Rabu, 22 Februari 2017

Kawruh Seks Raja-Raja Jawa

Ilmu atau kawruh tentang seks memang selalu manarik perhatian. Bahkan lebih menarik dari cuwitan galau yang akhir-akhir ini ini memenuhi pemberitaan media. Namun kita harus akui, sebagai masyarakat dengan adat ketimuran, seks adalah hal yang tabu untuk diperbincangkan. Ya, kesan wagu (tabu) memang melekat dengan kata seks ini.

Kita terkadang gamang untuk berbicara tentang seks, apalagi sampai menulisnya secara lugas, gamblang dan terbuka. Kita khawatir dituding tak tahu diri, atau sengaja menyebarluaskan pemahaman tentang seks, yang oleh sebagian masyarakat dipandang sebagai sesuatu yang tabu. 

Dalam banyak literasi, pengertian seks jika dibatasi alat kelamin semata, tentu sangat dangkal. Karena hal ini menafikan kenyataan-kenyataan fisiologis sebagaimana ditelanjangi dalam buku-buku ilmiah kedokteran. Pun sebaliknya, jika hanya diartikan sebagai persetubuhan saja, tentu juga naif, karena akan mengesampingkan realita cumbu rayu, ransangan-ragsangan pada daerah erotis, mantra-mantra seksual dan cinta kasih.
  
Serat Centhini bisa jadi adalah satu-satunya manuskrip kuno karya asli orang Indonesia yang secara gamblang menguraikan tentang berbagai aspek dan dimensi seks. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Serat Centhini adalah manuskrip Kamasutra versi Jawa. Manuskrip ini mulai ditulis pada Januari 1814 oleh tim pengarang Keraton Surakarta yang terdiri dari Adipati Anom Amengkunegara atau Paku Buwana V, Ki Ngabehi Rangga Sutrasna, Ki Ngabehi Yasadipura II dan Ki Ngabehi Sastradipura, pada masa pemerintahan Paku Buwana IV (1788-1820).

Ya,tidak berlebihan kiranya jika kita membincang perilaku sosial dan budaya Jawa, khususnya urusan seks, sepertinya tidak lengkap bila tidak menyimak Serat Centhini terlebih dulu. Di jamannya, Serat Centhini termasuk dalam karya tulisan yang berani dan mengungkap persoalan secara gamblang serta apa adanya. Menariknya lagi, penulis atau penggubahnya adalah seorang bangsawan.
Para pemikir atau intelektual Jawa di jamannya dulu memang sudah menanam keyakinan bahwa seks merupakan salah satu bagian dari budaya kehidupan manusia. Seks adalah sesuatu yang logis dan alamiah. Sejak dulu juga, para pemikir Jawa sudah memandang dan berpendapat bahwa seks atau seni bercinta sebagai bagian dari harmoni kehidupan manusia yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Karena itulah banyak para pemikir atau intelektual Jawa di masa lalu yang menulis 'beragam pengetahuan dan persoalan' tentang seks. Serat Centhini merupakan salah satu di antaranya. Kemudian pemberian pemahaman tentang seks juga terdapat di dalam Serat Gatoloco dan Serat Dharmogandhul.

Persoalan seks yang sangat pribadi pun diungkap secara terbuka, terang benderan jika kita meminjam bahasa politisi jaman sekarang, dan tanpa basa-basi di dalam Serat Centhini. Hebatnya lagi, persoalan seks yang diungkap tak sebatas yang ada pada kehidupan masyarakat kecil atau rakyat jelata, tapi juga yang terjadi di lingkungan istana atau para bangsawan di keraton Jawa.

https://www.youtube.com/watch?v=KhHB9mTGQ3E&feature=youtu.be
Dalam Serat Centhini masalah seksual menjadi tema sentral yang diungkap secara verbal tanpa tedeng aling aling, paradoksal dengan etika sosial Jawa yang dikenal puritan dan ortodoks. Masalah seks dibicarakan dalam berbagai versi dan kasus, seperti, menyangkut pengertian, sifat, kedudukan, fungsi, etika dan tata cara bermain seks, dan gaya persetubuhan.

