yang juga diziarahi yaitu pasarehan Kyai Ageng Wanakusuma di Gilirangan dan Kyai Khasan Besari di Gumelem (Banjarnegara).

Selain ziarah atau nyekar, mereka melakukan tahlilan dan sedekah kepada fakir miskin. Malam berikutnya “nepi” (bermalam) di Masjid Sela. Masjid Sela adalah sebuah gua di pulau Nusakambangan yang menyerupai Masjid. Pemetikan kembang Wijayakusuma juga dilakukan pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono XI, yaitu saat Sunan Pakubuwono XI baru “jumenengan” (dinobatkan sebagai raja).

Bahkan adat leluhur ini konon sudah dilakukan jauh sebelum itu. Menurut Babad Tanah Jawi, Adipati Anom, Sunan Amangkurat II pernah mengirim utusan untuk memetik kembang Wijayakusuma, yaitu setelah ia rnenobatkan dirinya sebagai raja Mataram menggantikan ayahandanya. Menurut seorang sejarawan Belanda H.J. de Graaf, peristiwa jumenengan tersebut dilaksanakan di Ajibarang pada tanggal 7 Juli 1677 dalam perjalanannya ke Batavia saat dikejar Trunojoyo.

Menurut keterangan, cara memetik bunga Wijayakusuma tidak dengan tangan tetapi dengan cara gaib melalui semadi. Sebelumnya para utusan raja melakukan upacara “melabuh" (sedekah laut) di tengah laut dekat pulau Karang Bandung. Sebelum dipetik, pohon itu dibalut terlebih dahulu dengan cinde sampai ke atas. Dengan berpakaian serba putih utusan itu bersemadi di bawahnya, jika memang semedinya terkabul, kembang Wijayakusuma akan mekar dan mengeluarkan bau harum.

Larung Sesaji di Pulau Majeti
Kemudian bunga itu jatuh dengan sendirinya ke dalam kendaga yang sudah dipersiapkan. Selanjutnya kembang tersebut dibawa para utusan ke Kraton untuk dihaturkan ke Sri Susuhunan / Sri Sultan. Penyerahan itu pun dilakukan dengan upacara tertentu, konon kembang itu dibuat sebagai rujak dan disantap raja yang hendak dinobatkan, dengan  demikian raja dianggap syah dan dapat mewariskan tahta kerajaan kepada anak cucu serta keturunannya.

Mitos tentang kembang Wijayakusuma ini sangat berpengaruh pada kehidupan nelayan di pantai selatan. Ada sejenis ikan yang mereka keramatkan yaitu ikan Dawah (dawah artinya jatuh). Ikan ini dianggap jelmaan dari daun pohon Wijayakusuma yang berjatuhan di laut. Para nelayan itu sangat berpantang memakan ikan Dawah, mereka takut mendapat bencana atau malapetaka. Umumnya mereka menolak rezeki Tuhan yang satu ini padahal dagingnya empuk dan rasanya lezat. Pengaruh Mitos ini juga melahirkan upacara budaya sedekah laut yang dilaksanakan setiap bulan Sura, mereka melarung rezekinya ke laut pantai selatan.   


MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend
(Ki Cokro ST)

Kamis, 02 Februari 2017

“Ajian Pedhot Sih” Pemutus Hubungan Cinta Terlarang/ Perselingkuhan

Dewasa ini banyak kaum ahli metafisika/pakar Supranatural yang menyediakan jasa keparanormalan atau kegaiban, kini tak sulit untuk mendapatkan apa yang namanya Ilmu Pelet, pengeretan, gemdham sukma dll. Gunanya tentunya kita sudah tahu, untuk memikat lawan jenis.

Pelet memelet sudah ada sejak zaman dahulu, mantra-aji atau tatacaranya pun beraneka ragam. Karena khasiatnya yang hebat, orang yang kena sawab ilmu ini bisa menjadi linglung dan merasakan kasmaran atau rindu yang dasyat. Jika tidak ditemui/dikawini oleh orang yang memelet, maka yang bersangkutan (obyek/ sasaran) bisa mabuk kepayang, linglung, bahkan bisa jadi lupa ingatan, stress atau bahkan bisa menjadi gila.