Seks juga dibicarakan dalam banyak varian lainnya, misalnya, hubungan seks dengan perkawinan, seks dengan kesetiaan suami-istri, seks dengan pengobatan, seks dengan pemerkosaan, seks dengan pelampiasan hasrat-hasrat hedonis, seks dengan asal usul kehidupan dan ilmu kasunyatan.

Seks sebagai ekspresi pelampiasan hasrat-hasrat hedonis, dalam pandangan Jawa, berlaku agregrasi atau bentuk hubungan antara kecantikan perempuan dengan kewibawaan lelaki yang bersifat politis. Kecantikan juga dipandang sebagai lelangen, bahkan berlaku asumsi, jika raja semakin banyak memiliki istri yang cantik, maka semakin meningkatlah derajat kewibawaannya.

Hal ini juga tersurat dalam Serat Cemporet karya R. Ngabehi Ranggawarsita, pujangga keraton Surakarta pada masa pemerintahan Paku Buwana V hingga Paku Buwana IX, disebutkan bahwa bagi bangsawan luhur, perempuan merupakan lelangen (hiasan), tanpa memilih atau melihat-lihat dari mana asal usul silsilah keturunannya, asalkan perempuan itu memiliki kecantikan yang hebat, ia akan dapat menambah kawibawan (kewibawaan) lelaki.

Aspek penampilan luar (fisik) yang bersifat genital pada tubuh perempuan juga menjadi fokus perhatian yang lebih selain penampilan nonfisik. Hal seperti ini juga tampak pada budaya katuranggan yang sedemikian konkret mengapresiasi wacana ketubuhan.

Budaya katuranggan, misalnya, bisa ditemukan dalam tradisi gemblak pada kultur warok Ponoragan. Gemblak adalah lelaki yang berperilaku layaknya seorang wanita yang lemah gemulai (baca: transgender) dan menjadi patner sang warok dalam bercinta.

Adapun aspek nonfisik menjadi fokus perhatian, misalnya, dalam urusan memilih istri. Dalam pandangan Jawa, istri yang baik harus berwatak;

Sama, memiliki welas asih kepada sesama;

Beda, mampu memilah apa yang lebih penting yang hendak dilakukan;
Dana, suka memberi kesenangan kepada sesama;

Dhendha, mampu menilai yang baik dan buruk atas dasar empan-empan (tempat, keadaan, situasi, dan kondisi);

Guna, mengerti wewenang dan kewajiban terhadap seluruh kegiatan yang berhubungan dengan perempuan;

Busana, mengetahui dan menerapkan semua yang dimiliki sesuai maksud dan situasi;

Asana, bisa menata dan memelihara rumah agar tampak baik dan menyenangkan hati;

Sawandana, mampu menyelaraskan keinginan lahir dan batin, dalam meladeni suami seperti meladeni diri sendiri;

Saekapraya, mampu menyelaraskan keinginan diri sendiri dengan keinginan suaminya; dan
Sajiwa, memiliki kesetiaan kepada suami seperti kesetiaan kepada dirinya sendiri. Terminologi lain yang juga dipakai ialah bobot, bibit dan bebet.

Ajaran bercinta dalam pandangan Jawa meliputi;
Asmaranala atau sengseming nala, dua insan yang bercinta hendaknya dilandasi oleh cinta kasih yang tumbuh dalam hati;

Asmaratura atau sengseming pandulu, dua insan yang becinta hendaknya dilandasi oleh rasa saling ketertarikan kepada kecantikan dan ketampanan pasangannya;

Asmaraturida atau sengseming pamirengan, dua insan yang bercinta hendaknya larut dalam sendagurau mesra;

Asamaradana atau sengseming pocapan, bahwa syair, puisi dan kata-kata indah -pujian terhadap kekasihnya- hendaknya dilantunkan oleh sepasang kekasih untuk menumbuhkan cinta kasih agar semakin bergelora;

Asmaratantra atau sengseming pangarasan, bahwa ciuman merupakan mantik birahi yang dahsyat, karenanya sepasang kekasih yang bercinta hendaknya mempelajari teknik-teknik berciuman;

Asmaragama atau sengseming salulut, bahwa puncak dari karonsih (bercinta) adalah salulut, yaitu masuknya penis kedalam vagina, untuk itu perlu dipastikan kesiapan masing-masing agar mampu memberikan kenikmatan paripurna.

Dalam kitab klasik Jawa, unsur laki-laki dipandang sebagai upaya atau alat mencapai kebenaran yang agung. Sedang wanita merupakan prajna atau kemahiran yang membebaskan. Oleh karena itu persetubuhan dipahami sebagai bakti seorang istri kepada suaminya, dan merupakan kewajiban seorang suami terhadap istrinya.

Puncak ajaran serta penghayatan seks dalam tradisi Jawa, sebagaimana tersebut dalam Serat Centhini pupuh asmaradana, untuk mengetahui asal usul kamanusiaan dan tujuan kesempurnaan hidup manusia.

Hal yang sama juga terdapat dalam Serat Gatholoco, bahwa seks merupakan penyatuan antara dua oposisi yang sebenarnya adalah pasangan binernya, baik pasangan dalam mikrokosmos, makromosmos maupun metakosmos. Semua pasangan biner menyatu dalam satu kesatuan yang harmonis. Karenanya, yang laki-laki dan yang perempuan akhirnya harus melebur manjadi satu kesatuan. Inilah harmoni total.

Akhirnya, tidak bisa dipungkiri bahwa Serat Centhini adalah manuskrip Kamasutra versi Jawa, juga paling lengkap karena mengupas seks dari berbagai aspek dan dimesinya. Bahkan, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa Serat Centhini merupakan pelajaran seks dari Raja Jawa.  



MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend

Menyimak Kehebatan Tuah Keris Pusaka Tejo Kinurung

 
Keris Pusaka Tilam Tejo Kinurung
Pusaka keris bertuah Tejo Kinurung ini tak begitu terkenal didunia manusia, tetapi jika kita ditelusuri lewat dunia spiritual, keris bertuah ini sangat terkenal didunia astral.  Bahkan, konon,  banyak mahluk-mahluk halus yang ingin mendampingi keris pusaka tersebut 

kemanapun perginya. Keris ini memang asli warisan dari Kerajaan Kuno Padjajaran. Pembuatan  pusaka keris ampuh ini disinyalir sejak era Kerajaan Padjajaran, yakni, abad ke 13. Dengan adanya hal tersebut, pantaslah  apabila keris pusaka Tejo Kinurung  ini tidak begitu terkenal didunia manusia  karena usia pembuatannya yang terbilang cukup  lama atau kuno. 


Sementara menurut pemilik pusaka bertuah Tejo Kinurung, Gus Cokro ST, seorang tokoh spiritual Indonesia, menjelaskan bahwa, hal  mengenai sisi dunia gaib-nya, pusaka keris bertuah ini mempunyai kekuatan tingkat tinggi  dan jika digunakan akan memiliki pengaruh yang sangat ekstra cepat, kuat  dan singkat. “Pusaka keris Tejo Kinurung ini memiliki kekuatan  luar biasa karena memiliki pengaruhi oleh satu sosok mahluk gaib yang selalu mendampinginya setiap saat, yaitu mahluk yang berwujud seorang pria tua,” kata Gus Cokro ST menjelaskan perihal Pusaka Keris Tejo Kinurung ini.

Pusaka Keris Tejo Kinurung, memiliki ciri-ciri: Dapur/bentuk: Tilam Upih, Pamor/Lambang/Filosofi: Tejo Kinurung. Tangguh/Era Pembuatan//Estimasi: Kerajaan Pajajaran, tahun pembuatan abad 13. Bilah Pusaka: Lurus, panjang seluruh keris 40 Cm.
Keris Tilam Tejo Kinurung
Menurut Gus Cokro ST, Keris Pusaka Ampuh Tejo Kinurung beliau peroleh pada tahun 1999 . Pada saat itu ia sengaja  melakukan perjalanan spiritualnya, di petilasan Ciung Wanara. Menurutnya di tempat itulah Gus Cokro ST melakukan laku spiritual selama tiga hari tiga malam. Pada hari terakhir ritualnya itulah Gus Cokro ST mendapatkan pusaka Keris Tejo Kinurung. Keris Tejo Kinurung memiliki gaya Warangka Gayaman Surakarta, Kayu Timoho dan pusaka tersebut tergolong kuno atau sepuh.