Tapi kalau dahulu yang namanya pelet  hanya diajarkan atau diwariskan kepada orang yang sudah membulatkan tekadnya mencari pasangan untuk berumah tangga. Namun dizaman sekarang seiring gampangnya mendapatkan ilmu tersebut, pikiran orang pun jadi suka menggampangkan pula, termasuk resiko/akibatnya. Kini banyak anak muda yang membekali dirinya dengan ilmu pelet untuk menundukkan lawan jenis yang diinginkannya hanya untuk sekedar main-main, hanya untuk menuruti hawa nafsunya semata.

Coba bayangkan jika saudara, putra-putri atau bahkan suami/istri Anda terkena pengaruh ilmu pellet yang disalahgunakan ini. Rumah tangga bisa hancur karena ulah pihak ketiga. Ketika usaha atau iktiar secara lahiriah dan rasional mengalami kebuntuhan untuk memutuskan tali kasih yang tidak wajar tersebut, maka dalam khasanah ilmu spiritual terdapat cara alternative dengan ilmu yang bernama, “Mantra  Ajian Pedhot Sih”

Mantranya sbb:
Bismillahirohmaanirohim,
Tiada masa lalu yang diingat saya,
Hanyalah kebencian yang terlukiskan di dalam fikirannya si jabang bayine (…….dengan fikirannya si jabang bayine……),
Wolak-walik ing jantung,
Atine, detik ini, jam ini, bulan ini, tahun ini, thotok kerot menghantuimu,
Sehingga Allah Swt memutuskan hubungan percintaan terlarangmu,
Kakang kawah adhi ari-ari menutup jalan cintamu,
Putus tanpa sebab atau dengan sebab, karena Allah (baca 113 kali).
https://www.youtube.com/watch?v=KhHB9mTGQ3E&feature=youtu.be
Lalu lanjutkan membaca Qs Al Fill:
 Bismillahirohmaanirohim,
Alam Taro Kaifa Fa’ala,
Robbuka Bi’ash’Habil Fil,
Alam yaj’al Kaidanahum Fi Tadh’lil,
Wa Arsala ‘Alaihim Thoiron Ababil,
Tarmihim Bi’hijaratim Ming Sijjil,
Fa Ja’alahum Ka’as Fim Ma’kul.
( saat “Tarmihim” di ulang 7 kali), baru diteruskan “Bihijarotim min sijjil faja’alahum ka’asfim ma’kul (113 kali).

Syaratnya: Puasa 3 hari
Ritualnya:

Apabila mengetahui weton yang dituju sebaiknya puasa dimulai pada wetonnya si obyek/ yang dituju. Siapkan fotho atau pakaian yang dituju, bacalah mantra di atas setiap tengah malam selama menjalankan puasa.

Setelah selesai membaca mantra “kibas-kibaskan” pakaian yang dituju atau tiuplah fotho sebanyak 7 kali. Insyaallah bila kita menata niat baik, iklhas, khusuk dan istiqomah/rutin dalam menjalankannya, niscaya dalam waktu yang tidak terlalu lama, hubungan perselingkuhan atau hubungan gelap tersebut akan porak poranda, berakhir atau putus. Dan segera sadar kembali kepada suami/istrui/kekasih yang syah. Kembali menyayangi, mencintai keluarga dengan seutuh cintanya.