Berdasarkan pendeteksian secara spiritual, Keris Pusaka yang saat ini berada di tangannya memiliki yoni/ tuah/manfaat: Memiliki tuah yang sangat baik untuk semua orang, terutama pegawai negeri, pejabat Negara atau mereka yang bekerja pada perusahaan bisa juga sebagai pemimpin orang banyak, juga tuah pusaka keris ini dapat menunjang karier pemiliknya untuk sebuah jabatan yang langgeng. Oleh sebab itu, banyak pejabat sekarang yang memiliki keris berpamor Tejo Kinurung.

Kini Keris Keris Tejo Kinurung menjadi koleksi pribadi Gus Cokro ST, dan siap dimaharkan kepada siosok pribadi yang cocok dan terpilih.

MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend
(Ki Cokro ST)

https://www.youtube.com/watch?v=KhHB9mTGQ3E&feature=youtu.be

Misteri Ilmu Leak

Leak merupakan suatu ilmu kuno yang diwariskan oleh leluhur Hindu di Bali. Pada zaman sekarang ini orang bertanya-tanya apa betul leak itu ada?, apa betul leak itu menyakiti? Secara umum leak itu tidak menyakiti, leak itu proses ilmu yang cukup bagus bagi yang berminat. Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri.

Tidak gampang mempelajari ilmu leak. Dibutuhkan kemampuan yang prima untuk mempelajari ilmu leak. Di masyarakat sering kali leak dicap menyakiti bahkan bisa membunuh manusia, padahal tidak seperti itu. Ilmu leak juga sama dengan ilmu yang lainnya yang terdapat dalam lontar-lontar kuno Bali. Dulu ilmu leak tidak sembarangan orang mempelajari, karena ilmu leak merupakan ilmu yang cukup rahasia sebagai pertahanan serangan dari musuh.

Orang Bali Kuno yang mempelajari ilmu ini adalah para petinggi-petinggi raja disertai dengan bawahannya. Tujuannya untuk sebagai ilmu pertahanan dari musuh terutama serangan dari luar.
Orang-orang yang mempelajari ilmu ini memilih tempat yang cukup rahasia, karena ilmu leak ini memang rahasia. Jadi tidak sembarangan orang yang mempelajari. Namun zaman telah berubah otomatis ilmu ini juga mengalami perubahan sesuai dengan zamannya. Namun esensinya sama dalam penerapan. Yang jelas ilmu leak tidak menyakiti.

Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa. Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak. Seperti yang dikatakan diatas leak itu memang ada sesuai dengan tingkatan ilmunya termasuk dengan endih leak. Endih leak ini biasanya muncul pada saat mereka lagi latihan atau lagi bercengkrama dengan leak lainnya baik sejenis maupun lawan jenis.

Munculnya endih itu pada saat malam hari khususnya tengah malam. Harinya pun hari tertentu tidak sembarangan orang menjalankan untuk melakukan ilmu tersebut. Mengapa ditempat angker? Ini sesuai dengan ilmu leak dimana orang yang mempelajari ilmu ini harus di tempat yang sepi, biasanya di kuburan atau di tempat sepi. Endih ini bisa berupa fisik atau jnananya (rohnya) sendiri, karena ilmu ini tidak bisa disamaratakan bagi yang mempelajarinya. Untuk yang baru-baru belajar, endih itu adalah lidahnya sendiri dengan menggunakan mantra atau dengan sarana.

Dalam menjalankan ilmu ini dibutuhkan sedikit upacara. Sedangkan yang melalui jnananya (rohnya), pelaku menggunakan sukma atau intisari jiwa ilmu leak. Sehingga kelihatan seperti endih leak, padahal ia diam di rumahnya. Yang berjalan hanya jiwa atau suksma sendiri. Bentuk endih leak ini beraneka ragam sesuai dengan tingkatannya. Ada seperti bola, kurungan ayam, tergantung pakem (etika yang dipakai). Ilmu ini juga memegang etika yang harus dipatuhi oleh penganutnya. Endih leak ini tidak sama dengan sinar penerangan lainnya, kalau endih leak ini biasanya tergantung dari yang melihatnya.

Kalau yang pernah melihatnya, endih berjalan sesuai dengan arah mata angin, endih ini kelap-kelip tidak seperti penerangan lainnya hanya diam. Warnanya pun berbeda, kalau endih leak itu melebihi dari satu warna dan endih itu berjalan sedangkan penerangan biasanya warna satu dan diam. Karena endih leak ini memiliki sifat gelombang elektromagnetik mempunyai daya magnet.
Ilmu leak tidak menyakiti.

Orang yang kebetulan melihatnya tidak perlu waswas. Bersikap sewajarnya saja. Kalau takut melihat, ucapkanlah nama nama Tuhan. Endih ini tidak menyebabkan panas. Dan endih tidak bisa dipakai untuk memasak karena sifatnya beda. Endih leak bersifat niskala, tidak bisa dijamah.

Pada dasarnya, ilmu leak adalah ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali tidak ada yang disebut leak. Yang ada adalah “liya, ak” yang berarti lima aksara (memasukan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu).

Lima aksara tersebut adalah Si, Wa, Ya, Na, Ma.
– Si adalah mencerminkan Tuhan
– Wa adalah anugrah
– Ya adalah jiwa
– Na adalah kekuatan yang menutupi kecerdasan
– Ma adalah egoisme yang membelenggu jiwa

Pada umumnya cahaya itu keluar lewat mata dan mulut. Sehingga apabila kita melihat orang di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar rambut orang tersebut. Pada prinsipnya, ilmu leak tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti seseorang. Yang dipelajari adalah bagaimana mendapatkan sensasi ketika bermeditasi dalam perenungan aksara tersebut.Kekuatan aksara ini disebut panca gni (lima api). Manusia yang mempelajari kerohanian apa saja, apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini keluar melalui lima pintu indria tubuh yakni telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan.
Ketika sensasi itu datang, maka orang itu bisa jalan-jalan keluar tubuhnya melalui ngelekas atau ngerogo sukmo. Kata ngelekas artinya kontaksi batin agar badan astra kita bisa keluar. Ini pula alasannya orang ngeleak. Apabila sedang mempersiapkan puja batinnya disebut angeregep pengelekasan. Sampai di sini roh kita bisa jalan-jalan dalam bentuk cahaya yang umum disebut endih.

Bola cahaya melesat dengan cepat. Endih ini adalah bagian dari badan astral manusia (badan ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu). Di sini pelaku bisa menikmati keindahan malam dalam dimensi batin yang lain. Jangan salah, dalam dunia pengeleakan ada kode etiknya. Sebab tidak semua orang bisa melihat endih. Juga tidak sembarangan berani keluar dari tubuh kasar kalau tidak ada kepentingan mendesak.

Peraturan yang lain juga ada seperti tidak boleh masuk atau dekat dengan orang mati. Orang ngeleak hanya shoping-nya di kuburan (pemuwunan). Apabila ada mayat baru, anggota leak wajib datang ke kuburan untuk memberikan doa agar rohnya mendapat tempat yang baik sesuai karmanya.


MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend
(Ki Cokro ST)

Kawruh Kejawen, Sastra Jendro Hayuningrat

Untuk sebagian masyarakat  yang belajar kawruh ilmu Kejawen, judul diatas tentu bukanlah hal yang asing lagi. Sastra Jendra Hayuningrat. Meskipun banyak yang sudah mendengar kata-kata tersebut, tetapi jarang ada yang mengetahui apa makna yang terkandung sebenarnya. Secara harfiah, arti Sastra Jendra Hayungrat adalah suatu ujung dari segala akhir ilmu atau pepuntoning laku, atau akhir dari penjelmaan hidup. Adapun menurut Wedatama, Sastra Jendra Hayuningrat merupakan ilmu Kasampurnaan atau Ilmu Luhur, yaitu suatu ilmu tentang esensi daripada wujud atau ilmu kalam dan disebut juga Ilmu Theologi. Sedangkan penjelasan paling sederhana dari R. Ng. Ronggo Warsito, Sastra Jendra Hayuningrat adalah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup. Apabila semua orang di dunia ini melakukannya, maka bumi akan sejahtera.