Syakinah, mawaddah, warahmah atas Ridho Allah Swt. Aaminn…
Bagi yang ingin menguasahi ilmu ini, atau ingin meminta bantuan untuk memutuskan suatu hubungan terlarang, silahkan hubungi Ki Cokro ST di No. HP: 08159852189



MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend
(Ki Cokro ST)


Gugon Tuhon Pantangan Ibu Hamil


Percaya  atau tidak, hingga kini, masyarakat pendukung kebudayaan Jawa masih memegang teguh hal-hal mitos tertentu, seperti pantangan untuk ibu hamil. Memang sejatinya hal-hal yang merupakan pantangan ini untuk beberapa kasus terlihat logis, namun pada beberapa kasus lainnya terlihat tak mampu dijangkau nalar.
Pantangan-pantangan tersebut antara lain,
Pantangan melipat bungkus makanan. Konon, ketika seorang ibu alpa dengan melipat bungkus makanan, si jabang bayi nanti terlahir dengan kondisi terbungkus ari-ari (plasenta).

Pantangan memakan udang dan kepiting. Selain karena kedua seafood ini mengandung merkuri yang bisa berdampak pada cacatnya si jabang bayi, menurut kepercayaan nenek moyang, ibu hamil yang mengonsumsi udang dan kepiting akan melahirkan anak yang berbadan bungkuk.

Pantangan duduk terlalu lama. Konon, ibu hamil yang duduk terlalu lama akan mengalami kesulitan dalam proses persalinan.

Pantangan memakan telur. Sebenarnya telur mengandung banyak protein hewani yang baik untuk pertumbuhan sel-sel baru. Namun masyarakat penghayat kebudayaan Jawa melarang ibu hamil memakan telur sebab akan membuat janin terus bergerak dan menggelisahkan sang ibu.

Suami Dilarang Membunuh Hewan Apapun Selama Istri Hamil. Larangan ini sepertinya sudah mengakar sekali di kalangan masyarakat. Konon, ketika suami alpa dan membunuh hewan secara semena-mena, anak yang terlahir nanti akan mengalami cacat atau berrupa sama seperti hewan yang dibunuh.

Pantangan Duduk di Tengah-Tengah Pintu. Selain dilarang untuk duduk terlalu lama, ibu hamil dilarang untuk duduk di tengah-tengah pintu. Mereka percaya duduk di tengah pintu akan membuat proses persalinan akan berjalan sulit karena bayinya akan berhenti keluar ketika sudah keluar setengah.

Pantangan Mandi Larut Malam. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, si jabang bayi dari ibu hamil yang mandi larut malam akan menyusut atau bisa lahir secara prematur.

Pantangan Mengikatkan Handuk di Leher. Ibu hamil yang mengikatkan handuk di leher konon menyebabkan si jabang bayi terikat oleh tali pusar sehingga menyulitkan proses persalinan.

Pantangan Memaki dan Mengumpat Orang. Tentu saja ibu yang tengah mengandung harus menjaga sikap dengan tidak memaki atau menggunjing orang lain meskipun dia dalam kondisi semarah apapun. Ditakutkan, orang yang dimaki atau digunjingkan akan memberikan doa buruk pada kehamilan ibu tersebut.

Pantangan Makan Pisang Dempet. Konon ibu hamil yang mengonsumsi pisang dempet (pisang siam) dan buah siam lainnya dipercaya dapat membuat ibu hamil mengandung anak yang kembar siam.

Pantangan Menutup Lubang dan Menjahit Baju. Gugon tuhon yang berkembang, ibu hamil yang menjahit baju atau menutup lubang akan menyebabkan bagian dari tubuh bayi yang berlubang seperti (maaf) anus menjadi tersumbat. Atau kebalikannya, akan ada bagian tubuh bayi yang berlubang.

Beberapa pantangan yang beraroma mitos itu mungkin sebagian dari banyak mitos yang berkembang di wilayah lain di Jawa Tengah. Namun satu yang pasti, seorang ibu hamil dan suaminya, harus benar-benar menjaga sikap dan perilaku hingga sang bayi hadir di dunia. Prinsip Jawa menuturkan, sapa nandur bakal ngundhuh. Siapa menabur, dialah yang menuai. Terlepas dari mitos yang ada, akan senantiasa mulia jika selalu eling dan waspada.
 


MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend
(Ki Cokro ST)

Gendham Asmaradhana, Ilmu Pelet Paling Ampuh

Silang pendapat tentang kapan dan siapa yang mula pertama menggunakan nada atau ritme dari kidungan asmaradhana sebagai gendham asmara atau pelet, tak ada yang mampu menjawabnya dengan pasti. Ada yang menyatakan sebagai karya Sunan Kalijaga, tetapi banyak pula yang menepisnya. 

Terlepas dari silang pendapat tersebut di atas, menurut tutur yang berkembang di tengah – tengah masyarakat, pada mulanya, hanya yang menguasahi ilmu batin tingkat tinggi saja yang mampu menggunakan ilmu yang satu ini.

Hal tersebut akan tampak dengan jelas jika kita mau merunut ke belakang sejenak, khususnya dalam gerakan ilmu silat. Pada zaman itu, suatu pelontaran tenaga dalam lewat jurus –jurus pamungkas yang dilakukan oleh seorang pendekar pilih tanding banyak yang diilhami oleh bentuk aksara, baik aksara Jawa maupun huruf Hijaiyah. Dengan hanya mencoret – coret atau menuliskan sesuatu di udara kosong tetapi, hasilnya benar –benar luar biasa. Keadaan sekeliling bisa porak poranda, bahkan, lawan bisa tewas dan pepohonan bertumbangan tak tentu arah akibat terkena terjangan tenaga dalam yang keluar dari jari telunjuk sang pendekar.

Ini Merupakan bukti betapa tata nafas yang sempurna, mantra yang ampuh, ditambah dengan penyatuan cipta, rasa dan karsa yang mumpuni, maka seseorang akan mampu menggulung jagad trigati yang ada dalam tubuhnya sehingga menghasilkan kekuatan yang luar biasa dasyatnya.
I
nilah kemampuan tiwikrama dari seseorang. Waktu terus berlalu, seiring dengan perkembangan zaman, maka, kian terasa betapa budaya spiritual yang diwariskan oleh para nenek moyang ternyata masih sangat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan umat manusia. Terutama bagi yang benar – benar mau menjalankan olah batin yang sesuai dengn apa yang telah ditetapkan, sebab, apabila tidak dijalankan dengan seksamna, segala sesuatu yang bersifat gaib akan sia – sia belaka. Dengan kata lain dapat dikatakan, semakin seseorang mampu mendekatkan diri pada Sang Maha Hidup, yakni senantiasa selalu melakukan gerakan dan kegiatan oleh batin yang sempurna, maka, ilmu yang dikuasahinya akan menjadi semakin sempurna karena ijabahNya.

Selaras debngan keterangan tersebut di atas, setelah menjalankan tata laku dan membaca mantranya dengan sempurna ditambah mampu membayangkan wanita yang dituju, tanpa bergerak sama sekali, maka, seseorang akan mampu melontarkan kekuatan Gendham Asmaradhana seiring dengan tertiupnya pawana (angin) untuk menggugah perasaan dan hati wanita yang dituju. Hasilnya pun benar – benar luar biasa, dalam waktu singkat, si wanita pun akan langsung datang bersimpuh dan menghiba untuk mengharapkan balasan cintanya.
Itulah sebabnya, kenapa ilmu Gendham Asmaradhana ini tidak boleh untuk main – main, hanya diturunkan kepada murid – murid kinasih saja.

Warta berkisah, sejak zaman Mataram, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, boleh dikata, Kidung Asmaradhana sudah amat popular di tengh - tengah masyarakat. Tak ada yang bisa memungkiri, kepopuleran tembang yang berisi mantra atau pitutur luhur (petunjuk hidup yang baik dan benar) sejajar dengan Kidung Megatruh, Kinanti dan Mijil yang acap dilantunkan dalam keseharian. Mulai dari pagelaran kesenian wayang kulit, sampai dengan menunggu kelahiran sang jabang bayi.