Nama lain dari Sastra Jendra Hayuningrat adalah sastra cetha yang berarti sastra tanpa papan dan tanpa tulis. Walaupun tanpa papan dan tulis, tetapi maknanya sangat terang dan bisa digunakan sebagai serat Paugeraning Gesang.


Ada 7 macam tahapan bertapa yang harus dilalui untuk mencapai hal itu.

1. Tapa Jasad: Tapa jasad adalah mengendalikan atau menghentikan gerak tubuh dan gerak fisik. Lakunya tidak dendam dan sakit hati. Semua yang terjadi pada diri kita diterima dengan legowo dan tabah.

2. Tapa Budhi: Tapa Budhi memiliki arti menghilangkan segala perbuatan diri yang hina, seperti halnya tidak jujur kepada orang lain.

3. Tapa Hawa Nafsu: Tapa Hawa Nafsu adalah mengendalikan nafsu atau sifat angkara murka yang muncul dari diri pribadi kita. Lakunya adalah senantiasa sabar dan berusaha mensucikan diri,mudah memberi maaf dan taat pada Gusti Allah Kang Moho Suci.

4. Tapa Cipta: Tapa Cipta berarti Cipta/otak kita diam dan memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh atau dalam bahasa Jawanya ngesti surasaning raos ati. Berusaha untuk menuju heneng-meneng-khusyuk-tumakninah, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan siapapun dan selalu heningatau waspada agar senantiasa mampu memusatkan pikiran pada Gusti Allah semata.

5. Tapa Sukma: Dalam tahapan ini kita terfokus pada ketenangan jiwa. Lakunya adalah ikhlas dan memperluas rasa kedermawanan dengan senantiasa eling pada fakir miskin dan memberikan sedekah secara ikhlas tanpa pamrih.

6. Tapa Cahya: Ini merupakan tahapan tapa yang lebih dalam lagi. Prinsipnya tapa pada tataran ini adalah senantiasa eling, awas dan waspada sehingga kita akan menjadi orang yang waskitha (tahu apa yang bakal terjadi).

Tentu saja semua ilmu yang kita dapatkan itu bukan dari diri kita pribadi, melainkan dari Gusti Allah. Semua ilmu tersebut merupakan 'titipan', sama dengan nyawa kita yang sewaktu-waktu bisa diambil Gusti Allah sebagai Sang Pemilik dari segalanya. Jadi tidak seharusnya kita merasa sombong dengan ilmu yang sudah dititipkan Gusti Allah kepada kita.   



MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend
(Ki Cokro ST)

https://www.youtube.com/watch?v=KhHB9mTGQ3E&feature=youtu.be

Selasa, 21 Februari 2017

Kyai Panimbal, Keris Pusaka Hasil Prosesi Penarikan Ghaib di Pesisir Parangkusumo

Keris Pusaka Kyai Panimbal
Keris Sakti Nan Elegan serta Penuh Keindahan.Kyai Panimbal mempunyai Luk Sembiln dengan pamor Pulo Tirto. Konon, Keris Kyai Panimbal  ini adalah satu diantara senjata Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma ing Mataram, Keris Kyai Panimbal terbuat dari bilahan paku baja yang ditempa sepipih mungkin  serta dirajah  dengan pahatan yang fenamenal. Keris pusaka ini layak sebagai pusaka andalan dan sekaligus cocok sebagai koleksi pajangan sendiri, serta untuk kepentingan yang lain.

Menurut Pemiliknya yang akrab di panggil Gus Cokro ST, seorang tokoh spiritual Indonesia, Keris Kyai Panimbal yang dimilikinya tersebut adalah hasil jerih payahnya ketika ia melakukan olah batin di Pesisir Parangkusumo, Yogyakarta beberapa tahun yang lalu. Dengan melakukan prosesi penarikan pusaka yang ia inginkan, Kala itu, Gus Cokro ST melakukan upacara ritual sedemikian rupa, tujuannya adalah ingin menarik sebuah benda pusaka yang tersimpan sdi alam gaib di wilayah Parangkusumo yang konon dikuasahi oleh Ratu Pantai Selatan. Tentunya dalam prosesnya tidaklah mudah untuk melakukan penarikan benda pusaka ini, menurut Gus Cokro ST banyak aral melintang yang ia alami.

Tetapi berkat keuletan tekad serta landasan ilmu batin yang dia miliki, alhasil….Saat itu, pusaka yang ia inginkan muncul tepat hadapannya. Dengan sigap dan penuh kehati-hatian akhirnya pusaka keris dari alam gaib tersebut berhasil di dapatkannya. Kini Keris Kyai Panimbal yang ia miliki  menjadi koleksi pribadi Gus Cokro ST.

Di tanya tentang hal manfaat atau keampuhan keris Kyai Panimbal, Gus Cokro ST menyampaikan bahwa Keris Kyai Panimbal  buknlh senjata umum, tetapi sebuah senjata pusaka yang mempunyai tuah luar biasa.


“Pusaka Keris ini memiliki manfaat atau keampuhannya, yang tentu sangatlah luar biasa, lantaran keris ini adalah senjata pusaka raja. maka tuah yang dalam keris ini memiliki angsar untuk kewibawaan serta kesaktian”,kata
Gus Cokro ST. 
Berdasarkan pandangan dari  ilmu  spiritual yang dimilikinya, Gus Cokro ST menerangkan bahwa Keris Kyai Panimbal, Koleksinya tersebut memiliki, ciri, Jenis pusaka keris luk 9, Dapur: Panimbal. Pamor: Pulo Tirto, Tangguh: Mataraman Sultan Agung, Warangka: Gayaman. Panimbal: maknanya adalah pemanggil. Pamor Pulo: Laksana Sumber Air yang mengalir. Intinya pamor Pulo Tirto ini dipercaya bermanfaat untuk: Ketentraman dan keselamatan pemiliknya. Bisa juga dipergunakan untuk pegangan usaha, sehingga rejekinya mengalir deras, lancer bagaikan air yang mengalir tanpa putus. Bermanfaat juga untuk ketentraman hidup dan kekuatan batin dan berkah. Cukup wibawa dan disayang orang di sekelilingnya.

Keris Pusaka Kyai Panimbal ini sekarang menjadi koleksi pribadi Gus Cokro ST.  Siap dimaharkan kepada jiwa yang sesuai dan terpilih.



MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend
(Ki Cokro ST)

https://www.youtube.com/watch?v=KhHB9mTGQ3E&feature=youtu.be

Misteri Sumpah Prabu Brawijaya di Puncak Lawu

Gunung Lawu
Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan Magetan, Jawa Timur, menyimpan sejuta cerita. Gunung Lawu penuh sejarah yang sangat erat kaitannya dengan kerajaan terbesar di nusantara, Kerajaan Majapahit.  