Lantaran mengandung makna sebagai cinta yang selalu menyala-nyala dan gairah yang tak terpadamkan, maka, bukan tak mungkin Kidung Asmaradhana menghilhami para guru spiritual untuk mengubah syair dan menjadikan kidungan yang satu ini sebagai upaya menjerat cinta lawan jenisnya. Perlahan tapi pasti, akhirnya Kidung Asmaradhana pun menjadi suatu ajian yang banyak digunakan oleh para pembesar di zaman dahulu untuk mengumpulkan selir-selirnya. 

Ya…saat itu, semakin banyak mengumpulkan selir, maka, seseorang akan semakin meningkat pula status sosialnya. Apalagi, dalam hidup dan kehidupan manusia jawa, seseorang lelaki baru akan dikatakan lengkap bila dirinya telah memiliki wisma (rumah), turonggo (kuda, artinya kendaraan), kukilo (peliharaan), curigo (senjata), dan garwo (istri).

Secara umum, ilmu pellet Gendham Asmaradhana ini memiliki tiga tingkatan yang satu sama yang lain berbeda kekuatannya. Dimulai dari tingkat dasar, madya dan terakhir sempurna yang sudah barang tentu tingkatan tersebut baru bisa dicapai bila seseorang telah mampu menjalankan ritualnya secara utuh, tidak terpotong-potong minimal 7 hari dan maksimal 41 hari.

Di dalam khazanah ilmu pellet yang ada di Tanah Jawa, mengamalan dan ritual yang harus dilakukan oleh seseorang untuk menguasahi ilmu pelet tingkat tinggi ini adalah dengan cara, menggabungkan antara Ilmu Jawa dengan Islam Persia, tegasnya, penggabungan antara mantra Gendam Asmaradhana dengan ilmu Lil mahabbah Jauzun, suatu ilmu yang diyakini dapat digunakan untuk menjaga hubungan antara suami istri agar tidak terjadi perselingkuhan diantara keduanya.

Sedang Obyek yang digunakan adalah pengerahan Khodam Wifik (yang terjelma dari Khodam penghuni ayat-ayat suci Alqur’an yang dituliskan kedalam rajah) dan aurat ( bala tentara malaikat Handayas).

Agar supaya pembaca sekalian tidak penasaran, dengan segala kerendahan hati, sekali ini penulis akan mewedarkan tata cara sekaligus mantra yang harus diamalkan oleh seseorang yang berminat untuk menguasahi ilmu pellet Gendam Asmaradhana. Saat menjalankan puasa mutih selama 7 hari 7 malam dan ngebleng sehari semalam, tiap tengah malam si pelaku wajib membaca mantra yang tersebut dibawah ini, sebanyak 99 kali sambil membayangkan wajah wanita yang dituju.

Adapun mantranya adalah sebagai berikut::
https://www.youtube.com/watch?v=KhHB9mTGQ3E&feature=youtu.be

Shalallahu’alaihi wassalam,
Ingsun niat mateg ajiku-aji Asmaradhana,
Aji saka cakrakembang,
Kagungane Hyang Kamajaya lan Dewi Ratih,
Kang kedadeyan saka kama loro,
Kama abang lan kama putih,
Nyawiji, tunggal ati tunggal karep,
Teka kedhep, teka lerep, teka welas, teka asih, jabang bayine….(sebut nama yang dituju) karo Ingsun pribadi.
Asih tan kena pisah ing salawase saka kersaning Allah SWT,
Lailahailallah Muhammadarasululah.


Perhatian!!!!! Bagi siapa saja yang hendak melakoni/mengamalkan ilmu ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mengingat saat datangnya Khodam ilmu ini sangatlah dasyat powernya….maka disarankan untuk meminta restu kepada yang menguasahi. Atau bagi yang ingin mendapatkannya tanpa memalui proses lelaku, puasa dll, bisa langsung menghubungi Ki Cokro ST untuk di ijazahkan (teleportasi energy/ilmu Gendham Asmaradhana). Contac Person 08159852189



MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend

Atraksi Ilmu Rawa Rontek/Kebal Pagar Nusa (Ki Cokro ST)


https://www.youtube.com/watch?v=vdVyBhadYB8

Sejarah Pagar Nusa (Ki Cokro ST)