Berdasarkan cerita di tengah masyarakat sekitar, gunung tertua di Pulau Jawa merupakan tempat Prabu Brawijaya mengasingkan diri. Raja Majapahit terakhir itu menjadikan Gunung Lawu sebagai area pertapaan di sisa hidupnya, dan didampingi oleh dua abdi dalem setianya yaitu Sabdo Palon dan Noyo Genggong.
Konon, Prabu Brawijaya memilih mengasingkan diri di gunung tersebut lantaran menghindari kejaran anaknya, Raden Patah. Prabu Brawijaya menghindari pertumpahan darah karena menolak mengikuti aliran kepercayaan yang dianut Raden Patah.
Argo Bumilah, Puncak Lawu
Beliau juga mendapat wangsit bahwa kejayaan Majapahit dengan kepercayaan Hindu akan pudar, dan diganti dengan kejayaan kerajaan baru yaitu Demak, yang dipimpin putranya, Raden Patah.
 Selain untuk menjauh dari kejaran putranya, Brawijaya juga menghindar dari pasukan Adipati Cepu yang memiliki dendam kesumat padanya. Terlebih lagi, saat itu Majapahit mulai runtuh, sehingga Adipati Cepu semakin berani menentang Brawijaya. 
Terus-terusan dikejar, ternyata memancing rasa sakit hati dan kekecewaan. Prabu Brawijaya pun mengucapkan sumpah yang isinya melarang seluruh keturunan Adipati Cepu maupun orang dari Cepu naik ke Gunung Lawu. Sampai saat ini, pendaki dari daerah tersebut tak berani ke Gunung Lawu, karena diyakini mereka yang melanggar akan mendapat celaka. 
Keberadaan Prabu Wijaya di Gunung Lawu ditandai dengan adanya batu nisan yang dipercaya sebagai petilasan. Penduduk sekitar menyebutnya Sunan Lawu. Tempat itupun dikeramatkan hingga kini.
Seorang spiritual Jawa sekaligus juru kunci Gunung Malang yang merupakan anak Gunung Lawu, Budiyanto, mengatakan, Lawu menjadi salah satu pusat budaya dan tempat sakral di Pulau Jawa.
 "Misalnya Candi Ceto, Candi Sukuh, juga petilasan Raden Brawijaya di puncak Lawu yakni cungkup (rumah kecil yang di tengah-tengahnya terdapat kuburan)," kata Budiyanto 
Menurutnya, Lawu merupakan gunung purba. Berdasar catatan sejarah, gunung tersebut pernah meletus dahsyat. Ini dibuktikan dengan adanya bebatuan berukuran besar yang bertebaran di wilayah sekitar kaki gunung.
"Contohnya batu yang ada di depan monumen Bu Tien di Desa Jaten. Ukurannya cukup besar dan dan sangat berat. Belum lagi yang berada di wilayah Matesih, Karangpandan, dan yang lainnya, " jelasnya
Gunung yang membelah dua provinsi itu, juga terkenal akan keragaman flora dan fauna yang sampai saat masih terjaga kelestariannya. Masyarakat setempat sangat takut merusak hutan sekitar Lawu, karena meyakini akan terkena tuah penjaga gunung.
"Jika kita menjaga alam, maka ia akan menjaga kita dengan baik," pungkasnya.


MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend
(Ki Cokro ST)

Kereta Singa Barong Simbol Tiga Budaya, Agama, dan Bangsa

Kereta Kencana Singa Barong
Kereta Singa Barong merupakan salah satu ikon budaya Cirebon yang menyimpan kebanggaan di balik pembuatannya. Kereta yang dibuat sejak abad ke-15 tersebut, menjadi kebanggaan lantaran karya asli penduduk Cirebon.
"Hampir semua kereta di keraton-keraton Indonesia itu buatan Eropa. Nah, Kereta Singa Barong ini dibuat oleh Panembahan Losari, cicit dari Sunan Gunung Jati. Sedangkan ahli ukirnya berasal dari Kaliwulu," jelas Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat.
Menurutnya, kereta ini sejatinya menggambarkan tiga makhluk, yakni Gajah, Burung (Paksi), dan Naga. Ia juga mengatakan, burung menggambarkan budaya Timur Tengah dalam hal ini agama Islam. Sementara gajah menggambarkan India atau agama Hindu. Sedangkan Naga menggambarkan Tiongkok atau Budha.
Sehingga menurutnya, kereta ini menggambarkan tiga budaya dari tiga agama dan bangsa yang berbeda. Konon, kata dia, lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, salah satunya mengambil nilai kearifan lokal dari gambaran Kereta Singa Barong tersebut.

"Secara khusus, kereta ini menggambarkan bagaimana bentuk masyarakat Cirebon yang berasal dari beragam bangsa dan agama. Macam-macam budaya itu muncul sebagai efek dari perdagangan luar negeri yang pernah berlangsung di Cirebon dulu," katanya.




MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend